Minggu, 23 Januari 2022

Aliran Rasa: Tahap Telur

 Empat pekan menjalani perkulian Bunda Cekatan. Merenungi kembali misi hidup, apa yang fokus dipelajari, dan apa yang akan dikerjakan. Semuanya dimulai dari apa yang suka dan bisa. Karena dari aktivitas itulah kita akan berbinar dalam mengerjakan sesuatu, yang akan menjadi sumber kekuatan keltika akhirnya melarutkan aktivitas tersbeut dalam keseharian.

Sebagai ibu yang juga bekerja di ranah publik, saya sempat merasakan galau pada aktivitas apa yang fokus saya jalani. Di satu sisi, saya ingin menjalani peran sebagai istri dan ibu. tetapi di sisi lain, saya tidak bisa mengesampingkan kenyataan bahwa saya pun harus profesional dan memberdayakan diri di tempat kerja.

Awal menikah dan meiliki anak, saya 'mengesampingkan' aktivitas saya sebagai ibu pekerja. Bagi saya, kewajiban sebagai ibu pekerja hanya sebatas di jam kantor. Selebihnya,w aktu saya adalah untuk keluarga. Ada perasaan bersalah ketika saya terlalu sibuk bekerja sehingga 'mengabaikan' keluarga. Konon kata suami ketika saya fokus dengan pekerjaan kantor, seringnya di rumah saya lebih sering uring-uringan dan abai terhadap anak. Ini jadi poin protes suami sehingga saya sempat berpikir untuk resign saja. Tapi sejujurnya ketika membayangkan jadi ibu rumah tangga seutuhnya, saya hanya bahagia di mulut. Tidak di hati, karena saat itu saya hanya merasa bersalah ketika meninggalkan anak bekerja. Dengan tidak bekerja, perasaan bersalah saya akan berkurang, tetapi barangkali saya juga tidak akan happy. Sejatinya, saya merasa butuh eksistensi diri, saya merasa dengan bekerja di ranah publik saya masih bisa bermanfaat. 

Awal bergabung dengan Ibu Profesional di tahap matrikulasi, perasaan-perasaan semacam itu belum mampu saya capture. Saya masih membohongi diri sendiri dan berkata bahwa saya ingin fokus dengan keluarga dan 'mengabaikan' keinginan saya untuk fokus di ranah publik. Baru mulai sejak perkuliahan Bunda Sayang, saya mulai menyadari bahwa sebenernya tidak ada yang salah jika harus profesional juga di ranah publik. Sehingga sejak kuliah Bunda Sayang, tujuan yang ingin saya capai adalah menajdi profesional, baik di ranah domesti maupun di ranah publik.

Pada level Bunda Cekatan ini, telur hijau yang saya pilih justru aktivitas-aktivitas yang menunjang kegiatan saya di ranah publik. Apakah di tahap ini saya menyesal karena kemudia mengesampingkan keluarga? Jawabannya ternyata tidak, karena saya belajar bahwa ketika seorang ibu bahagia, maka akan memberikan energi positif bagi seluruh keluarga, yang tentunya seluruh keluarga juga bahagia. Dengan saya fokus dengan mimpi dan keinginan saya, saya merasa justru memiliki energi lebih banyak untuk keluarga. 

Tentang mimpi dan keinginan yang kemudian saya pilih, hal inipun nampaknya membutuhkan proses yang tidak sebentar sampai saya memutuskan mimpi ini, yaitu menjadi peneliti di bidang keuangan syariah. Perjalanan waktu membuat saya menyusun kembali keping-keping puzzle yang pernah ada. Dari awalnya, saya ingin berkarir menjadi dosen/pendidik hingga keingintahuan saya, dari sejak kuliah, tentang keuangan syariah. Kemudian qodarullah saya ditempatkan di instansi yang menangani Sukuk Negara (yang merupakan salah satu instrumen keuangan syariah). Saya merasa keping-keping puzzle ini, walaupun belum lengkap, tapi sudah mulai nampak gambarnya. 

Bukan proses yang singkat memang. Dan bisa dikata, saya cukup lama sampai harus menyadari kebahagiaan saya. Namun, tidak pernah ada kata terlambat. Tetaplah memakai kaca mata kuda, supaya fokus dengan apa yang dikerjakan. Jangan melihat pencapaian orang lain, tapi fokus pada pengembangan diri sendiri saja. Dan tentunya tetap harus bahagia karena kebahagiaan ini akan menjadi sumber kekutan menajlani seluruh aktivitas pada smeua peran yang dimiliki.


0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu disini ^^