Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Februari 2018

Saya dan Menjadi Saya yang Profesional

"Jadi apa yang mas harapkan dariku..? "
" mas pengennya kamu bahagia, bukan karena orang lain berubah, apalagi di kantor mu, tetapi karena kamu lebih strong, ikhlas, dan bisa menemukan kebahagiannmu sendiri"


Sepenggal percakapan via wa dengan mas yang sukses membuat saya langsung mewek. Saya berekpektasi bahwa dia mungkin akan menjawab: "aku pengen kamu masakin aku atau aku pengen kamu di rumah dandan ", atau apapunlah yang dia mau. Tidak, dia tidak egois meminta. Dia hanya ingin istrinya bahagia. Mewek lah saya..TT

Bukan tanpa sebab, ketika tiba-tiba saya menanyakan hal tersebut ke suami. Minggu ini adalah minggu kedua saya mengikuti matrikulasi Institut Ibu Profesional. Nice Home Work minggu ini adalah membuat indikator professional sebagai diri sendiri, istri, dan ibu. Indikator yang sekiranya kita bisa menjalaninya. Indikator ini dibuat dengan SMART, yaitu Specific( unik/detail)-Measurable (terukur)-Achievable (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)-Realistic (berhubungan kondisi sehari-hari)-TimeBond (terdapat batas waktu).

Sejujurnya waktu pertama kali baca tugas ini, saya pun mewek. Merasa jauuh diri ini dari kata profesional. bener-bener deh tugas kali ini banyak meweknya. Untuk menyelesaikan tugas ini, diperlukan komunikasi dengan pasangan dan anak supaya kita benar-benar  tau apa sih yang diharapkan pasangan atau anak terhadap kita.  Bagian paling sulit adalah menerjemahkan ekpektasi suami. Itulaah ketika ditanya, jawabannya seperti pada pembuka tulisan ini. Dan setelah beberapa hari merenung dan berdiskusi via wa (suami kebetulan sedang dinas ke luar kota), akhirnya diskusi bisa mengerucut dan menghasilkan beberapa poin ekpektasi suami terhadap saya. Jadi yang saya simpulkan dari perbincangan kami, profesional sebagai istri berarti menjadi sosok istri yang diharapkan suami, yaitu menjadi manusia yang bisa bahagia bukan karena orang lain berubah tapi karena lebih strong, ikhlas, dan bisa menemukan kebahagian sendiri. Menjadi seorang yang berpikiran positif dan selalu meng-upgrade ilmu. Cara untuk mencapainya adalah sebagai berikut.

a. Tidak berkeluh kesah urusan kantor minimal 5 hari dalam seminggu
b. Menjauhi pikiran dari hal - hal negatif. 
c. Membaca buku tema minimal 1 buku setiap bulan


Selanjutnya, profesional sebagai ibu.  Bagi saya, profesional sebagai ibu berarti menjadi ibu yang selalu dibutuhkan dan dirindukan anak- anak. Ini agak sulit ditanya ke anak-anak apa sih ekpektasi mereka terhadap saya sebagai ibunya karena mereka masih balita. Anak gadis 4 tahun mungkin  masih bisa menjawab, tapi jawabannya hari ini apa, besok apa :D Anak bujang 1, Alhamdulillah semua kebutuhannya sudah terpenuhi,  iykwim. Anak bujang 2 usia 2 bulan, butuhnya ASI :D.  Dan semoga saya benar dalam menerjemahkan keinginan mereka. Karena kebutuhan masing-masing anak berbeda, poin-poin untuk mencapainya tergantung pada anak tersebut. Berikut ikhtiar mencapai profesional sebagai seorang ibu:

a.Membacakan buku/cerita sebelum tidur minimal 5x dalam seminggu
b.Masak bersama minimal sebulan 2 kali
c.Tidak pegang gadget sepanjang menyusui bayi
d.Mengobrol dengan bayi sebelum kerja dan pulang kerja minimal 5 menit


Profesional yang terakhir adalah profesional menjadi diri sendiri. Seharusnya profesional ini ada di urutan nomor 1. Tapi tak apalah saya menuliskan justru di bagian akhir. Menjadi profesional, berarti menjadi manusia yang ramah, melayani dan selalu mengupgrade ilmu. Caranya:

a. Tilawah setiap hari minimal 1/2 juz
b. Senyum, sapa, salam setiap hari ke suami, anak, art 
c. Membaca buku tema minimal 1 buku setiap bulan

Sejatinya, menurut saya jika profesional diri sendiri ini adalah pondasi yang jika sudah tercapai, secara otomatis bisa menjalar ke peran yang lain, yaitu sebagai istri dan ibu. Wallahua'lam.



Jumat, 26 Januari 2018

Manusia Rata-rata

Sebenarnya sudah sejak lama saya merenungi seorang saya yang seringkali saya deskripsikan sebagai manusia rata-rata. Iya, manusia yang segala sesuatunya serba rata-rata. Tinggi rata-rata, berat badan rata-rata, keahlian rata-rata, kepandaian rata-rata. Ga ada yang menonjol sedikitpun :D Flashback ke kehidupan masa kecil, dulu saya ga pernah merasa diri saya ini rata-rata loh. I always think that i'm number one. Saya ini anak pertama, hampir segala sesuatu menjadi contoh buat adek saya yang seorangan itu. Saya hampir selalu merasa harus menjadi seorang yang sempurna. Bayangkan, hampir setiap penerimaan rapot, orang tua saya selalu tersenyum bahagia melihat nilai rapot saya yang hampir selalu bagus. Paling sering dapat peringkat 1, pernah juga dapat peringkat 2 atau 3, paling jelek seumur hidup saya ada di peringkat 8. Dan itu pun cuma sekali. Untuk mengejar itu semua, setiap malam saya diwajibkan belajar dan mengerjakan PR sekolah. Bagi saya adalah aib besar ketika tidak mengerjakan PR atau tidak sanggup mengikuti pelajaran sekolah. Rasanya sepanjang sekolah saya selalu sibuk dengan belajar, les ini, les itu. sampai akhirnya lulus SMA, saya berhasil diterima di 3 PTN plus 1 perguruan tinggi kedinasan. Luar biasa kan :D Dan untuk melengkapinya menjadi anak sempurna, saya ambil perguruan tinggi kedinasan sesuai keinginan orang tua saya. Dan jadilah saya ini sekarang menjadi  seorang kuli negara dengan gaji yang Alhamdulillah cukup untuk hidup di kota besar. Orang tua saya bangga dan bahagia melihat pencapaian saya yang lumayan ini :)

Tapiii...Nyatanya menjadi peringkat 1 aja, ternyata tidak cukup membuat saya bisa survive dalam menjalani hidup. Ketika saya mulai masuk kerja, saya cuma berprinsip saya ini pintar, tapi saya tidak pernah diajari bagaimana harus menerima arahan, kritik, dan saran atau mengahadapi orang-orang dengan beragam sifat dan karakternya. Ketika saya menikah, saya bahkan tidak bisa memasak. Lalu buat apa pula waktu itu saya selalu mengejar menjadi nomor 1. Gelar peringkat 1 itu saat ini tidak bisa membantu saya sama sekali :D. Ya, baiklah lupakan saja perihal manusia sempurna. Karena di titik ini, ketika saya baru mulai mengasah soft skill-keahlian yang seharusnya sudah saya pelajari dari jaman sekolah-, saya mendapati bahwa saya ini tidak ahli apa-apa. Saya hanya si manusia rata-rata, ingin ini, ingin itu, tapi semuanya serba tanggung. Tak pernah ditekuni dengan serius, Segalanya hanya dilakukan sepotong-sepotong. 

Yup, itu kemarin. Karena mulai hari ini saya harus mulai menekuni salah satu saja. Membuat apa yang yang saya bisa dan apa yang saya suka menjadi bermanfaat, minimal sekali untuk diri saya sendiri. Paling ga, saya bisa merasa berharga dan punya value. Percayalah, saking merasa mindernya menjadi manusia rata-rata, saya suka merasa diri saya tidak berharga :(

Jadilah, setelah merenungi dan nanya-nanya ke paksu perihal apa yang mau saya tekuni, jawaban pertamanya dan yang memang lagi ngendon di otak saya adalah masak :D. Janganpun dibayangkan dulu saya ini rajin masak dan bisa masak segala-gala. Karena di paragraf sebelumnya, sudah saya bilang, awal menikah saya ga bisa masak. Kemampuan memasak saya waktu itu sangat buruk, jauuuh dibawah kemampuan suami saya-yang memang suka masak :D. Manalah namanya memasak sebenrnya setiap ibu juga pasti bisa memasak dan masakannya pasti enak, minimal untuk keluarganya. Jadi kenapa memilih memasak, alasannya yang pertama biar ga malu-malu amat sama suami saya yang suka dan bisa masak. Yang kedua, kalo boleh jujur, sejak saya belajar masak, rasanya saya memang menikmati proses memasak itu sendiri. Saya bahagia ketika saya berhasil mencoba suatu resep masakan, saya bahagia ketika masakan saya dimakan lahap oleh dua konsumen utama saya (suami dan anak). Saya bahagia ketika ga harus jajan di luar ketika pengen makan enak :D Yang ketiga, rasanya memasak bisa jadi menjadi kegiatan yang bisa melibatkan seluruh anggota keluarga kami. Yaa, bisalah jadi quality time untuk keluarga kami. Suami suka masak, anak gadis mulai suka ngubek-ngubek dapur.dan yang jelas dia suka makanan enak. Lidah anak gadis ini cukup lumayan untuk bisa membedakan mana makanan yang enak dan yang ga enak.. :p

Nah, karena ini mau ditekuni, senampaknya saya mulai harus memanage dengan baik proses belajarnya. Caranya, pertama, skill itu diasah dengan banyak berlatih. Dan kedisiplinan dalam belajar itu adalah sebuah kewajiban.Tapi ga berarti harus masak tiap hari kan ya? :D  Iya, karena sejujurnya pun saya ga sanggup kalao tiap hari disuruh masak. Senin-Jumat rasanya sayang kalau waktu yang seuprrit itu buat ngoprek dapur, saya lebih seneng kruntelan sama para bocah. Jadilah berarti weekend itu jadwal saya masak. Dan untuk men-challenge diri serta menambah khasanah dalam dunia masak, minimal sebulan sekali saya harus nyobain menu baru.

Kedua, dicatat dan didokumentasikan dengan rapi. Secara belajar masaknya masih otodidak ya, jadi kalau mau masak itu lebih seringnya googling resep terus nyobain masak, terus udahan. Besok lagi kalo mau masak makanan yang sama gooling lagi. kadangan suka ga ketemu resep yang sebelumnya :D. Secara si amatiran ini kalo mau masak mesti buka resep dulu. Ga pede rasanya kalo main cemplung-cemplung aja. Apalagi kalo bikin sebangsa roti/cake harus pakem sama resepnya. Mulai hari ini sudah mulai harus dicatat rapi, biar-besok-besok kalo mau masak yang sama ga perlu googling lagi. Dengan didokumentasikan dengan rapi, harapannya biar bisa kelihatan progress skill memasaknya. Misal dulu pas pertama masak, dengan resep begini, hasilnya begini. Setelah masak yang kedua, diperbaiki lagi, misal cara memasak dan resepnya, hasilnya begini. Tentunya juga ga lupa kalo nyobain resep harus dicatat juga sumber resepnya dari mana, apalagi kalau mau di share.

Ketiga, mulai invest peralatan masak. Hmm ya sebenernya peralatan masak udah segambreng. Tapi ya itu, banyaknya itu karena punyanya double-double. Sebangsa wajan, panci, teflon ada beberapa. Dan jangan dikira itu karena kami suka beli peralatan masak. Barang-barang yang sampai double itu karena sebelum nikah mas udah punya beberapa peralatan masak, pas nikah dikadoinnya banyak peralatan masak. Jadinya punyanya double gitu. Tapi peralatan sebangsa mixer gitu malah ga punya :D. Makanya ini lagi diniatin invest peralatan yang belum kami punya. Dalam waktu dekat, insya Alloh pengen beli food processor. Biar bisa giling-giling daging sendiri. Kebayang udah pengen nyobain bikin rolade ..:D

Keempat, pengen banget ikut kursus. Tapi ya, kalo sekarang-sekarang ini masih eman ninggalin para bocah. Senin-Jumat udah ditinggal dari pagi sampai malem, kalo weekend masih harus ditinggal juga rasanya kasian banget. Insya Alloh kalau ada rejeki, semoga bisa kesampaian kursus atau minimal bisa belajar sama ahli :)

Perencanaannya kayaknya sudah oke, tapi apalah perencanaan tanpa dikerjakan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Insya Alloh, atas ijin Alloh semoga niatan hati untuk mengasah skill ini mendapat ridho Alloh. Penting amat ya, nulis pengen masak gini sampe ditulis berpargraf-paragraf. Penting amat pula gitu ya, pengen seiusan masak, yang yakinlah sebagain besar orang juga bisa.. Tak apalah, dengan ditulis begini, kalau suatu saat saya di kemudian hari lupa bahwa hari ini saya pernah berazzam seperti ini, maka saya akan ingat dan semoga kembali lurus di niatin ini. Aamiin.

