Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2015

Bebas Tb

Masih cerita tentang hidup baru di Januari 2015.. Tanggal 13 Januari lalu, Nadya kontrol terakhir terkait pengobatan Tb nya. Alhamdulillah pengobatannya selesai, dan Nadya dinyatakan sehat. Yey, senang sekali akhirnya Nadya sudah tidak minum obat lagi, bajunya sudah ga kena noda-noda merah lagi..hihi..

Sebelum kontrol terakhir kemarin, Nadya dirujuk untuk melaksanakan rontgent dan tes darah. Berdasarkan catatan hasil rontgent dari bagian radiasi, dinyatakan masih ada infiltrat di paru-paru Nadya.  Menurut analisa dokter, infiltrat tersebut sudah berkurang dibanding infiltrat hasil rontgent paru-paru yang pertama. Infiltrat itu kalo bahasa awamnya, ada flek gitu deh (itu kenapa kalo sakit Tb sering dibilang flek). Sebenarnya kami agak khawatir, karena infiltrat ini belum hilang sepenuhnya. Khawatir kalo pengobatan dinyatakan gagal dan harus menambah atau bahkan mengulanng pengobatan. Menurut pernyataan  dokter, dia sendiri sebenarrnya tidak terlalu yakin dengan hasil rontgent. Alasannya hasil rontgent kadang tidak terlalu jelas, seperti hasil rontgent Nadya yang terakhir ini, kebetulan hasil fotonya memang agak burem, ga sebening hasil rontgent paru-paru pertama (yang pertama rontgent di RSPAD). Tapi berdasarkan analisanya, Nadya sudah dinaytakan sehat dan selesai berobat. Alasannya, selama masa pengobatan berat badan Nadya tergolong bagus, tiap bulan naik, walaupun sedikit. Alasan kedua, selama pengobatan ini, Nadya tidak pernah sakit serius, sebangsa batuk pilek berkepanjangan. Selain itu berdasarkan hasuil tes darah, yang dilihat dari laju endap darah, hasilnya cukup bagus. Jadilah hari itu Nadya dinyatakan bebas Tb. Alhamdulillah...

Sedikit flash back ke Oktober lalu. Jadi bulan Oktober itu, hari terakhir Mas. Yang berdasarkan hasil rontgent dinyatakans ehat, paru-parunya bersih. Harusnya ada tes  dahak lagi, tapi waktu itu dahaknya sudah bener-bener ga bisa keluar. Hihi..Yasudahlah, lihat rontgent saja, sudah bersih dan sehat. Alhamdulillah..

Kalo dilihat dari pemeirksanaan terakhir antara Nadya dan Mas, memang sedikit berbeda. Kalo orang dewasa, hasil rontgent paru-paru bisa akurat. Tapi entahlah kenapa hasil rontgent paru-paru pada anak sulit diinterpretasi. Terkait masih adanya infiltrat di paru-paru Nadya, kata dokternya sih ga masalah. Sepanjang beberapa bulan ke depan, Nadya baik-baik saja, berarti bakterinya memang sudah tidak aktif. Yaa semoga saja begitu.

Sebagai tambahan informasi, kemarin saya menanyakan ke dokter terkait efektivitas imunisasi BCG. Secara imunisasi tersebut kan termasuk imunisasi wajib dan berfungsi mencegah penyakit Tb. Pada dasarnya, imunisasi ini, dan semua jenis imunisasi sih, tidak bisa 100% mencegah penyakit, tetapi hanya bisa mengurangi dampak dari penyakit tersebut. Contohnya Tb ini. Nadya dan Mas kan sudah pernah imunsisasi, jadi kemungkinan bakterinya hanya hidup di paru-paru. Bisa jadi jika belum imunisasi, bakteri bisa menyebar ke seluruh tubuh yang mengakibatkan Tb jenis lain seperti Tb otak, Tb tulang, dan sebagainya. Tb jenis lain ini yang lebih membahayakan, karena gejalanya bisa bermacam-macam. 