Btw, besok udah weekend. Belum ada rencana buat nyobain resep baru. Baru berencana mengolah stok iga yang ada untuk dibuat iga bakar. Sama udah lama sih rencana pengen buat cinnamon roll. Tapi kalo yang kedua ini, masih diliat waktunya nanti. :P










Senin, 12 Oktober 2015

when life is so simple..;)

Setelah seeekian lama, ga nengok blog ini, tetiba hari ini dapat wangsit buat buka blog ini :D. Seperti biasa kalo buka blog ini, yang diliat di menu dashboard, liat statistik (kaya banyak aja pengunjungnya :D ), liat komentar, liat daftar tulisan baru di blog orang..Nah, waktu liat di menu komentar, ada dong komentar baru, di tulisan saya yang ini. Komentarnya di posting tanggal 8 Oktober 2015, barruu banget kan. Hihih, ketawa juga saya dengan komentarnya. Hmm..jadi tulisan ini sudah dibuat lamaa sekali, tulisan tahun 2012, yang mana sekarang isu dalam tulisan tersebut ga kedengeran lagi. Dan tetiba hari gini, masih ada yang komen soal itu. Mungkin bukan masalah sih ya, si anonim itu komentarnya baru sekrang. Tapi kan saya jadi tergelitik juga, baca lagi tulisan itu, baca lagi komen-komennya. :D

Mungkin diantara kalian pernah membaca tulisan-tulisan lama kalian. dan sering terkejut dengan tulisan tersebut. Kok bisa ya dulu aku nulis itu, kok bisa ya dulu aku mikir kaya gitu, kok bisa ya bla..bla..bla.. Pernah kan kaya gitu.. Dan itu terjadi pada saya untuk kesekian kalinya. :D  Balik ke tulisan saya tahun 2012, jadi ceritanya waktu itu, lagi santer banget isu larangan menikah sesama Kemenkeu. Di tahun itu akhirnya banyak juga pasangan sesama Kemenkeu yang memutuskan untuk segera menikah. Saya salah satunya :D. Mungkin bukan karena isu ini saya buru-buru menikah, tapi memang Alloh mengirimkan jodoh saya di tahun itu, dan masalah tanggal pernikahan, Alhamdulillah berkat adanya isu tersebut, jadi salah satu alasan kuat untuk mendesak kedua orang tua kami (oertu saya sih sebenarnya) untuk tidak menunda terlalu lama pernikahan kami. Ta'aruf dari Mei (kalo ga salah), dan ortu saya masih pengen menyelenggarkan pernikahan kami setelah kami selesai kuliah S1, yang mana mungkin tahun 2013. Kelamaaan TT. dan akhirnya isu itu, jadi salah satu alasan untuk mendesak agar pernikahan kami dipercepat :D Jadi sebenarnya kondisi waktu itu, saya emang lagi cukup galau. Lah gimana kalo beneran, peraturan itu keluar, sementara calon suami saya saat itu jelas-jelas orang Kemenkeu. Berarti kan saya harus siap-siap juga kan ya, semisal saya ga jadi nikah tahun 2012 dan peraturan itu keluar, berarti saya ga bisa nikah sama orang Kemenkeu (kalo saya ga mau keluar dari Kemenkeu). Semisal saya berhasil nikah di tahun 2012, terus peraturan itu keluar, terus salah satu mesti keluar dari Kemenkeu, berarti saya juga harus bersiap. mana lagi di tahun itu, ada beberapa teman Cemputut yang mau menikah juga, kegelisahannya sama juga. Makanya ga heran kalo akhirnya saya nulis itu. Yaa, itung-itung curhat, itung-itung nambah tulisan di blog, dan yang pasti selesai nulis biasanya saya sedikit plong. :D

Nah, masalahnya ketika saya nulis, karena pure sudut pandang pribadi, dan curhatan aja, saya mana mikir dengan pendapat orang dong. Yang jelas ketika ada yang tidak sependapat, ya silahkan aja ya. Waktu itu, ketika saya dikomentari oleh orang-orang yang kontra, sebenernya agak kesel juga. Yaelah, ngapain sih ngurusin orang, mana waktu itu saya baca komennya kok nyebelin banget. (Mungkin waktu itu karena masih galau, jadinya ketika ada yang kontra, meledak deh..hahah) Dan ketika hari ini saya baca kembali komentar-komentar atas tulisan itu, apalagi yang kontra dengan saya, malah jadi geli. Ah ya sebenernya mereka inipun sedang menyampaikan pikirannya, yang mana memang bertentangan dengan sudut pandang saya. Berusaha meluruskan pikiran saya yang mereka anggap salah..Sah aja sih.. Tapi kalo saya pikir, balik lagi ya, namanya juga curhatan, kalo diajakin debat karena mereka anggap pikiran saya salah, ga akan efektif. Dibilang logika saya ngawur, dibilang saya ga berpikiran luas, ya mau gimana lagi. Namanya curhat, nulisnya pakai hati dan perasaan doang lah. Masa ya saya harus pakai kajian dulu sebelum nulis, kalo gitu momen curhatnya ilang dong..Jadinya nanti artikel ilmiah Hihih..

Baiklah..saya nulis ini, ga lagi marah atau ngomel-ngomel loh ya..Tapi beneran lucu.. Lucu mikir kenapa waktu itu saya tanggepin serius orang yang kontra dengan saya. Harusnya didiemin aja, atau dibecandain aja kan yaa.. di titik ini, kadang saya baru merasa hidup itu memang berproses. Dulu berpikir begitu, sekarang begini. Waktu, lingkungan, pengalaman, orang-orang di sekitar kita bisa membentuk orang menjadi pribadi yang berbeda melalui proses. Ini hanya sebagian kecil contoh saya berproses dari waktu itu. Saya yang dulunya terlalu peduli dengan kata orang, takut dibilang begini begitu, sekarang ini menjadi pribadi yang sangat cuek. Saya ini sekarang, sebodolah dengan kata orang. Toh mereka sebenernya kadang ga berperan apapun dalam hidup saya, cuma nyumbang komentar doang :D. Jadi ya silahkan membicarakan apapun tentang saya, asal saya ga tau, asal saya ga direcokin. Hidup itu ternyata sederhana ya.. :)



nb: betewe, dari sejak bahelua' isu larangan menikah sesama Kemenkeu, sampai detik ini, peraturan itu ga terbitjuga. Alhamdulillah. dan jika pada akhirnya peraturan itu terbit, disyukuri saja. Serahkan saja pada Alloh. Alloh tau mana yang terbaik :)

Jumat, 20 Februari 2015

Rumah Baru,Hidup Baru

Selama Februari, saya belum nulis apapun ya disini..Iya, perhatian saya lagi terpecah, secara saya lagi bangun rumah baru. sudah 98% selesai, 2% nya rasanya masih ada yang kurang, tapi belum tau apa. Sudahlah, ditempati dulu saja. Nanti masih bisa kok renov2..hihi.. 

Bicara tentang rumah baru, ga berarti saya akan meninggalkan rumah saya disini. No no no... Baiklah saya ceritakan tentang rumah baru saya itu. Jadi, mulai akhir Januari lalu, saya resmi punya pekerjaan baru jadi Independent Consultant Oriflame :D Akhirnya, terjun juga ke dunia bisnis. Yes, saya ga mau bilang terjuannya saya di dunia bisnis ini main-main atau iseng aja. Big No. Saya serius kok. Insya Alloh. Karena serius itu, makanya saya bikin rumah baru, khusus untuk bisnis saya ini. Silahkan kalo mau berkunjung. ke rumah baru saya, ini alamatnya http://annisaningrum-yuliastuti.blogspot.com/

 Tentang alasan saya tetiba menerjuni bisnis ini..Yaa, silakan saja berkunjung ke rumah baru saya, baca di postingan pertama saya. Saya ceritakan disitu kenapa saya memilih bisnis Oriflame :)



Jadi sejak punya kerjaan baru, hidup saya jadi sedikit berubah. Ada tambahan kesibukan lain. Capek? Secara fisik ga terlalu, tapi pikiran iya. Habisnya saya masih bener-bener blank di dunia bisnis. Jadi masih banyak belajar, mikir, gimana caranya supaya bisnis saya berkembang. Apa yang bisa dikerjain sekarang, ya dikerjain. Sebangsa saya sukanya nulis jadi deh blog baru. Baru gitu-gitu aja.. Masalah penjualan, ya baru buka lapak, Alhamdulillah sudah tupo. Alhamdulillah bisa lebih, Pengen closing 3% akhir bulan ini.. Aamiin. masalah rekrut,yaa masih belajar.. Ga usah ditanya, berapa orang yang sudah saya rekrut, baca aja di blog satunya..hihi...Pokoknya ish, prinsip saya, biar saya ga bisa, ga bakat, tapi saya mau, pada akhirnya nanti saya juga bisa. Berproses aja.. Iya kan.. ?

Mohon doanya ya teman-teman, semoga bisnis baru saya membawa berkah. Semoga saya selalu diberi kemudahan dalam menjalani bisnis ini. Aamiin.. :)



Rabu, 15 Oktober 2014

Trust

Per 6 Oktober 2014, saya resmi ditinggal suami saya, ditinggal dinas maksudnya, Insya Alloh dinasnya berakhir 17 Oktober 2014. Yap, 2 minggu dong ditinggal. Ini dinas terlama suami saya sejak kami menikah. Sejak tanggal itu pula, saya mesti pulang pergi ke kantor sendirian. Yang biasa saya tinggal  bonceng suami, sejak ditinggal itu saya mesti bawa motor sendiri. Iya, saya bawa motor sendiri. Terdengar biasa aja sih, tapi bagi yang kenal saya, pasti agak-agak heboh juga ketika tahu saya bawa motor sendiri. Komentarlah mereka, "hah, bawa motor sendiri, emang bisa..", "beneran Nisa bawa motor sendiri, kirain ga bisa naik motor" dan sebangsa itulah. Ini belum ya kalo keluarga Cemputut tahu. Mereka aja sampai sekarang mungkin masih sanksi kalo saya bisa naik sepeda  :p

Perkara saya naik motor, saya ceritakan sedikit ya. Sebenernya saya udah belajar naik motor sejak jaman SMP. Waktu itu dipaksa-paksa belajar sih sama ortu. Sampai akhrinya bisa. Eh tapi tetep ya, sampai saya SMA saya ga pernah diijinin pakai motor di jalan raya. Pernah beberapa kali minta ijin buat keluar, biasalah butuh les kah, atau beli apalah, bawa motor, tapi ga pernah diijinin. Alasannya di jalan ramelah, ngerilah, bla..bla..bla.. Dana begitulah karena tak dapat ijin dengan alasan di jalan itu menakutkan, saya jadi ter mind set dong, di jalan itu ngeri (padahal itu jaman saya masih di Magelang, yang mana lalu lintasnya ga serame di Jakarta). Sampai akhirnya saya kerja di Jakarta, saya pernah juga minta ijin beli motor biar enak pergi kuliah (waktu itu saya kuliah malam, habis pulang kantor, merasa bete kalo naik kopaja yang leletnya ampunan), dan tentu saja ga dapat ijin dong. Jalan di Magelang aja ga boleh, apalagi jalan di Jakarta. Tapi yasudahlah, saya pikir, kayaknya saya takut juga kalo harus jalan di jalan serame Jakarta :D

Setelah menikah, kami baru beli motor. Sebelumnya suami saya juga ga diijin bawa motor sama ortunya :D Cuma ya setelah menikah agak repot juga ya kalo ga punya kendaraan sama sekali. Pilihannya jatuh ke motor bebek. Waktu alasan saya biar saya bisa pake juga (gaya banget yaa). Ga mau matic karena saya emang ga pernah pake matic. Awal-awal punya motor itu, suami saya sudah nawarin kalo mau pake, tapi ya secara udah bertahun-tahun ga pernah bawa motor, ada rasa takut. Belum lagi ga berapa lama setelah itu, saya hamil. Makin ga berani dong nyobain bawa motor sendiri. Dan waktu bergulir sampai akhirnya minggu lalu itu, suami dinas 2 minggu. 2 Minggu itu berarti 10 hari kerja. Karena mesti berangkat sendiri, pilihannya mau naik angkot atau naik ojek. Kalo naik angkot saya mesti berangkat pagi banget dan nanti sampai rumah agak lebih lama. Belum lagi  kalo sore-sore gitu, di angkot biasanya penuh, jalanan macet, dan angkotnya suka anjut-anjut (apa sih bahasa Indonesianya). Jadi hampir selalu kalo pulang kantor naik angkot itu, sampai rumah saya udah keringat dingin aja dan mual.  Kalo sepuluh hari mesti kaya begitu, ga enak banget. Pilihan kedua, naik ojek. Paling enak emang naik ojek. Bisanya kalo pas saya ga bisa pulang atau pergi bareng suami, saya naik ojek. Nah, ga enak adalah ongkosnya. Tarif ojek sekali pergi atau pulang antara 25-30 rb. Berarti kalo pp naik ojek 50-60 rb/hari. Nah kalo 10 hari kerja pp naik ojek,bisa habis 500-600 rb dong. Ngebayangin bakal keluar duit segitu rasanay eneg. Gaji ga seberapa masa 500 rb habis buat transport 10 hari doang. Atas dasar kepepet itulah saya memberanikan diri untuk bawa motor sendiri. Tentunya atas ijin suami.