Begitulah, ujian kami di 2014. Alhamdulillah berakhir di 2015. Semoga Alloh selalu memberi kesehatan dan keberkahan untuk keluarga kami.. Aamiin..




*betewe, baru-baru ini teman kantor saya positif Tb. Beliau setiap hari memang naik KRL, tapi sudah selalu pakai masker. Sepertinay Tb sudah mulai mewabah lagi..Aware yaa.. :)


Kamis, 25 September 2014

Ujian itu Bernama Tb (part 3)

Kami melanjutkan pengobatan Nadya di RSPAD. Alasannya ya karena suami saya juga sudah menjalani pengobatan disitu. Di RSPAD ambil dokternya juga acak, seadanya yang praktik pas kami datang hari itu. Kami bertemu dengan dokter pria yang belum terlalu tua. Kesan pertama, dokter ini tampak menyenangkan dan mau ditanya-ditanya. Tapi ga enaknya, sambil konsul dokter ini sibuk terima telp.. TT

Pertama kami menyampaikan maksud kami untuk melanjutkan pengobatan Nadya tentunya dengan membawa hasil scoring diagnosis Tb anak, dokter itu langsung bilang anak ini positif  Tb karena score nya udah 6. Terus kami juga dirujuk untuk melakukan rontgent hari itu juga. Bengong deh kami. Pertama, kami berusaha optimis kalau Nadya ga kena Tb, berdasarkan interpretasi dokter di Magelang. Bengong yang kedua, kami baru tau kalo bayi bisa di rontgent. Informasi yang kami terima di dokter-dokter sebelumnya, bayi itu ga bisa di rontgent. Setidaknya dari hasil googling, hasil rontgent anak itu tidak terlalu akurat. Bengong yang ketiga, yang bikin kami bete berat adalah perbedaan hasil interpretasi scoring tersebut sangat berdampak pada kelanjutan pengobatan Nadya. Kalo menurut dokter di Magelang yang menginterpretasikan Nadya belum positif Tb, dia hanya meresepkan INH sebagai pencegahan. Nah di dokter ini, karena sudah didiagnosis positif Tb, Nadya akan mendapatkan pengobatan Tb penuh. Yang berobatnya minimal 6 bulan dihitung sejak mulai minum obat Tb. Berarti ya sebulan sebelumnya yang minum INH itu ga dihitung. YA Alloh, Nadya harus berobat lebih lama. Iya sih, harusnya memang kalo pengobatan gitu itu jangan ganti-ganti dokter. Kalo misal tetep di Magelang mungkin beda ceritanya. Ah tapi yasudahlah, ga realistis juga kalo harus melanjutkan pengobatan di Magelang. Ga mungkin kan tiap bulan pulang. Berita baiknya sih, berdasarkan hasil rontgent, paru-paru Nadya masih bersih. Alhamdulillah..

Hari-hari Nadya minum obat baru. Obat Tb kali ini bukan obat syrup, melainkan tablet. Iya, 1 tablet ini sudah berisi seluruh obat Tb. Cara minumnya cukup memberikan sedikit air di tablet tersebut, maka tablet tersebut akan encer dengan sendirinya. Tabletnya cukup besar, kalo diencerkan jadinya lumayan pekat. Rasanya sih manis, tapi karena manis banget jadi agak-agak pahit gitu diujung. Awalnya minumin obat ini ke Nadya itu butuh perjuangan. susah banget, pake sendok ditampel, pake cup feeder ga mau. Akhirnya 1 tablet itu bisa diminum seharian, sedikit-sedikit. Tapi belakangan ini Nadya udah mulai pinter. Obatnya diencerin pake 1 sendok makan air saja, terus langsung diminumin sambil dibujuk-bujuk biar sehat. Jadi cuma sekali minum aja. Alhamdulillah dia ga berontak banyak. Anak pintar.. Kalau udah kaya gitu, saya jadi suka terharu sama Nadya. Anak kecil itu sedang berjuan minum obat biar ga sakit. :')

Dua kali yang berarti 2 bulan pengobatan kami mendatangi dokter di RSPAD. Kali kedua itu kami mulai jengah, habisnya dokternya lamaaa banget datengnya. Jadi ya, kalo di RSPAD kami kan harus datang pas jam kerja, yang berarti untuk kontrol itu kami harus ijin kantor. Sudah datang tuh ke RSPAD dari jam 8, eh dokternya baru datang jam 10 an lewat.. Udah gitu, di dalamnya paling cuma 5 menit. karena kalo udah pengobatan gini, ga ada keluhan lain, paling kontrol itu cuma untuk minta resep aja. Kami mikir kok ya syang banget udah ijin setengah hari, nunggunya lama, di dalem cuma 5 menit. kasian juga NAdya nya ya diajak nunggu lama gitu. Jadilah kami yang tidak belajar karena ganti-ganti dokter itu, memutuskan untuk nyoba kontrol di dokter lain yang jadwalnya ga pas hari kerja. Mau gimana lagi, kasian anaknay disuruh nunggu berjam-jam gitu.

Bulan ketiga, kami memutuskan untuk coba kontrol di RSIA Evasari, rumah sakit yang paling dekat dengan rumah. Dengan dokter baru ini, kami juga menyampaikan hasil rontgent dan scoring uji diagnosis Tb. Dia setuju dengan pengobatan yang diberikan oleh dokter di RSPAD. Tapi tidak setuju dengan hasil rontgentnya. Dokter ini bilang ada bercak di paru-paru Nadya. Heee...?? Bisanya dua dokter memberikan interpretasi yang berbeda... Ya memang sih sebenernya kalo hasil rontgent anak itu ga bisa tepat banget untuk mendiagnosis penyakit. Yowislah, mau ada bercak atau enggak, realitanya Nadya tetap harus menjalani pengobatan Tb kan. Tapi tapi tapi yang masih mengganjal adalah kok tiap dokter bisa punya interpretasi beda ya..~Dokter juga manusia kalii..

Enaknya di dokter ini, kami ga merasa diburu-buru. Bahkan ditanya-tanya ada keluhan apa lagi. Terus dijelasin macem-macem.  Yang jelas, kalo disini kami ga perlu ijin dari kantor. :)  Mulai bulan ketiga, obatnya Nadya mulai dikurangi. Jadi resep obatnya ganti. Bentuknya sih masih sama kaya tablet sebelumnya, tapi komposisi obatnya dikurangin, jadi ga sepekat obat sebelumnya. 

Yap, baru 3 bulan Nadya menjalani pengobatan, masih ada 3 bulan selanjutnya. Semoga anakku sayang sehat-sehat terus. Semoga bakteri Tb nya ga berkembang kemana-mana. Aamiin..