Beberapa waktu sebelum suami saya dinas, beberapa kali sih suami nanya, beneran ga mau bawa motor sendiri. Saya sok mantep aja bilang iya. Saya balik nanya, "Mas percaya ga, aku bisa bawa motor sendiri". dia menjawab," Iya, Mas percaya kok". Tau ga sih, suami saya cuma bilang bahwa dia percaya, itu sangat cukup membuat saya merasa percaya diri loh. Efeknya luar biasa. Suatu waktu ketika dia berpamitan dia berkata kepada saya," Sebenernya Mas khawatir kamu naik motor sendiri, tapi kamu harus belajar mengambil risiko. Kamu harus keluar dari zona nyaman. Ga kaya sama orang tuamu, mereka lebih memilih kamu berada di zona nyaman kan..". Dalam hati saya mengiyakan, karena ga mungkin selamanya saya berada di zona nyaman seperti kemarin-kemarin pulang pergi tinggal nungguin suami, diantar jemput kemana-mana. 

Dan begitulah kekuatan sebuah kepercayaan, Alhamdulillah sampai hari ini saya baik-baik saja, tidak menemui kendala berarti selama perjalanan pulang pergi rumah-kantor. Saya belajar menghadapi ketakutan saya di jalan raya. Terkadang suatu hal itu ga perlu dipikirkan atau dibayangkan, tapi cukup dijalani saja. Sebangsa betapa takutnya dulu saya membayangkan kalo naik motor di Jakarta harus nyelip-nyelip diantara mobil. Maka ketika saya menjalaninya, toh ternyata saya bisa, walaupun belum lincah, tapi setidaknya saya sudah berusaha. Berusaha untuk tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Haha iyaa.. Saya takut kalo diri saya dalam bahaya, tapi saya lebih takut jika saya membahayakan orang lain di jalan. Semoga tidak ya.. :D

Dan pelajaran terbesar saat ini adalah trust. Belajar untuk percaya. Bahwa saya hidup dibawah orang tua yang kadang tidak memberikan kepercayaannya kepada saya, maka saya memang tumbuh menjadi manusia yang tidak percaya diri dan tidak berani mengambil risiko. Bukan hanya masalah mereka tidak percaya saya bisa bawa motor, tapi memang saya amati orang tua saya cenderung untuk membawa saya selalu berada di zona nyaman. Saya pikir ini bukan kesalahan karena orang tua manapun pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Saya juga tidak menyalahkan mereka kok. Hanya  saja saya ingin anak-anak saya kelak dapat memilih apapun yang mereka inginkan dan memastikan bahwa mereka mampu untuk menghadapi risiko dari setiap pilihan mereka. Dan itu artinya saya harus belajar untuk memberikan kepercayaan untuk mereka.





Minggu, 12 Oktober 2014

Happy Milad

Dua puluh lima tahun pertama hidupmu, mungkin ulang tahun bukan hal yang penting..
Tak pernah ada kado, kue ultah, atau perayaan lainnya..
Bahkan hingga dua tahun selanjutnya, ulang tahun juga bukan hal yang menarik..
Tapi biarlah, sejak bersamamu, aku ingin selalu mengingat hari jadimu ini..
Biar tanpa perayaan apapun...
Karena kita akan merayakan ulang tahunmu dengan cara kita sendiri.. 

Happy milad suamiku sayang..
Semoga keberkahan selalu mewarnai hari-harimu..
Hari ini dan hari-hari selanjutnya..
Semoga Alloh menjadikanmu sebagai manusia yang berakhlak..
Memenuhi hatimu dengan keimanan dan kelembutkan..
Semoga Alloh selalu melimpahkan kasih sayangNya kepadamu..
Memberimu kemampuan untuk menjadi qowwam..
Memberimu rizqi yang berkah..
Memberikanmu jalan untuk mencapai cita-citamu..
Dan utamanya cita-cita kita, berkumpul bersama di surga, insya Alloh..


Love you more and more... :-*
Ya Alloh, tetapkanlah hatinya di atas agamaMu dan di atas ketaatan kepadaMu






Rabu, 01 Oktober 2014

Oktober Ceria

Menutup Sepetmber Ceria dan membuka Oktober dengan lebih ceria.Sejak bertahun-tahun lalu, bulan Oktober memang selalu menjadi bulan spesial karena bulan ini adalah bulan kelahiran mama saya yang jatuh tanggal 18 Oktober. Ga selalu dirayakan setiap tahun sih, tapi beberapa tahun belakangan ini biasanya ada surprise gift untuk mama dari anak-anaknya.  

Keceriaan bulan Oktober bertambah di tahun lalu, untuk pertama kalinya (setelah menikah), kami merayakan ulang tahun Mas tanggal 12 Oktober. Tahun lalu, ulang tahunnya Mas pas saya cuti melahirkan, Alhamdulillah pas Mas berkunjung ke Magelang. Jadilah dimasakin nasi kuning sama mama saya. Seringnya kalo nakanya ultah, mama bakal masakin nasi kuning. Untuk urusan ulang tahun ini, suami saya ga gitu peduli sih. Kebiasaan di keluarganya memang ga pernah ingat hari ulang  tahun. Kebaisaan ini kan jelas bedaa banget sama keluarga saya ya. Yang mana ga cuma ingat hari ulang tahun keluarga inti, kami itu sampai ingat harii ulang tahun eyang, pakde, bude, tante, om, dan para sepupu. Ga mesti dirayakan memang, tapi paling ga biasanya ngucapin aja. Makanya begitu ketemu mas, saya heran, ternyata ada ya orang yang bahkan sampai lupa hari ulang tahunnya sendiri. Setidaknya begitu pengakuan Mas. Saking ga ngehnya, dia pernah baru sadar kalo hari itu dia ulang tahun karena liat ucapan teman-temannya di Fb. :D 

Sebagai penutup keceriaan bulan Oktober, tanggal 31 Oktober adalah hari lahirnya si Genduk. Yuhuu Oktober ini gadis kecilku mau ultah yang pertama. Ya Alloh, udah hampir setahun aja ya..Berarti udah setahun juga ya, kami jadi orang tua. :)

Bagian tidak ceria dari Oktober ini adalah sepertinya saya dan Mas akan berpisah untuk sementara TT. Pekan kedua sampai ketiga, Mas dapat tugas ke Bandung.  Sejak nikah, ini adalah dinas paling lamaaa..Biasanya kan paling cuma 3 hari. Ini dong 2 pekan. Berita baiknya, insya Alloh weekend nya saya nyusul ke Bandung. Yey.. Pas kebtulan juga ada tante di Bandung yang operasi, jadi keluarga besar Magelang rencana mau mengeok tante itu di Bandung. Jadinya Insya Alloh kami mau ketemuan di Bandung.

Teruus akhir bulan Oktober, selama 5 hari gantian sayanya yang dinas luar kota. wuiih tumbennya kan saya mau terima dinas luar kota. Padahal biasanya diajak dinas ke Bogor aja pasti nolak. Ya habis gimana, kali ini tawaran dinasnya ke Magelang sih. Rasa-rasanya kok ga bisa ditolak :D dinasnya milih-milih.  Mau giman alagi, udah jadi emak yang punya buntut masih bayi itu, rasnaya kalo ninggal dinas masih ga tega. Ga kebayang deh, semaleman Nadya bakal nyariin nenen. Selama ini kalo saya  rapat sampai malam, dia jarang rewel sih, tapi tetep aja kliatan kalo dia nyariin emaknya (cerita pengasuhnya gitu). Mana saya tega dong ya, ninggalin si genduk, biar cuma semalam. Tapi klo di Magelang ini kan judulnya saya pulang kampung, jadi ga perlu menginap di hotel. Masih bisa pulang pergi ke tempat acara. Nadya tentu bisa ikut dinas. dan yang paling seneng, tentu saja eyang kakung dan putrinya :D

Sebenernya dapat dinas ini rasanya kaya dapat durian runtuh. Alhamdulillah bangeet. kemarin-kemrin itu saya sempat ngeluh ama suami, pengen pulang ke Magelang. Secara ya sejak kerja, ini rentang waktu terlama saya ga pulang. Tapi berhubung cuti habis, rasanya tahun ini udah hampir ga mungkin buat pulang. Mas sih nawarin kalo mau, pas libur natal, pulang ke Magelang. Tapi saya pikir pasti tiket susah, mana cuma bentar.. Lagian saya udah bilang ke mama saya, biar mama aja yang cuti, terus jalan-jalan ke Jakarta :D. Alloh Maha Baik, mendengar permintaan hambaNya ini. Biar bukan cuti, tapi kan Alhamdulillah masih bisa pulang ke Magelang. :))


Jadi sebenenrya biar banyak pisahnya sama Mas di bulan Oktober ini, tapi Oktober tetep ceria. Bukannya bulan-bulan lain ga ceria sih, tapi rasanya  Oktober ini jadi lebih spesial :)  Semoga Alloh selalu memberkahi hari-hari kami dan juga rencana-rencana kami di bulan oktober ini serta bulan-bulan selanjutnya.. Aamiin..


Senin, 25 Agustus 2014

Kami Dibilang Nekat Nikah

"Ningrun karo Iqbal ki nekat kok...."
Jeeeng..pernyataan itu kemarin terlontar dari bude saya, ketika kami mengunjungi beliau. Ceritanya, waktu itu kami lagi ngobrolin pacarnya sepupu saya, yang menolak diajak nikah sama sepupu saya, karena masih pengen kerja dulu, ngebiayain kuliah adeknya dulu, beli rumah dulu. Sudah dilobi sih sama sepupu saya, kalo masalah rumah belinya berdua aja. Eh tapi sang pacar tetep ga mau. Yah, mungkin maksudnya menolak sepupu saya dengan halus. Mungkin juga sang pacar ini ngeliat sepupunya baru aja nikah. Calon suaminya ini sarjana sih, tapi pengangguran, tapi sudah dijanjikan dapat 20 petak kontrakan dari orang tuanya kalo nikah ( yaaa, klo 1 pintu 1 juta/bulan, asumsinya 20 pintu itu keisi semua, sebulan bisa dapat 20 juta. tanpa kerja, uang datang sendiri !!).Bisa jadi, si pacar sepupu saya itu pengennya punya suami kaya suaminya sepupunya itu. Wallahua'lam..

Intinya sih, akhirnya kami, saya dan mas, jadi kena kesimpulan seperti di atas itu. Nekat nikah..Hmm..iya sih, waktu nikah kami itu ga punya apa-apa, ga punya rumah, ga punya mobil, yang bagi sebagian orang paling ga dua hal itu harus dimiliki dulu sebelum nikah.

Sampai rumah, saya ngobrolin ini sama Mas. Kami sih sepakat, walaupun saat itu-sampai sekarang sih- ga punya apa-apa, kami itu ga nekat nikah. Dari sudut Mas, dia nikah karena memang sudah ingin menikah, sudah mampu menghidupi keluarga, dan yang pasti sudah dapat izin untuk  menikah. Dari sudut pandang saya, saya juga sudah ingin menikah, sudah cukup umur, dan sudah disuruh menikah. Waktu itu, untuk menetapkan kriteria suami, saya juga ga mengharuskan suami saya itu punya rumah atau mobil dulu. Bahkan saya mikirnya, masalah rumah atau mobil itu kan nanti lebih enak bisa dipikir bersama. Jadi memulai pernikahan dari titik nol 9bersyukurlah yang mulai menikahnya tidak dari titik nol, tapi titik 10 atau 20...). Mengusahakannya bersama..  Terus nanti pas sudah tua, pasti bakal jadi kenangan indah, bagaimana kami survive hidup (membayangkan orang tua saya dan Mas jaman masih susah sampai hidup sekarang..rasanyaa buat mereka pasti nostalgic banget).