Sepanjang tahun ini bergelut dengan Tb, dokter, rumah sakit, kami jadi belajar beberapa hal. selalu ada hikmah kan ya dibalik setiap musibah.
  • Walaupun Indonesia sempat menjadi bebas dari Tb, tapi belakangan ini sepertinya Tb mulai berkembang lagi. Apalagi penderita HIV-AIDS juga bertambah. Hal itu menyebabkan penderita Tb juga meningkat. Ingat ya, bakteri Tb itu aktif ketika imun dalam diri seseorang sedang tidak bagus. Sementara bakteri itu dapat masuk kapan saja, apalagi penularannya melalui udara. Kebayang dong jika seseorang terkena Tb trus dia ga sadar kena Tb. Ketika batuk bakteri keluar, terhirup orang lain. Orang tersebut lagi ga bagus imunnya. Aktif deh tuh bakteri di dalam. seharusnya memang memutus rantai penularan tersebut. sayangnya dalam kasus suami saya ini, dia sendiri juga ga tau ketularannya darimana. Bisa aja kan dari transportasi umum. Jadi, buat jaga-jaga, pake masker itu penting. Jangan lupa sering cuci tangan, apalagi habis dari luar.
  • Pas suami saya positif Tb, demi memutus rantai penularan, ga cuma Nadya yang diobservasi. Tapi kami semua yang tinggal di rumah, saya dan pengasuhnya Nadya, ikut screening pemeriksaan Tb. Untuk orang dewasa screening Tb ga bisa dilakukan dengan tes mantoux, tapi dengan wawancara dan rontgent paru-paru. Hasilnya Alhamdulillah kami ga tertular Tb. Semoga sih sampai besok-besok juga ga kena Tb.
  • Tb pada anak ternyata tidak menular ke orang dewasa atau sesama anak. Untuk kasus Nadya, dia sendiri insya Alloh tidak bisa menularkan bakteri Tb. Yang jelas walaupun dia positif ada bakteri Tb, tapi dia ga sakit. 
  • Dokter itu juga manusia. Ke dokter itu sebenernya untuk berkonsultasi, bukan sekedar cari obat kan ya.. Jadi kalo semisal ga cocok dengan keterangan satu dokter, kita sebagai pasien ga berdosa kok untuk mencari second atau bahkan third opinion. Bukan sok pinter karena sebelumnya udah googling terus ternyata keterangan dokter tersebut beda sama hasil googling kita sih, tapi setidaknya kita butuh keyakinan yang memadai (bahasa akuntan). Kesembuhan dari Alloh, dokter itu hanya perantara. Tapi klo kita yakin dengan prosedur yang diberikan peratara itu, setidaknya kita jadi tersugesti untuk sembuh kan :)
  • Ini kesimpulan agak OOT deh, tapi saya merasa penting menyampaikan. Sejak tahun 2014 ini kan BPJS sudah berlaku. Berlakunya BPJS ini mebuat rumah sakit makin penuh. beberapa kali ke RS yang ada fasilitas BPJS nya, antrenya masya Alloh. Kalo suami saya sih udah pake BPJS. Habisnya kalo tiap bulan ngeluarin duit lumayan juga, sekali konsul bisa 150 rb. Nadya sih belum punya BPJS jadi emang harus bayar. Tapi ya, kalo ga mau rugi emang sebaiknya mengunjungi rumah sakit yang terima BPJS itu mending punya BPJS. Karena mau pake BPJS atau ga pake BPJS antrenya sama, obatnya sama, perlakuannya juga sama. Bedanya bayar sama enggak doang. Makanya kalo Nadya masih di RSPAD lumayan rugi gitu deh, kita bayar, tapi ga dapat konsultasi yang memuaskan, secara diburu-buru. Karena sama-sama bayar, ya coba aja di RS lain. Cari dokter yang ngobrolnya bisa enak dan lama.. Toh bayarnya ga beda jauh :)
Kesehatan itu memang mahal harganya. Makanya selagi belum sakit, baiknya kita berupaya untuk melakukan tindakan pencegahan. Kalo kita ga sayang dengan diri kita,  mulailah berpikir tentang orang lain. Bisa jadi kita sakit dan ga aware akhirnya malah menulari orang lain. Kalo kita tau kita sakit dan menular, berusalaha untuk berobat dan memutus rantai penularan. Kalo bandel ga mau berobat, ya berdoalah semoga sakitnya sendiri aja, jangan sampai ngerugiin orang lain. Kita yang sehat, juga berupaya hidup sehat biar ga cepat tertular penyakit. Semngat hidup sehat..:)

Senin, 22 September 2014

Ujian itu Bernama Tb (part 2)

Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita bahwa suami saya positif Tb. Hal tersebut berdampak pada Nadya.  Beberapa saat setelah suami saya membaik dari batuknya, kami mulai berpikir tentang Nadya. Iya sih, sejak batuk makin parah, dia selalu pakai masker bahkan di saat tidur. Tetap saja ada kekhawatiran Nadya akan tertular. Akhirnya kami pergi ke sebuah klinik di Cempaka Putih. Sebelumnya kami sudah pernah mengunjungi dokter tersebut dan kami merasa cocok. Menurut dokter tersebut, Nadya harus melaksanakan tes Mantoux untuk mengatahui apakah sudah ada bakteri yang masuk ke tubuhnya. Dilakukan lebih cepat lebih baik. Dan jika sudah terkena kontak aktif dengan pasien Tb, anak-anak dipastikan harus ikut menjalani pengobatan Tb. Sederhananya, melalui Tes Mantoux akan diobservasi apakah sudah ada bakteri yang masuk atau belum. Jika belum akan diberi obat pencegahan Tb sampai pasien Tb dinyatakan negatif. Jika hasil tes menyatakan ada bakteri yang masuk, maka anak-anak akan menjalani pengobatan Tb. Bakteri yang masuk ini belum tentu menginfeksi juga. Jadi secara klinis anak tidak akan terlihat sakit. 

Terus kenapa walaupun tidak sakit tetap harus berobat? alasannya adalah dikhawatirkan bakteri yang sudah masuk ke dalam darah itu akan ikut aliran darah dan bersarang di organ tubuh. Bisa jadi di otak, tulang, kelenjar getah bening atau dimanapun. Nah, kalau bersarang di anggota tubuh yang lain, khawatirnya malah makin tidak terdeteksi dan semakin parah. Sebenernya saya juga baru tau kalau ternyata Tb ini tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi ternyata ada juga Tb tulang, Tb kelenjar getah bening, Tb payudara.. Seremnyaa.. sayangnya, di klinik tersebut kami tidak dapat melakukan tes mantoux. Mungkin karena disitu cuma klinik ya. Sayangnya lagi berdasarkan info dari dokter tersebut, reagan untuk melakukan tes mantoux ini di Jakarta sedang kosong. Hmm..okee..

Sebagai bagian dari ikhtiar, kami memutuskan untuk mencoba konsultasi ke dokter anak rumah sakit area Cempaka Putih. Pas hari kami datang, dokter yang kami mau ternyata sudah penuh, akhirnya ngasal pilihnya. Pilih yang paling sedikit antreannya.  Dokternya adalah seorang pria berumur, yang tampaknya sudah senior. Selama konsul, kami ditanya, sudah imunisasi BCG belum anaknya batuk pilek atau enggak. Berhubung Nadya sudah imunisasi BCG dan sampai saat itu dia belum pernah batuk pilek, kami akhirnya dapat resep obat INH syrup yang harus diminum setiap hari (fyi, INH adalah salah satu obat Tb).Obat ini diminum sebagai pencegahan Tb Bulan depan kami diminta datang kembali. Keluar dari dokter itu, kok ya rasanya kami ga puas banget. Pertama, Nadya masih ASI eksklusif. Secara klinis, dia ga ada gejala Tb. Untuk anak, gejala Tb dapat dilihat dari batuk dan pilek yang terus menerus serta berat badan yang tidak naik atau bahkan turun selama 3 bulan terakhir. Dua gejala besar itu ga ditemui di Nadya sama sekali. Terus yang kecewa yang kedua, kok dokter ini ga merujuk untuk dilakukan Tes Mantoux sih. Masalahnya dalam pikiran kami, prosedurnya adalah harus Tes Mantoux dulu baru kemudian diputuskan pengobatan apa selanjutnya. Jadi rasanya datang ke dokter itu kecewaa banget..dan kami galau untuk meminumkan obat ke Nadya.  Karena galau itulah, akhirnya diputuskan bahwa kami ga nebus obat itu dan tidak meminumkannya ke Nadya. Bilang saja kami ini orang tua sok tau, udah bener-bener dikasih obat dari dokter malah ga ditebus. Hmm..sebenernya bukan ga mau sih, hanya saja kami agak kecewanya kok indiaksi anak Tb sebatas ada batuk pilek apa enggak. Lah terus kalo enggak batuk pilek, apakah anak tersebut dipastikan tidak mengidap Tb. Padahal menurut keterangan dokter anak di klinik sebelumnya, Tb itu ga cuma menyerang paru, yang berarti gejala klinisnya bukan cuma batuk pilek. Kami bukan pengen so tau, tapi kami senang bahwa diagnosis itu berdasarkan pengujian yang benar supaya obat yang diberikan juga tepat.males banget kan ya, udah lama minum obat ternyata obat yang dikasih ga sesuai..