Yaa, sekali lagi mungkin ini hanya perbedaan persepsi tentang standar mapan. Saya ga menyalahkan juga sih, kalo ada orang yang standar mapannya itu punya rumah atau mobil. Sama sekali ga. Tapi kalo udah pacaran terus menunda nikah hanya karena belum punya rumah dan mobil. Rasanya kok gimanaa gitu.. Kelamaan pacaran, iya kalo jadi, kalo ternyata ga jadi gimana. Belum lagi harus menanggung dosa pacaran. zzz.. (Kalo sepupu saya itu sih, akhirnya jadinya putus karena ga mau diajak nikah..Alhamdulillah..)

Jadi yaa, walaupun dalam persepsi orang lain kami ini dibilang nekat, 1 1/2 tahun menikah, kami merasa bahagia dan baik-baik saja. Walaupun kami belum punya rumah, belum punya mobil, hidup masih segini-segini aja, tapi rasanya kami baik-baik saja. Kami ga pernah merasa kekurangan. Dengan segala keterbatasan ekonomi kami saat ini, kami masih sungguh sangat bersyukur, masih bisa makan hari ini, ga pusing makan apa besok (pusing milih menu sih, yaa alhamdulillah masih bisa memilih), masih bisa pulang kampung nengok orang tua, masih bisa berbagi, masih bisa jajan2 dan jalan2, kalo sakit masih bisa langsung berobat..Walaupun ga punya rumah, tapi Alhamdulillah dapat rumah kontrakan yang lumayan oke dengan harga miring dan empunya rumahnya baiik banget. Walaupun ga punya mobil, Alhamdulillah masih ada motor., masih bisa ngerasain naik angkutan umum. Rasanya sih hidup kami baik-baik saja, malah masih harus lebih banyak lagi yang bisa disyukuri :)

Dan walaupun saat ini kami "nekat" dan ga punya apa-apa, tapi kami berencana kok untuk punya apa-apa. Bagaimanapun juga, standar kayanya seorang muslim itu ada 4, istri shalihah, rumah yang lapang, kendaraan yang kuat, tetangga yang baik (Semoga saat ini suamiku sudah punya yang no 1 dan 4..Aamiin). Jadi insya Alloh kami akan berusaha mencapai standar tersebut. Semoga Alloh meridhoi keinginan kami..

Jadi ya, bagi para single yang memang sudah ingin menikah dan sudah mampu menikah, berdoalah semoga kalian segera menemukan jodoh dan menikahlah. Jangan jadikan harta sebagai penghalang untuk menikah (apalagi kalo udah pacaran). Untuk para jejaka, jika kalian sudah memiliki kemampuan ekonomi dan sudah ada wanita yang membuat kalian tertarik, segeralah lamar. Kalo ditolak, atau si wanita minta nikahnya  nanti-nanti nunggu punya rumah atau mobil, cari wanita lain saja. Untuk para gadis, jika ada pemuda datang melamar kalian, dan tidak ada alasan menolaknya, terimalah dia. Ga masalah jika pemuda itu belum punya apa-apa. Insya Alloh nanti dia akan memiliki apa-apa. Tapi kalo ternyata pemuda itu sudah punya apa-apa, ya bersyukurlah :)

Yang pasti percayalah bahwa menikah itu akan membukakan rizki. So, dont be afraid. Janji Alloh itu pasti ;)


Jumat, 15 Agustus 2014

Belajar menyatakan keinginan

..Menjadi istri dan ibu itu ga pernah ada sekolahnya...Tapi belajarnya harus seumur hidup..

Dan disinilah saya yang sedang belajar untuk menjadi istri dan ibu yang lebih baik. Peran yang saya jalani ini masih seumur jagung jadi sangat wajarlah jika ilmu yang saya miliki pun masih seujung kuku. Maka tak heran jika ada sedikiit saja masalah atau sentilan, respon saya masih cukup heboh, masih suka emosi.

Disinilah saya, yang dari kemarin cuma bisa diam di depannya, tapi selalu berkeluh kesah di depan suami. Suami saya sampai bosen kalo saya lagi mengeluh hal itu lagi-hal itu lagi. Mau bagaimana lagi, saya yang ga enakan mau ngomong langsung, akhirnya ada apa-apa cuma bisa kesal.

Awal kedatangannya semua baik-baik saja. Seluruh pekerjaan rumah beres. Berhubung beliau suka masak, jadi saya serahkan juga urusan dapur kepadanya. Dia juga telaten mengasuh Nadya. dan bagi saya yang paling penting adalah Nadya bisa dijaga dengan baik. Untuk urusan rumah, kalopun ga beres-beres amat ga apalah. Namanya juga kerja sendirian. Jadi pada awal itu, kami, saya dan suami, sangat puas dengan hasil kerjanya. karenanya kami percayakan urusan rumah dan Nadya kepadanya selama kami kerja.

Mungkin disini awal masalahnya dimulai. Saya tidak tegas dan jelas memberikan pengarahan mengenai apa-apa yang harus dikerjaan. Pertama karena bagiamanapun juga dia itu tante saya, jadi saya pikir saya ga mau terlalu banyak menuntut minta ini itu. saya tetep harus hormat dong ke beliau. Kedua, dia itu jauh lebih tua dari saya, pengalamannya sudah banyak. Jadi untuk pekerjaan rumah dan mengasuh anak, dia sudah merasa jauh lebih senior daripada saya. Ketiga, jelas saya  tipe orang yang ga bisa nyuruh-nyuruh. Jadilah sejak beliau dateng pekerjaan itu tahu sama tahu saja. Berhubung rumah juga sudah beres, jadi sayanya ga terlalu turun tangan. Ketika di rumah saya lebih suka main sama Nadya daripada harus memikirkan urusan rumah yang lain. Ini yang kemudian saya sadari sebagai kesalahan paling besar.

Beberapa bulan berlalu..Semakin kesini  kami menyadari bahwa pekerjaan tante saya itu semakin menurun. Terutama untuk pekerjaan rumah sih. tapi pikir kami wajar lah, Nadya sudah semakin besar. sudah bisa kemana-mana jadi pastilah capek kalo siang. jadi kami ambil pusing juga. Toh kami masih bisa bantu-bantu sedikit untuk urusan rumah. Tapi hal ini berbanding terbalik dengan pekerjaan mengasuh Nadya. Kalo dulu jaman Nadya masih bayi banget, adanya disuruh tidur melulu. Kalo sekarang suka diajak nyanyi-nyanyi, main, masih diajarin lah pokoknya. Dan saya liat tante saya itu sayang banget sama Nadya. Beberapa kali Nadya dibelikan mainan atau kaos kaki. Di satu sisi, seneng dong ya, berarti Nadya kalo ditinggal-tinggal aman. Di sisi lain jelas, saya merasa sangat cemburu (wajar kan ya).

Dan di titik inilah kegalauan makin menjadi.. Kepercayaan yang kami berikan membuatnya jadi agak "berani". Entahlah, mungkin saja ini hanya karena ego saya. Belakangan beliau menjadi semakin dominan. Sayanya jadi sering kalah suara. Untuk urusan rumah, saya ngalah deh.Terserahlah beliau pengennya apa. Tapi kalo untuk menyangkut Nadya, saya ga mau. Nadya tetap harus ikut aturan-aturan dari saya. Itupun kalo saya bilangin, kadang mental. Mungkin di mata beliau, saya ini banyak banget larangan. Jangan ini, jangan itu..

Puncaknya sih kalau weekend, dan waktu-waktu dimana saya bisa main sama Nadya (pagi dan malam masih bisa curi-curi waktu sedikit main sama Nadya) Nadya sering "diambil" , entah diajak main atau dibawa jalan. Apalagi kalo tetiba Nadya rewel (namanya anak kecil ya, biasa aja kan), ga tedeng aling-aling langsung ambil selendang dibawa keluar. Perasaan saya saat itu, iih rasanya benar-benar tidak dihargai. Merasa jadi ibu ga guna banget. Nenangin anaknya nangis aja ga bisa. eh tapi bukannya ga bisa, lha gimana, belum diapa-apain udah langsung dibawa kabur aja. Terus kenapa saya diem aja waktu dibawa pergi. Sebenernya bukannya diam, tapi sudah saya bilang, suara saya kalah keras sama beliau. Akhirnya mental... :'-(

Di titik-titik tertentu kadang saya merasa sangat gagal berperan sebagai istri dan ibu. Masalah seperti ini saja jadi "masalah" banget. Padahal mungkin jika dilihat dari sudut padang yang berbeda, ga sebesar yang saya rasakan. Dan bisa jadi apa yang saya tulis di atas itu, terlalu berlebihan (jelas ini, kan saya ceritanya pakai sudut pandang subjektif). Suami saya bilang hanya cukup menjalin komunikasi yang baik. Menyatakan keinginan saya kepada beliau, saya maunya begini begitu. Nah, masalahnya sulit bagi saya untuk menyatakan keinginan seperti ini. Disinilah saya harus belajar. Belajar menyatakan keinginan...

*noted

Kamis, 17 April 2014

Ternyataaa...

Sejak Nadya lahir, orang-orang berpendapat bahwa Nadya itu miriip banget sama papanya, ga ada mirip-miripnya sama mamanya. Semuanya mirip, kecuali matanya yang belok. Apalagi saat-saat masih di Magelang, Nadya itu kaya cowok. Ga heran kalo orang-orang sering menyangka bahwa Nadya ini bayi cowok. Padahal ya, sejak dia lahir, udah diapsangin anting-anting. eh tapi masiih aja banyak yang mengira Nadya itu bayi cowok :'(. Atas prasangka orang-orang itu, kami semua sepakat bahwa Nadya itu papanya versi cewek.


Eh tapii, beberapa waktu lalu ada sebuah MMS masuk, dari mama. Isinya adalah foto ini


Baiklah, pertama kali terima foto ini, ada dua hal yang menjadi fokus saya. Yang pertama, adalah foto eyang. Yup, foto eyang jaman masih segar bugar. Tiba-tiba rasanya baruu kemarin eyang masih ada. Masih bisa ngobrol, masih bisa gendong-gendong. Kangen..? Jelas. :'(

Yang kedua, anak di foto itu kok mirip Nadya ya.. Ga perlu dilihat detil, cukup dilihat sepintas aja, kliatan deh anak itu Nadya banget. Itu tuh, foto anak yang duduk pake baju biru dan berpose bengong. Siapa itu...? Yups, it's me..

Itu artinya... Nadya juga mirip mamanya. Horeee... *seneng banget akhirnya anak saya mirip juga dengan saya :DD

Suami saya komentar, "jangan-jangan kita mirip ya.." hihi..padahal selama ini kami sepakat, kalo kami ga mirip satu sama lain. Jodoh ga harus mirip kan yaa :D

Kalo mama saya komentar., "yaa itulah hasil dari berdua" :D

mirip kaaan..? *maksa :D

Rabu, 19 Februari 2014

Birth of Nadya

Setelah tiga bulan lebih, tetiba aja pengen nulis cerita lahirannya Nadya. Padahal tadinya ga ada niatan nulis beginian. Tapi yasudlah mumpung ada greget nulis, siapa tau bertahun-tahun mendatang Nadya (dan adik-adiknya) bisa juga baca tulisan ini :) 

Sejak awal hamil, sudah diperkiraan bahwa hari perkiraan lahirku tanggal 20 Oktober 2013. Menjelang akhir kehamilan, dokter yang di Jakarta memprediksi lahirnya sekitar tanggal 22-26 Oktober. Namanya juga prediksi, bisa meleset kan ya. Demi amannya, saya ambil prediksi awal tanggal 20 Oktober, ini sebagai dasar mengajukan cuti. Ya walaupun akhirnya agak curang, saya mulai mengajukan cuti tanggal 19 September :D (padahal harusnya baru bisa cuti tanggal 20 September kan ya). Dan tanggal 20 September meluncurlah saya dan mas ke Magelang karena memang sudah berencana untuk melahirkan di kampung halaman.

Hari-hari yang damai di Magelang menunggu kelahiran buah hati. Damai soalnya ga mikir kerjaan, bisa berleha-leha sepuasnya. di akhir kehamilan itu bawaanya ngantuk, pegel, dan males. Iya, males mau ngapa-ngapain. Jadinya sepanjang cuti itu bersenang-senang saja, pengen tidur ya tidur. Pengen makan ya tinggal makan. pokonya damaiii.. Eh, kecuali satu hal, selama cuti ini terpaksa pisah sama mas. TT

Menjelang 20 Oktober 2013
Masih merasakan kumpul-kumpul di hari raya idul Adha. Hampir seluruh keluarga sudah siap menunggu kelahiran si baby. Pengennya lahiran pas deket-deket Idul Adha gitu jadi pas keluarga yang jauh juga lagi kumpul di Magelang. Qodarullah, belum waktunya si baby lahir. ditunggu berhari-hari ga ada tanda-tanda sama sekali.Rasa yang dinanti ga kunjung datang. Itu tuh, gelombang cinta yang katanya maknyus itu ga berasa sama sekali. Padahal perut udah terlihat turun, posisi bayi sudah bagus, sudah mulai masuk panggul. Paling rasanya baru kenceng-kenceng aja, konon katanya itu yang dinamakan braxton hicks. Kontrol dokter 2 minggu sebelum tanggal 20 Oktober, dokternya sudah kasih surat pengantar kalo sewaktu-waktu keluar flek, ketuban pecah, atau mules datang. Klo belum berasa juga, tanggal 21 disuruh balik kontrol (soalnya tanggal 20 nya hari libur).Mas yang udah berusaha nungguin di Magelang dari hari raya Idul Adha jadi galau, pengennya nungguin istrinya ini lahiran, tapi ga mungkin juga cuti lama-lama.