Atas dasar kekecewaan itu, kami cari-cari lagi dokter lain untuk second opinion. Kebetulan dalam waktu dekat, kami akan pulang ke Magelang. Jadi kami memutuskan untuk datang ke Balai Paru Magelang. Pertimbangannya disana kan khusus penyakit paru, jadi semoga reagan untuk tes mantoux nya tersedia, dan Nadya mendapat pengobatan yang sesuai.

Dan sesuai dengan ekspektasi kami, begitu kami cerita bahwa suami saya positif Tb, Nadya langsung dirujuk untuk melakukan Tes Mantoux. Tes mantoux ini dilakukan dengan menyuntikkan reagan dibawah permukaan kulit. Kemudian setelah 48-72 jam diukur indurasinya. Indurasi adalah bagian yang mengeras di sekitar suntikan. Interpretasi indurasi dari link ini adalah sebagai berikut;

Ukuran indurasi 5 mm atau > 5 mm dinilai test POSITIF, pada orang dengan kondisi :
  • Orang yang HIV-positive
  • Baru terpapar dan kontak dengan penderita TBC
  • Orang dengan kelainan gambaran foto rontgen paru atau yang penyakit paru TBC lama yang baru sembuh
  • Orang yang mengalami transplantasi organ dan orang yang mendapat pengobatan imunosupresant seperti obat kortiko steroid
Ukuran indurasi 10 mm atau > 10 mm dinyatakan POSITIF, bila :
  • Imigrant atau orang yang baru tiba (kurang dari 5 tahun) dari negara dengan angka kesakitan TBC paru yang tinggi atau negara endemik penyakit TBC paru paru
  • Pecandu narkoba dengan cara suntikan
  • Penghuni dan petugas dari rumah penjara, rumah perawatan orang tua, rumah sakit dan penampungan untuk kaum gelandangan, dan sebagainya.
  • Pekerja di laboratorium mycobakteriologi
  • Penderita penyait khronis seperti  penyakit diabetes, pengobatan kortikosteroid jangka lama, penyakit leukemia, penyakit ginjal stadium akhir, sindrome gangguan penyerapan khronik, berat badan yang rendah, dst)
  • Anak berusia kurang dari 4 tahun, atau anak dan remaja yang terpapar pada orang dewasa dengan resiko tinggi akan menderita penyakit TBC paru paru
Ukuran indurasi 15 mm atau > 15 mm dinyatakan POSITIF, bila
  • Orang yang tidak memiliki salah satu faktor resiko tersebut diatas
  • (Catatan: Mantoux test ini hanya ditujukan pada kelompok dengan resiko tinggi menderita penyakit TBC paru paru)
Sementara untuk mendiagnosis seorang anak terkena Tb atau tidak adalah dengan melakukan scoring pada formulir diagnosis Tb anak. Formulirnya kira-kira seperti ini:

gambar dari sini

Waktu scoring itu, Nadya dapat score 6, yang bersal dari kontak dengan pasien Tb (score 3) dan uji tuberkulin (uji mantoux) positif (score 3). Berdasarkan keterangan dokter di Balai tersebut, score 6 ini adalah score tengah-tengah, bisa menuju ke arah positif Tb atau negatif tb. Untuk itu diobservasi sebulan kemudian untuk melihat apakah gejalanya menuju positif atau negatif. untuk sementara kami diresepkan INH syrup (sama sih obatnya kaya dokter di Cempaka Putih). Kali ini kami menebusnya dan mulai menjalani pengobatan untuk Nadya.  Hmm.. rasanya campur aduk, anak sekecil Nadya sudah harus minum obat setiap hari selama minimal 6 bulan..TT  Tapi bagaimanapun juga, ini kan demi kebaikan Nadya ya.. Insya Alloh kami juga sudah yakin dengan prosedur pengobatannya. Semoga Nadya ga kena Tb, ya Alloh.. aamiin..