21 Oktober 2013
Sesuai kata dokter, Senin ini saya kontrol lagi ke dokter. setelah di USG dokter bilang plasentanya sudah mulai mengapur, tunggu sampai tanggal 23 Oktober. Kalo sampai tanggal segitu belum ada tanda-tanda juga, terpaksa harus induksi, itu pun kalo masih pengen melahirkan dengan normal. Wew, lumayan panik. Membayangkan katanya diinduksi itu kan sakiit banget ya.. Mendengan berita itu, berusaha tetep tenang sambil telp mas yang masih di Jakarta. Kata mas, besok coba kontrol dulu aja ke dokter lain cari second opinion.Jadilah besoknya mencoba kontrol ke dokter lain. Kata dokter kedua ini, plasentanya memang sudah mulai mengapur tapi bisa ditunggu sampai hari Sabtu dengan tetap menghitung gerakan janin. Fyuuh, oke kami putuskan untuk ikut kata dokter ini. Kalo sampai Sabtu ga keluar juga, berarti ya mungkin saatnya induksi.

Hari-hari selama sepekan itu, jadi sedikit tegang. Masih berusaha untuk lahiran secara normal, makin banyak jalan-jalan, senam hamil, goyang Inul, ngobrol sama bayi supaya cepet keluar. Tetap aware dengan gerakan janin. Baca-baca cerita lekahiran lewat waktu. Dan itu sedikit banyak membuat saya semakin yakin bahwa si bayi ini memang belum pengen keluar.

26 Oktober 2013
Due date.. Sampai Sabtu ini sama sekali belum ada tanda-tanda. Tapi mau ga mau tetap kembali kontrol ke dokter. sabtu ini rencana ke dokter yang kedua,walaupun agak tegang tapi masih sedikit santai. Pasrah juga sih kalo hari ini mungkin emang harus induksi. Bayangan saya nih, saya kan belum pernah melahirkan. Jadi mau sakit kaya apa, tetep aja judulnya sakit kan. Jadi kalau diinduksi rasanya sakit banget dan lebih sakit daripada proses normal, dalam pikiran saya sih ya jatuhnya tetep sakit kan. Jadi seharusnya ga masalah dengan rasa sakit.

Janjian pukul 09.00 dengan sang dokter, eh tapi ternyata ditunggu beberapa lama si dokter ga muncul-muncul. Belakangan dikabari kalo dokternya lagi operasi, jadi baru bisa datang sekitar jam 12.00. Kecewa sih, kenapa ga dibilang dari tadi. Mana nunggu udah lama ini. Tapi lega juga, karena ada jeda waktu lagi, siapa tau tetiba ada keajaiban, trus berasa deh gelobang cintanya. Tapi harapan tinggal harapan.. Pukul 12.00 balik lagi ke rumah sakit untuk ketemuan sama dokter. Hasilnyaaa...dokter memvonis hari itu juga untuk diinduksi karena sama sekali belum ada tanda-tanda, plasenta sudah mengapur, dan belum ada pembukaan sama sekali. Yasudlah pas di ruang dokter itu, saya dan mas sudah ikhlas. Kayaknya sudah rela kalo mau induksi hari itu, Jadinya kami memutuskan untuk masuk ke rumash sakit ba'da ashar. sudah sempat mau book kamar juga,tapi ternyata belum boleh.

Benarkah saya sudah pasrah dan ikhlas..? ternyata tidak, Justru ketika sampai rumah (mampir dulu ding, ke rumah eyang) dengar banyak masukan dari bude, tante, sepupu, saya malah jadi stres. Kesel juga sih, udah dikabari sorenya saya mau masuk RS, mau induksi, bukannya disupport, didoain, malah ditakut-takutin kalo induksi bakal sakit banget, sc aja. Begitulah saya yang punya tingkat stres tinggi tetiba down. Langsung dunk nangis. Rasanya pengen cepet sampe rumah, bobok siang, trus sore ke RS,ga mau lagi denger omongan-omongan negatif. Pelajaran deh, jangan denger omongan-omongan negatif biar ga semakin down atau semuanya akan semakin kacau.

Sorenya, setelah alhamdulillah berhasil bobok siang dengan suksesnya, bangun-bangun udah lumayan seger dunk. Kami, saya, mas, dan mama, ngobrol lagi. sore itu harus segera mengambil keputusan untuk induksi. Setelah berbincang-bincang santai, akhirnya diputuskan untuk kalopun induksi, di rumah sakit pertama pertama aja soalnya rumah sakit itu rasanya lebih homy. Jadinya kami ga jadi masuk rumah sakit kedua, dan memilih untuk balik ke dokter pertama supaya nanti kalo dirujuk induksi hari itu sudah langsung masuk rumah sakit. dokter pertama baru praktik malam setelah maghrib, jadi masih ada sedikit waktu untuk siap-siap.Bersiap membesarkan hati, bersiap menerima keputusan, dan yang pasti siap untuk melaksanakan induksi.

Penantian menunggu nomor dipanggil...Berusaha santai, masih sempat minum ronde :D Sampai akhirnya nomor antrian dipanggil. Begitu masuk dokternya kaget, soalnya belum ada tanda sama sekali. Begitu USG, area plasenta yang mengalami pengapuran makin luas. Tapiii..kali ini rekomendasinya benar-benar tak terduga.. Kata dokter, :tunggu aja ya sampai Sabtu depan, kalo belum lahiran juga ya terpaksa diinduksi". Wow banget..Alhamdulillaaahh..masih diberi tenggat waktu lagi sama dokternya...soalnya masih sangat yakin, insya Alloh masih bisa lahiran normal. yakin..yakin..yakin.. !!

Pulang dari dokter, berasa legaa..bahagiaa... :D Seneng tapi masih harus mengeluarkan effort pemberdayaan diri untuk merangsang lairan secara normal. Makin giat melaksanakan berbagai latihan yang merangsang kelahiran. Terus berhubung masih ada seminggu lagi, berarti Mas harus balik dulu ke Jakarta untuk rencana pulang ke Magelang minggu depannya.

 31 Oktober 2013
Tengah malam..
Hampir terbangun tiap satu jam, soalnya perutnya sakit. Rasanya perutnya keras, durasinya cuma 1 menitan. Lagi mikir, jangan-jangan ini udah mulai kontraksi yaa...Tapi rasanya ngantuk juga.. Ah, sudahlah sambil dihitung frekuensinya. Kalo beneran kontraksi, harusnya makin rapat.Berusaha untuk tidur, tapi ga bisa tidur pulas karena tiap jam pasti kebangun...

Paginya, rasa sakitnya masih ada. Tapi masih menyempatkan diri untuk jalan-jalan seputaran lapangan bola. Sambil nahan sakit. Kalo sakitnya datang, berhenti dulu. Waktu itu belum ada yang tau kalo udah mulai kontraksi. Habisnya takutnya pada heboh :D Pulang jalan-jalan, masih sempat makan mangga. Terus berpikir untuk segera tidur. Habisnya ngantuuk. Pikir saya, kalo hari ini beneran lahiran, paling ga saya harus mempersiapkan tenaga, makanya  butuh tidur. Maak nanti pas lahiran ngantuk siih :D. Tapi ya tetep ga bisa tidur. Kontraksi datang makin rapat, sekarang udah tiap setengah jam..Terus ga berapa lama udah tiap 15 menit. Saatnya telp Mas yang masih di Jakarta. Begitu telp dengan santainya Mas bilang mau pulang malamnya naik kereta (soalnya emang udah rencana pulang Kamis malam itu, Jumat mau ijin ga ngantor).

Pukul 11.00
Kontraksi masih tiap 15 menit dengan durasi makin panjang. Telp mama yang lagi di kantor ngabarin kalo udah mulai kontraksi. Ga berapa lama mama pulang, bilang ke RS nya kalo udah flek atau pecah ketuban aja biar tenang, ga panik nunguin di RS. Oke  lah setuju. Kami masih sempat makan siang bareng terus solat dzuhur jamaah. Selesai solat itu, baru ke toilet dan ternyata sudah keluar flek. Oke, perjuangan dimulai, pikirku. Ini saatnya...

Ga menunggu waktu lama, kami- aku, mama dan papa- segera ke RS. Sampai sana langsung di cek ternyata udah bukaan 3. Wow, alhamdulillah. Kata bidannya, sesuai teori tiap 1 jam pembukaannya nambah 1, jadi kemungkinan setelah maghrib lairannya. fyuuh. Kembali telp MAs mengabarkan berita terbaru. Mas baru panik, akhirnya ga jadi naik kereta malam, segera cari pesawat, yang ternyata baru ada jadwal ke Jogja pukul 18.00. Yasdahlah. Padahaaal, pengennya pas saat-saat itu ada Mas yang nungguin. Tapi mungkin karena ga ada Mas itu rasanya jadi merasa lebih tabah. Kalo ada Mas kan bawaannya jadi manja ya.. :D Dari ujung sana, Mas cuma pesenin, kalo pas kontraksi datang, jangan nangis, jangan teriak-teriak, istighfar aja. Simpan tenaganya. Pesen itu tok yang saya inget, dan itu yang bikin tabah. 

Pukul 15.00
Rasa ontraksinya makin maknyuus. Udah ga nahan, antara rasa akit kontraksi dan pengen pup. Karena ga nahannya panggil bidan lagi. Di cek lagi masih bukaan 3. Apaaa..!! udah dua jam masih bukaan 3 TT. Terus bakal molor dunk lairnya, kataku. Sang bidan menenagkan,katanya belum tentu juga. Terus dikasih pencahar, katanya biar pup dulu. Setelah dikasih pencahar, agak lega. Karena pas mules itu ada yang bisa dikeluarin :) Selama hampir 2 jam, kerjaan saya cuma bolak balik toilet aja..sampai sekitar pukul 17.00 karena ada pasien lain, saya ga bisa pake toiletnya lagi. Akhirnya baring aja di tempat tidur sambil merasakan gelombang cinta yang semakin menjadi. Berganti-ganti posisi, dari miring, telentang, nungging, kaang-kadang sampe peluk mama kenceng-kenceng. Nafas udah tinggal separo-separo. Udah ga bisa diajak ngomong. Waktu Mas telp, pengen ngabarin kalo udah di bandara, denger kaya gitu, udah makin panik.

Pukul 18.00
Rasanya udah bener-bener ga tahan. Bidan dipanggil lagi, dan ternyata udah bukaan 9. Alhamdulillaaah. Udah boleh ngeden.. Alhamdulilllaah. Mama ngabarin Mas, kalo udah mau proses lairan tepat saat Mas mau naik ke pesawat. Ketika proses ngeden dimulai rasanya legaa banget. Bahkan sampe diselingi becanda dan ngobrol-ngobrol sama bidannya (saya memang minta lairan sama bidan soalnya dokternya cow :D ). Mama dan bidannya sampe heran, lagi sakit-sakit begitu masih sempet ngobrol :D. Yaa saya pikirnya sih ga mau dirasain sakitnya. Soalnya yang berasa emang bukan sakit tapi pegel. jadinya ya berusaha enjoy dengan prosesnya. Ngeden sekuat tenaga, disemangatin sama mama dan bidannya. Katanya kepalanya udah keliatan, terus lebih kuat lagi ngedennya -belakangan baru dikasih tau mama kalo pas itu sebenernya kepala bayinya belum kliatan. Cuma dikasih semangat aja. karena begitu hampir nongol langsung digunting dan bayi ditarik sama tangan bidan -_-"

Ga sampai satu jam, bayi yang nanti itu keluar. Alhamdulillah..Allohu Akbar.. Rasanyaaa...amazing banget. Bayi yang 9 bulan di dalem perut itu akhirnya keluar juga. Begitu keluar langsung nangis. Ga sempet IMD soalnya saya nya dudul (ga usah diceritain deh, dudulnya :D ). Yang penting keluar bayinya sehat, sempurna. Alhamdulillaah banget. setelah keluar sempat saya peluk sebentar untuk kemudian dibersihkan sama bidan. Ga berapa lama diaksih lagi ke saya. Bayinya lucuu banget. imuut.Udah ga berasa lagi sakit kontraksi yang tadi. cuma syukur dan syukur aja.  Happy to be a new mother :)) selanjutnya Nadya diadzanin sama papa, soalnya Mas masih di pesawat :D

Proses melahirkan belum selesai, masih ada sesi menjahit yang katanya sakiit banget, melebihi sakit waktu ngeluarin bayi. Tapii tenryata...ga sama sekali. Maksudnya ga sakit sama sekali. Apa karena dibius ya.. Ga tau lah, yang jelas selama proses menjahit itu, daripda saya bete (udah ga ada yang nungguin di ruang bersalin), saya udah pegang hp aja. Telp bapak mertua-yang ternyata ga diangkat, terus sms mama mertua (ga telp soalnya mama mertua lagi menjalankan ibaah haji, takutnya pas lagi prosesi ibadah apa gitu) yang kemudian malah mama mertua yang telp. Habis itu ngabarin teman-teman via grup WA. Jadi selama menjahit itu, blas ga ada rasanya. Ga usah nanya saya dijahit berapa. Soalnya bidannya ga mau ngasih tau. Katanya banyak gitu aja.. Yowislah, yang penting ga sakit :p Selesai menjahit masih harus observasi 2 jam soalnya hb saya rendah, khawatir kalo tiba-tiba terjadi pendarahan. Saat observasi itulah, Mas baru datang TT. Ga apalah..semua sudah terlewati. Yang dinanti sudah hadir. Toh saya pikir kalo Mas ada, bisa jadi Mas ga tega juga liat prosesnya :))

and the strory goes...
3 bulan sudah menjalani hari-hari bersama Nadya.. Ada rasa cemas, khawatir, lelah saat-saat awal kehadirannya. tapi diantara rasa itu, tentulah rasa bahagia yang paling mendominasi. Semoga kami, papa dan mamanya Nadya mampu menjadi orang tua yang shalih dan menshalihkan keturunan kami. Aamiin.. :-*

Fresh from the oven


Rabu, 12 Februari 2014

Surat Untuk Nadya

Suatu hari, seorang anak bertanya kepada ibunya,
" Ibu, jika ibu memiliki permata dan berlian, apakah ibu akan menitipkannya kepada pembantu ibu..?"
" Tentu saja tidak, Nak..."
"Kalo begitu, kenapa ibu menitipkanku kepada pembantu..?"
"....."

(dikutip dari Kita dan Buah Hati)



Jika kelak, Nadya bertanya seperti itu kepada mama, mama tak tahu harus menjawab apa,
Karena sungguh mama dan ibu-ibu di luar sana tak akan ada yang tega meninggalkan anaknya dengan orang lain,
Apalagi mama ini orang yang mudah panik dan cemas,
Meninggalkan Nadya bersama orang lain, sungguh-sungguh membuat hati mama tidak tenang,
Mau sepandai apapun pengasuh Nadya,  mama seolah selalu mencari-cari kesalahan mereka,
Karena mama cemburu, sayang..
Mama ga mau Nadya lebih dekat dengan pengasuhnya..:'(

Nadya sayang,,
Mungkin suatu saat nanti, kamu juga akan bertanya kepada mama, 
"Mama, kenapa mama ga berhenti kerja aja..?"
Tahukah, sayang,,pertanyaan yang sama pernah mama lontarkan juga kepada eyang putri Nadya..
Bertahun kemudian, baru mama tau jawabannya..
Yang kelak mama syukuri karena eyang putri Nadya adalah seorang pekerja,
eyang putri Nadya selalu mengajari mama,
bahwa menjadi wanita menjadi wanita juga berhak menjadi apapun,
mengejar cita-cita,
bersekolah tinggi, 
Tentu dengan tidak meninggalkan kodratnya,
Tidak meninggalkan kewajiban utamanya sebagai wanita..
Dua wanita yang sangat mama kagumi dan hormati, eyang putri dan Nenek Nadya..
Kelak saat Nadya dewasa, Nadya mungkin juga akan kagum dengan mereka,
Mereka adalah sosok wanita pekerja yang juga ibu rumah tangga,,
Walaupun berkarier di luar rumah, mereka tetaplah ibu yang baik untuk anak-anaknya..

Nadya shalihah,,
Dengar kata mama ya shalihah..
Nadya memang tidak selalu berada di bawah pengawasan mama,
Di saat-saat mama tidak bisa menjaga Nadya, mama selalu berdoa semoga Alloh menjaga Nadya,
Mama hanya menitipkan Nadya pada Alloh semata,
Bukan pada pengasuh Nadya, bahkan saat mama ada pun,
Mungkin mama tidak selalu bisa mengawasi Nadya,
Biarkan Alloh yang mengawasi dan menjaga Nadya,
Nadya shalihah juga jangan lupa berdoa semoga Nadya, mama, papa diberi keselamatan selalu,
Semoga Alloh memberikan keberkahan untuk keluarga kecil kita..

Papa dan Mama sayang Nadya karena Alloh :-*




Jumat, 07 Juni 2013

Separuh Perjalanan

Berawal di akhir Januari ketika badan menunjukan sinyal yang tidak seperti biasa. Badan terasa lelah dan berat. Hampir menjelang sore, perut terasa kembung yang menimbulkan rasa sangat tidak nyaman. Belum lagi suhu tubuh yang hampir tiap hari terasa panas. Pikir saya, mungkin tanda-tanda mau "dapet" kali ya..Walaupun agak sangsi juga sih, secara baruuu aja selesai haid pekan lalu. Masa udah mau dapet lagi. Si mas yang bilang, "jangan-jangan hamil".. Hmm ya...bisa jadi sih..Tapi..tapi..tapi..ah ga tau deh.Harap-harap cemas.. "Beli testpack aja yuuk. Biar jelas hamil apa enggak. Kalo ga hamil ya segera berobat lah. Kalo kaya gini kan jadi bingung mau digimanain.", kata Mas waktu itu. Saya bilan, " Ntar aja deh, kalo udah telat baru beli, toh tes sekrang belum tentu kliatan hasilnya. Kan masih awal-awal belum terdeteksi." Mas ngalah..baiklaaah hari-hari penuh harap dan cemas. Dan sepanjang penantian itu, badan tak kunjung membaik. Bahkan terkadang perut terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk. Bau kopi yang biasanya saya suka itu tetiba menjadi bau yang membuat mual. Belum lagi nafsu makan yang gila-gilaan. Bawaannya lapeer aja. Tapi belum ada nyali juga untuk beli testpack. Sejak menikah, kami memang ga ingin menunda punya anak. Jadi kalo ternyata ini ga hamil, pastinya ada rasa-rasa kecewa juga kan ya. Jadinya yaa...menunggu sampai benar-benar telat aja deh. :)

Tengah Februari 2013..Rasanya makin deg-degan. Hampir tiap hari ditanya Mas, "jadi dapet ga?". dan sampai hari itu si tamu belum kunjung tiba. Akhirnya pada due date nya, 13 Februari 2013, tamu ga datang juga, kami putuskan. "Oke, beli testpack. " Lucu juga waktu mau beli testpack. Udah sampai di depan apotek, saya maluu banget waktu mau beli. hahah..akhirnya Mas aja yang masuk ke apotek buat beli. Dan cuma beli satu buah tok. Agak-agak gimana gitu, kok ya belinya cuma satu. Tapi Mas bilang, emang barangnya tinggal satu itu tok. Mana belinya juga yang paling murah. :D Yasudlaah..kita liat aja..Ga sabar menunggu pagi datang..  :)

Bangun subuh seperti biasa. Langsung ambil testpack yang sebelumnya dibeli. Agak canggung pegang benda itu. Baru bener2-bener pertama kali sih pegang benda kaya gitu. Dan ga pernah liat orang pakai gimana caranya. Deg-deg an takut salah pakainya, kan jadi ga akurat yaa..Mana cuma punya satu pula. secara seksama dibaca petunjuk pemakaiannya, diikuti langkahnya dengan hati-hati. Setelah dicelup, tunggu sebentar. Rasanya makin ga karuan. Positig-ga-positif-ga-positif-ga. 2 Menit berlalu...Testpack diambil. Ada sebuah garis merah marun, dan sebuah lagi garis merah muda yang masih sangat samar-samar. Bengong..Kata petunjuknya, klo garisnya dua berarti positif. Tapi, ini garis yang satu tipiiis banget. Jadi, positif ga ya...Tapi klo baca-baca, biar masih tipis artinya udah positif. Ga pede memutuskan.. Yaudah solat subuh dulu aja, sambil tunggu Mas pulang dari masjid. Sepulang Mas dari masjid, saya tunjukin lah hasil testpack itu, kata Mas, "Ah, udah ini. klo udah dua udah pasti positif. Ntar kita periksa deh ke dokter". Ooh gitu yaa..Masih bengong..Rasanya aneh mendapati diri ini sudah berbadan dua. Rasanya seneng, panik, takjub, campur aduk deh.. Berhubung dua garis merah itu, anggap saja saya sudah hamil. :D  Kebetulan siang itu Mas harus berangkat dinas ke luar kota. jadi dalam waktu dekat kami belum bisa ke dokter untuk memastikan kehamilan. Tapi sekali lagi, saya anggap saya sudah hamil Meski belum berani cerita-cerita ke orang-orang bahkan ke ortu. Pikirnya nanti saja klo udah dari dokter. Dan biar sudah menganggap diri hamil, hari-hari itu saya masih pecicilan. Jalan masih suka cepat-cepat yang berakibat, masih bisa angkat baju bersih ke lantai dua buat dijemur, masih suka naik turun tangga..yang tentu saja berakibat nyeri. Aah, tapi masih suka cuek. -_-" dan nyeri itu masih sering muncul bahkan menjadi-jadi. Sampai akhirnya karena khawatir, malam itu kami memutuskan untuk ke bidan dulu. Kenapa ga langsung ke dokter..? Soalnya menurut referensi yang ada, dokter wanita yang praktik malam itu ga ada. Jadilah ke bidan dulu. Kata mbak Bidan, kalo ditestpack udah dua garis, udah hampir pastilah hamilnya. Udah akurat itu. trus nyerinya itu karena terlalu banyak gerak. Jadinya diminta untuk ga banyak aktivitas dulu. Oke, baiklah. Legaaa...

Eh, tapi ternyata..Kunjungan pertama ke bidan tidak membuat semakin membaik. Yang ada, saya jadi berasa sering mual dan terkadang muntah. Kata orang-orang sih itu psikologis aja. Biasanya setelah tau hamil, wanita cenderung jadi menampakkan gejala kehamilan. Yasudahlah klo mual dan muntah aja, kan memang umumnya orang hamil ya. Tapi yang tidak biasa itu kalo pas hamil keluar flek. Iyaaa.. senin itu saya pulang malam karena masih ada rapat. sepulangnya dari rapat itu, saya mendapati ada flek. Kagetlah. Setelah searching-searching di internet, flek di awal kehamilan bisa saja terjadi akibat janin yang menempel di rahim. Sedikit tenang sih, tapi ga bisa benar-benar tenang. Akhirnya diputuskan keesokan harinya bolos kerja dan ke rumah sakit untuk memastikan kehamilan. 

Kunjungan pertama ke dokter kandungan. Karena butuh segera, asal dokter aja yang penting dokternya wanita. Mas pagi-pagi sudah ke RSI untuk pendaftaran dan juga memastikan dokter wanita yang praktik pagi itu. dapatlah sebuah nama dokter yang sepertinya wanita. Pukul 09.00 pagi Mas pulang lagi untuk jemput saya. Menunggu hampir 1 jam hingga nama saya dipanggil. Begitu masuk ruangan, kagetlah kami karena ternyata dokternya adalah pria TT. Tapi berhubung sudah mendesak untuk menanyakan flek itu, yasudlah dengan sangat canggung kami berhadapan dengan dokter tersebut. setelah di USG, Alhamdulillah kantung kehamilan sudah kelihatan. Perihal flek yang kami tanyakan, dokter itu sedikit kaget tapi cuma memberi saya obat penguat. setalh USG agak lega sih, karena berarti hamilnya beneran. Tapi merasa ga puas dengan konsultasi ke dokter tersebut. sudah dipastikan visiting berikutnya kami ga akan ke dokter itu lagi. Kalo perlu ga di RS itu juga.

Hari-hari selanjutnya, ternyata flek itu masih muncul. Meski bukan lagi berupa darah merah, tetapi hanya semburat warna coklat muda. Bahkan perut rasanya kencang kaya kram. baiklah, ini pastilah ada yang tidak beres. Jumat selanjutnya saya ngantor cuam setengah hari, karena kram yang masih melanda. Memutuskan untuk ke dokter lain sore itu. Dapatlah seorang dokter wanita yang praktik sore itu di RS dekat rumah. Namanya dokter laris ya..antrenya na'udzubillah. visiting pertma itu kami baru masuk pukul 1/2 12 malam. Iya..nunggu dari habis Isya baru masuk jam segitu. Dan di setelah kami masih ada beberapa orang yang menunggu antrean. Bener-bener deh dokter ini, kapan tidurnya yaa... Tapi biar antre panjang dan masuk baru tengah malam, kami merasa cukup puas. Begitu masuk dan di USG (dengan dokter ini, kami diberi opsi untuk melakukan USG transvaginal karena untuk lewat perut belum terlihat jelas), dokter langsung menebak klo saya sering kram dan flek. Dan memang karena begitulah. Tapi untuk penyebabnya, dokter tersebut belum bisa memastikan. Saya diminta untuk menjalani tes darah dulu. Jadilah malam itu saya tes darah, dan hasilnya akan diberitahu beberapa hari kemudian. Rasanya nunggu tes itu udah panik aja. Sempat sih dalam posisi ikhlas dan pasrah seandainya kehamilan saya ini tidak bisa dipertahankan.Berharap yang terbaik saja. 

Beberapa hari berlalu, kami dikabari RS bahwa hasil tes sudah jadi.Yang ternyata hormon progesteron saya rendah. Hal itu yang menyebabkan sering terjadi flek. Belum ada tindak lanjut karena kami pikir masih harus visit dokter lagi untuk menyampaikan hasil lab tersebut. Eh, tapi beberapa hari kemduian RS menelpon bahwa dokter kami itu sudah melihat hasil tes darah itu dan sudah meresepkan obat, tinggal tebus saja. Pada titik itu, kami sih merasa sangat puas dengan pelayanan dari RSIA tersebut. Jadi kan ga perlu konsul ke dokter dulu, trus nebus obat lagi. Yaaa..kalo konsul lagi kan berarti keluar duit lagi... :D  Dan alhamdulillah, setelah datang ke dokter tersbut, flek tak lagi datang. :)

Perjuangan tak sampai disitu. Setelah flek, saya tepar. Tepar dalam arti sebenarnya. Mual yang makin menjadi. Ditambah susah makan. Makan apa saja keluar lagi. Dan karena tidak ada makanan yang masuk itu, tubuh jadi sangat lemas. Jadilah saya ambil cuti. Hampir sepekan di rumah ga bisa ngapa-ngapain. Berbaring aja. Bahkan untuk solat kadang sampai ga kuat berdiri. Rasanya sediiih. Laper tapi susah makan. Makan nasi dikit saja udah pasti dimuntahin lagi. Kadang makan buah masih bisa masuk. Tapi lebih banyak ga bisa ada yang dimakan. Kasian liat Mas yang panik. mesti bolak balik kantor, atau seringnya ijin demi menunggui istrinya ini. Kerjaan rumah udah ga kepegang sama sekali. Lagi-lagi Mas juga yang harus turun tangan, mengerjakan semuanya. 

Sepekan setelah tepar itu, saya sudah semakin lemas. Ga ada makanan yang bisa masuk. sudah kepikiran kalo begini terus bisa jadi diinfus ini. Akhirnya malam itu kami mendatangi bidan yang berujung diberi obat mual. Mbak Bidan bilang kalo ga bsia makan nasi, boleh lah diganti yang lain, seperti kentang, roti, ubi, jagung. Apa aja yang penting ada karbohidratnya. Setelah dari situ, dan minum obat mual. saya jadi lebih baik sih. Masih belum makan nasi, Mas dengan senang hati menyiapkan kentang goreng. Lauknya bisa sosis, nugget, fillet ayam, atau telur. Tergantung permintaan "Kanjeng Ratu" :p . Yaa..sejak itu kalo mau makan mikir dulu sih, saya pengennya apa. Biar makanannya bisa masuk dan sayanya doyan. Selama beberapa pekan, saya akhirnya makan selain nasi. Bosan dengan kentang, makan jagung. Kadang makan mie atau bihun atau roti. Bubur masih bisa dimakan sih. Tapi Alhamdulillah seiring berjalan waktu, saya kembali bisa makan nasi. Dan bisa makan apa aja. Dan sekrang ini, justru bawaanya lapeer terus. Sebentar telat makan, rasanya laper dan lebay kliatannya. habisnya udah langsung mual, lemes, kaya orang mau pingsan :D

Semakin kesini, Alhamdulillah kondisi saya semakin membaik. Nafsu makan sangat baik. Walaupun berat badan belum naik banyak, pun terakhir kali visit dokter, berat janin saya masih dibawah normal. Tapi secara keseluruhan sudah membaik. Kalo dilihat, perutnya juga belum keliatan besar sih. Secara dari sananya saya emang kurus, jadi lemak di perut emang sedikit. Jadi klo ga kliatan masih wajar kan ya..:)

Pekan ini usia kehamilan saya sudah menginjak 20 pekan. Sudah separuh perjalan. Tinggal separuh perjalan lagi untuk bertemu si baby, insya Alloh. Semoga di sisa separuh perjalanan ini, semuanya berjalan lancar. Ibunya sehat, bayinya sehat, bapaknya juga sehat  Bisa melahirkan normal. dan kelak si baby menjadi anak yang salih.Aamiin...

Kalo ditanya, pengen anak cew ato cow, saya bilang sih saya pengen anak cew biar bisa dipakein baju pink :D *timpuk emaknya. Tapi apapun itu, mau cew ato cow, insya Alloh tetep seneng kok. yang penting kan sehat ya... Mohon doanya ya teman-teman :))




Terima kasih sangat untuk Cinta..
yang telah begitu bersabar menemani dan merawat kami...;')


Selasa, 23 April 2013

After Hiatus

Setelah berhiatus sekian lama akhirnya kembali lagi mengunjungi rumah yang tampaknya sudah memiliki sarang laba-laba. Dengan sedikit memaksakan diri akhirnya memutuskan untuk kembali mengunjungi rumah ini, mengingat belakangan ini kemampuan otak mulai menurun. Apa hubungannya...?? Yaaa...setidaknya kalo saya mulai bersih-bersih rumah, isi-isi rumah lagi, otak saya kembali terpakai.. :D  Ah, bilang aja kemarin-kemarin malas sekali menulis.
Jadi..apa kalian menanti cerita-cerita saya setelah menikah..?? Iissh...narcisnyaaa.. Baiklaah, berita pertama saya setelah 4 bulan ini menikah, saya ketularan narcis suami saya..:D  Itu berita penting ga pentingnya... Tapi berita seriusnya, saya mau nulis kelanjutan postingan terakhir saya, yang berarti cerita setelah menikah.
Januari 2013
Awal tahun baru, awal kehidupan saya yang baru pula. Setelah menikah, kami langsung menempati rumah kontrakan yang sebelumnya sudah disiapkan Mas. Disinilah kehidupan rumah tangga kami sebagai sepasang suami istri dimulai.
Sebulan pertama yang berwarna di kehidupan kami. Dulu jauh sebelum menikah, saya selalu membayangkan menjadi istri itu berarti harus bisa masak, pinter beres-beres rumah, rajin nyuci dan setrika, dan berkutat dengan berbagai urusan domestik lainnya. Nyatanya, hingga saya menikah, saya gagal belajar masak. Yang berarti bayangan saya, bahwa setiap hari istri harus masak dan membawakan bekal makan siang pupus sudah. -_-"
Alhamdulillah suami saya bukan orang yang rewel tentang makanan. Pun beliaunya lebih jago masak. Jadinyaa...untuk urusan masak, saya ga ambil pusing. Beliau lebih seneng masakin buat istrinya ini. Suka juga belanja.Walaupun kadang-kadang minta juga saya yang memasak. Tapi jaraaaang banget. Habisnya sayanya lebih sering minder kalo disuruh masak.. :D  Hingga hari ini, ga sampe hitungan jari saya masakin buat beliau. Pun untuk belanja ke pasar..hmmm ga bisa dibanggakan sih jadi istri model begini. -_-"
Urusan domestik lainnya..? Masih bisa kepegang dan dikerjakan bersama. Maksudnya ga semua-semua harus dikerjakan istri kok..:))
Selama Januari ini, kami juga disibukkan dengan urusan kuliah. Bulan tersebut kami menjalani sidang. Kami kuliah di universitas berbeda, tapi kebetulan jadwal sidang kami sama-sama di bulan Januari. Hasilnya, Alhamdulillah kami berdua dapat lulus dengan baik...:))
Hari-hari selanjutnya, kehidupan semakin penuh warna. Ada rencana-rencan yang ingi  direalisasikan. Ada pengharapan yang ingin segera terkabul. Dan tak selamanya warna itu cerah, terkadang kami berhadapan dengan warna gelap. Namanya manusia yang tak selamanya sempurna. Sebulan beinteraksi, mulailah baik buruknya sisi seorang terlihat. Yang kadang bikin kesel, gemes, hingga air mata pun menitik. Ah, tapi namanya rumah tangga, ga seru juga kalo ga ada begitunya ya..:D Tapi biasanya setelah kesel kesel dan gemes, cukup sebuah pelukan dan semuanya akan kembali baik. :)
Februari 2013
Inginnya, di bulan ini kami udah mulai bisa jalan-jalan, klayapan, ato merancang honeymoon. Tapii  takdir berkata lain, kami belum bisa juga merealisasikan rencana itu. Dan sejak menikah hingga skarang, kami baru sekali pergi klayapan ke luar Jakarta. Itu pun cuma ke Depok, pas yudisiumnya Mas tok. Setelah itu hingga sekarang belum pernah kemana-kemana lagi. Jadi jangan bertanya kami honeymoon kemana karena tenyata Alloh punya rencana yang jauh lebih indah..:)) Jadi...apa rencana Alloh untuk kami..?? Hmm..lanjut diposting selanjutnya saja. Biar saya dipaksa nulis lagi..:))
Published with Blogger-droid v2.0.9

Kamis, 31 Januari 2013

Long Journey till I Find My Way Home to You.. (part II)

Lanjutan ceritanya..Cerita sebelumnya bisa dibaca disini.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

-->
Ingatlah Alloh, karena dengan mengingatNya, hati menjadi tenang..


Apalagi yang bisa ku lakukan selain banyak berdoa. mencari jawab atas pertanyaan dalam hatiku. Robb, diakah..??


Hari-hari berlalu. tak selang berapa lama memang, mb shalihah memberi kabar ibu beliau sedang berkunjung jakarta. Beliau sudah menyampaikan ke ibunya perihal proses ini. Beliau ingin melanjutkan dan ibunya sudah menyetujui pilihannya. hah? kaget lagi. Semudah ini ya. Aku pikir namanya ibu pasti ingin kenal dulu dengan calon menantunya. Ga langsung setuju-setuju aja gitu. Nge blank lagi..Berdoa lagi. Walaupun belum yakin 100%, aku lebih ga punya alasan untuk tidak melanjutkan proses. Sejauh ini, selain perbedaan karakter, tak ada alasan syari untuk menolak memang. Itu pun cukup membuat Nisa awalnya menyatakan ketidak setujuan atas proses ini. Dia bilang kami ini benar-benar tidak cocok. Hal lain yang membuat berat menerimanya memang komentar Nisa ini. Bagaimanapun dia kenal baik kami ini seperti apa. Ketika dia bilang ga cocok, ya memang kami ini ga sama. Bedanya jauuuuh, kaya Bumi dan Langit.


Tapi hati harus bicara. Saat itu, walaupun masih fifty-fifty, keraguanku untuk mengakhiri proses ini lebih besar dibanding keraguan untuk melanjutkan. Alhasil diputuskan untuk dilanjutkan. Setelah diskusi dengan ortu dan curhat ke beberapa orang, ya memang komentar  Nisa  itu baik untuk dipertimbangkan, tapi jangan dijadikan satu-satunya alasan untuk menolak. Lagipula ortu pengen liat dulu orangnya. Baiklah,  proses berlanjut. Masih selalu bertanya pada Alloh dan hatiku.


Di bulan ini pula, untuk pertama kalinya aku dipertemukan dengan ibu. Iya, ibu beliau beserta adiknya dalam sebuah makan malam. Seperti biasa, aku tak banyak cakap. Apalagi dengan orang yang baru ku kenal. Mencoba sih untuk bicara tapi akhirnya memang ga pandai amat. At least I've try the best. Dari pertemuan di makan malam itu, disepakati, beliau akan datang ke rumah ketemu ortu di bulan Mei. Pas libur panjang.


Mei 2012


Hari-hari dimana semakin banyak pertanyaanku tentannya. Benarkah dia benar-benar ingin melanjutkan proses ini. Semudah ini ya prosesnya..? Gimana kalo ternyata bukan dia..? Gimana kalo ternyata dia ingin lanjut proses ini hanya karena buru-buru ingin nikah. Gimana kalo aku mau melanjutkan proses ini hanya karena suatu ketergesa-gesaan. Gimana ya kalo nanti aku ga nyambung dengannya..Masih banyak gimana gimana lainnya..Namun, pertanyaan terbesarku, "diakah..??"


Selalu kembalilah pada Alloh atas setiap pertanyaan. Karena Dia selalu punya jawabannya. Pertanyaanku mungkin terjawab melalui mimpi. Eyang datang malam itu, memandangku dengan penuh senyum. Tak banyak yang beliau katakan. Tapi cukup aku ingat kata-kata beliau di mimpi itu, "nanti tanggal .. sampai … (lupa bilangnya tanggal berapa) ada yang mau datang" ..Aku lupa eyang bilangnya tanggal berapa, yang jelas sehari sebelumnya mb shalihah sudah mengabarkan bahwa beliau jadi mau datang Mei ini. Oke, pikirku bisa jadi beliau ini memang jodohku. Tapi tunggu dulu, tanggal yang disebut belakangan itu masih beberapa hari lagi. Masih ada kemungkinan akan ada orang lain yang datang padaku sampai hari itu..


Hari di tanggal yang Eyang sebutkan


Feelingku benar. Siang itu, mb murobbi menginfokan padaku ada sebuah proposal untukku. Jelas kaget.. Benar sekali dugaanku.. Makin bingung dan galau, itu jelas..


Alloh akan mengirimkan kerikil kerikil kecil untuk menguji sejauh mana komitmen kita


Di lintasan hati itu, aku yakin Alloh sedang menguji komitmenku dengan beliau, Tapi demi tidak menimbulkan crash dengan ortu, aku kembalikan lagi keputusan kepada ortu. Biarkan mereka berdua yang memilihkan suami untuk anaknya ini.


Hari dimana Beliau datang ke rumah


Rasanyaaa,,,deg-deg an banget,, Takut kalo tiba-tiba ditolak ortu.


Beliau sampai rumah tepat di waktu yang dijanjikan. Biasalah pertama ketemu ortu basa basi dulu. Tanya-tanya dulu tentang orang tuanya, keluarganya, kerjaannya, dan sebagainya. Ga berapa lama basa basi ditanyalah sama papa maksud kedatangannya, Ya dia bilang datang kesitu karena kami sudah sepakat untuk menikah (batinku waktu itu, emang kita udah sepakat ya. Kayaknya aku hanya sepakat untuk lanjut aja. Tapi klo nikahnya tergantung lah sama mama papa. Klo mereka enggak setuju, ya berarti ga sepakat :D). Daaan, apa kata papa waktu itu. " Oh ya udah, nanti kapan orang tua disuruh datang. Akadnya di Masjid Agung aja. Trus resepsi di pendopo depan masjid Agung. Nanti pakai pengajian juga..bla..bla..bla.. enaknya sih nikahnya habis pada selesai S1 aja..bla..bla.."  Udah ga ngerti lah pa ngomong apa aja. Tapi demi Alloh kaget, langsung diterima gitu aja, Dalam bayanganku nih, bakal ditanya-tanya dululah, atau ngapainlah. Eh ini langsung diterima aja. Bingung aku,,, Daaan yang lebih membuat kaget. Setelah ngobrol begitu, langsung dunk kami diajak jalan liat masjid untuk akad, gedung, terus ke rumah Eyang, dikenalin Beliau ke saudara-saudara… Heh, bengong aku. Rasanya ga napak Bumi. Gimana ya, ga bisa dibilang seneng banget sih, tapi bingung aja. Beneran nih, yang ini diterima. Beneran nih, aku jadi mau nikah dengan orang ini..Perasaan-perasaan yang tidak dapat didefinisikan. Benar-benar aneh.. Pun setelah itu, sorenya kami mengantar beliau ke bandara. Beliau rencana langsung pulang ke Jakarta sore itu dengan pesawat. Karena ga dapet Damri  dari Magelang, akhirnya papa maksa untuk mengantar sampai bandara. Takjub akuuu.. sebegitu langsung nyambungnya papa mama dengan beliau ini.


Tapi ya mungkin inilah jalannya.. Alloh memudahkan urusan ini. setidaknya sampai titik ini Aku merasa Alloh sudah memberi jawabannya.. Bismillah..Mungkin memang beliau..


Proses slanjutnya setelah kedatangan beliau ke Magelang adalah proses khitbah secara adat.


Jadi kapan ortunya datang .?


Nah, ini yang masih belum fix. Ceritanya ketika beliau itu datang, papa bilang nikahnya habis selesai S1 aja. Yang bisa diartikan tahun depan. Jadi biar kedatangan ortunya juga ga terlalu cepat, akhirnya masih belum dipastikan. Mengingat juga keluarga disana masih memiliki beberapa hal yang harus diprioritaskan dulu. Pun jarak Pomalaa- Magelang ga bisa dibilang dekat. Butuh planning untuk datang begitu.


Hari-hari setelah Mei itu menjadi hari-hari yang penuh harap cemas. Setelah lancar di awal taaruf, sekarang mentok di ortu masing-masing. Di rentang waktu yang bisa dibilang lama ini, kami bahkan ga ada kontak sama sekali. Hal itu sih cukup buat cemas atau aneh ya buat papa dan mama. Orang mau nikah kok ga kenal, ga ada kontak, ga ada ngobrol..yaa..sebenrnya udah biasa sih dibilang aneh..tapi kali ini jadi galauuu.. Tiap hari curhat ke mama hal yang sama. Nunggu tahun depan kelamaan. Akhirnya dengan sedikit lobi-bahasa halus dari rengekan- mama papa luluh..Yaudah tahun ini juga boleh, habis lebaran haji deh. tapi ortunya dateng kesini dulu.


Oke..One problem finished. Tinggal merencanakan jadwal pasti kedatangan ortunya. Setelah melewati beberapa lobi antara beliau dan ortunya, sempat juga sih miss komunikasi diantara kami, akhirnya singkat cerita disepakati bahwa khitbah akan dilaksanakan pada tanggal 1 September 2012. Supaya pembicaraan tidak berbelit panjang, sebelum acara kbitbah itu tanggal pernikahan sudah ditentukan. Siapa yang menentukan..? ma dan pa sih, tapi atas usulan kami berdua. Akad nikah ditentukan tanggal 21 Desember dan resepsi 22 Desember. Acara khitbah hari itu berlangsung singkat tapi padat. Kedua keluarga sudah bertemu. Selesai..tinggal menunggu hari H.


Eh, tapi seenarnya juga belum selesai banget. Jarak antara khitbah dan nikah itu 3 bulan lebih. Lamaa..hahah..Ga perlu ditanya kenapa lama begini. Ga ada satu pun yang ingin berlama-lama tetapi kami juga harus menyesuaikan jadwal kedua kuarga. 3 bulan yg keliatan lama itu, kata ma dan pa cepet banget. Beliau berdua cukup perfeksionis. Jadi dari sejak khitbah itu sudah sibuk. dan hingga tulisan ini dibuat, h-8 mereka masih super sibuk. Semuanya dikerjain berdua. katanya ga puas kalo orang lain yang ngerjain.


Terus gimna dengan calon pengantin..?


Kami berdua relatif ga gitu sibuk (eh, ga tau dink klo beliau ^^). aku sih kadang masih suka bolak balik ke magelang. Untuk acara itu sih, saya cuma bertanggungjawab buat undangan tok. Lainnya dikerjakan bareng sama mama papa, kaya cari souvenir, kostum dsb.. Dan aku sih memang lebih memilih untuk nurut aja. Aku sudah diwejangani, "masa-masa ini adalah masa sensitif.  Jangan sampai buat ortu sakit hati, karena kalo sampe sakit hati, ingetnya bakalan seumur hidup." Baiklah,  klo banyak ikutan pasti banyak bedanya. Mau anak dan ortu kadang kan sering beda. Paling request aja  Yakin kok beda kaya apa, asal ga ngotot-ngototan, akan bisa diambil jalan tengah. yaa.. Kaya mama pengen pake adat lengkap. Akunya ga mau. Terutama di acara siraman. Akhirnya sih siraman ditiadakan. alhamdulillah. Tapi acara panggih tetep ada. Ya baiklaah.. Jalan tengah kan. Yang penting untuk hal-hal yang prinsipil bisa tetap terjaga. Yang penting juga semua senang. Beliau kebetulan juga ga keberatan. Hmm ini sih yang buat aku cukup senang dan tenang. Beliau ga terlalu ribet dan bisa fleksibel dengan hal beginian. Siip laah..^^b


Rasanya menjelang menikah ini lama.Iya 3 bulan itu rasanya lama. menunggu begini sih lamaa..sampai udah bosan untuk menggalau. Dan bukan hal yang mudah memang. Menjaga hati tetap pada posisinya. Aku memilih untuk tidak terlalu larut dalam euphoria, tetapi juga tidak pasif. Jadi jatuhnya kadang keliatan hepi, kadang keliatan ga hepi. Tapi sebenernya hepi. Lebih banyak hepinya malah. Kalo kata temen, kliatan kok hepinya. Air mukanya beda  . Kenapa harus menjaga perasaan tetap ada di tengah..? Dalam jangka waktu lama seperti ini, ada banyak hal yang bisa saja terjadi. Jadi ya hanya bisa berserah sama Alloh. Berdoa semoga semua rencana ini dirihoi, selalu diberi kemudahan, mendapat banyak kebarokahan.


Desember 2012


Menghitung hari menuju hari H.. Hari-hari yang mulai terasa cepat. Diantara kepanikan menuju hari H, panik juga menyelesaikan skripsi  Dan masih sangat menikmati kepanikan ini.


Jadi, apakah cerita aku dengan beliau hanya cukup disini..? Ternyata tidak, Alloh masih menyimpan sebuah cerita tak terduga. Desember ini, berita pernikahan kami sudah mulai menyebar. Banyak orang kaget ketika akhirnya aku menikah, dengan beliau pula. Kami memiliki irisan lingkaran teman-teman sama. Banyak diantara teman-teman yang sama dan saling mengenal.


Malam itu, sebuah sms masuk dari seorang teman. Dia menanyakan apakah aku mau menikah dnegan beliau. Ketika aku jawab iya, dia kaget. Apa yang dia katakan? "Nis, tau ga sih, mas ini adalah orang yang mau akau kenalin ke kamu waktu itu" Subhanalloh.. Waktu itu teman ini memang pernah menawariku utuk dikenalkan dengan seseorang. Tapi aku tolak, soalnya kalo ga salah, aku susah berproses dengan beliau.


Keesokan harinya, teman yang lain men gtalk ku. "nisaaa..gemeesss.Tau ga, dari dulu itu aku pengen ngenalin kalian berdua". Setelah diusut, dulu itu beliau sering minta dikenalin ke akhwat. Dan teman ini sempat kepikiran untuk mengenalkan kami berdua, tapi akhirnya memang niat teman ini belum terlaksana. Waktu itu beliau juga masih belum diijinkan untuk menikah.


Bagiku ini benar-benar kejutan. Pertemuanku dengannya pastilah bukan suatu kebetulan. Alloh sudah mengatur hingga hal yang paling kecil sekalipun, Dan akhirnya semuanya diskenariokan dengan begitu indah. Tak ada satupun yang luput dari Nya. Pa bilang jodoh itu misteri. Mungkin memang begitu adanya. Kenapa aku selalu gagal dalam proses sebelumnya, tentu karena Alloh sudah mempersiapkan seorang yang shalih ini padaku. Kenapa baru sekarang dipertemukan. Karena waktu-waktu kemarin Alloh sedang menempa kami, memberikan kesempatan kepada kami untuk bertumbuh, sama-sama berproses untuk saling memantaskan diri. Hingga akhirnya kami bertemu dalam kondisi yang insya Alloh paling baik menurut Alloh, yang insya Alloh lebih baik juga di mata kami di banding waktu-waktu yang lalu.


Pemilik tulang rusuk akan selalu berjalan mencari dimana tulang rusuknya berada. tulang rusuk akan tahu siapa pemilknya.Dan tulang rusuk tak akan pernah bisa menolak kedatangan pemiliknya, karena namanya bahkan sudah datang jauh sebelum tulang rusuk ini ada..





Subhanalloh..Alhamdulillah.. Allohu Akbar..




Long journey till I find my home to you,. My zauji..


Cemputut, 16 Desember 2012


H-5 until the day..
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekian ceritanya. Panjang ga sih.. :D
Dengan demikian lunas sudah janji saya ya... :))  
 Mohon doanya semoga Alloh selalu merahmati keluarga kami. Memberikan kebarokahan yang banyak. Memberikan keturunan yang salih dan salihah kepada kami..Serta mengekalkan ikatan kami hingga ke jannah Nya. Aamiin..

Jadi orang Jawa
Jadi orang Bugis

 
-->
Terima kasih telah memilihku menjadi istrimu..



Terima kasih telah memilihku menjadi ibu untuk anak-anakmu..



Semoga kebarokahan selalu tercurah untuk keluarga kita..






Love you, coz Alloh...:))