Karena Nadya akan menjalani pengobatan tetapi harus kembali ke Jakarta, kami bilang ke dokternya untuk merujuk ke dokter di Jakarta. supaya pengobatannya bisa dilaksanakan di Jakarta. Dokternya akhirnya membuatkan kami rujukan untuk dokter di RSPAD.

Cerita lanjutan pengobatan Nadya di JAkarta bersambung ke tulisan selanjutnya ya.. :)

Kamis, 18 September 2014

Ujian itu Bernama Tb (part 1)

2014 adalah awal tahun yang membahagiakan untuk keluarga kami. Tidak lain karena hadirnya anggota baru di keluarga kami, yaitu Nadya. Jika awal tahun 2013 kami memulai hidup baru sebagai suami istri, tahun 2014 ini kami memulai hidup baru sebagai orang tua. Kehadiran Nadya di tengah kami membuat hidup kami berubah. Biasanya pulang kantor, cuma berduaan, sekrang pulang kantor sudah ada yang menyambut di rumah. Capek yang dirasa sepanjang perjalanan pulang hilang seketika begitu meihat Nadya. Rutinitas kami yang biasanya semalaman bisa bobok nyenyak, sekarang sesekali harus bangun tengah malam untuk mengganti popok ataupun dia cuma mau nenen. Alhamdulillah dari bayi pola tidur Nadya sudah bagus. Setiap Isya, dia sudah mulai tidur dan bisa tidur semalaman, hanya bangun beberapa kali karena pipis, pup atau nenen. Ga kebayang kalo Nadya tipe bayi wayangan, yang melek tiap malem. Jadinya kami sangat-sangat terbantu dengan pola tidurnya ini.

Kebahagiaan atas hadirnya Nadya mulai terganggu ketika papanya Nadya jatuh sakit. Sakit yang awalnya kami kira masuk angin biasa, tapi sejak Desember 2013, sakit itu pergi dan datang. Mulanya cuma capek-capek aja, dan seperti maag. Sudah konsultasi ke dokter di klinik kantor, kata dokternya ga sakit apa-apa, cuma pikiran dan kecapean aja. Yasudahlah..Kondisi waktu itu memang menyita perhatian dan fisik suami saya. Waktu itu saya masih cuti bersalin di Magelang, yang efeknya suami saya harus bolak balik Jakarta-Magelang, belum tugas dinasnya di akhir tahun lalu itu lumayan padat. Pikir kami mungkin memang kecapean saja. Selanjutnya mulailah suami saya batuk-batuk. Suami saya yang pada dasarnya anti pergi ke dokter selalu berkilah, batuknya dimnumin obat ini, nanti juga sembuh. Ya benar, selesai minum obat kadang batuknya berhenti, tapi ga berapa lama, batuk lagi. Begituu terus. Akhirnya menyerah, suami saya pergi ke dokter klinik dekat rumah. Diaksih antibiotik, yang setelah habis minum obat itu belum sembuh juga. Malah semakin parah, rasanya setiap batuk kepalanya pusing. saat itu, dia belum juga mau pergi ke dokter lagi, asumsinya kalo dikasih antibiotik lagi ya sama saja. Sampai pada suatu malam, suami saya sudah tidak tahan dengan batuknya. Akhirnya kami pergi ke UGD salah rumah sakit besar dekat rumah (kenapa ke UGD,soalnya seingat saya kami perginya itu Sabtu malam, yang mana poliklinik juga ga buka). Sampai disana cuam ketemu co ass, ditanya-tanya aja sebangsa yang dirasain apa, batuknya sejak kapan, terus perika tensi, suhu badan..Dan hasilnya lagi-lagi cuma dikasih antibiotik dan vitamin, serta saran kalo batuknya ga sembuh datang aja ke dokter spesialis syaraf atau paru, yang mana baru buka Senin. Rasanya ya waktu itu, sebeel banget. Sarannya itu loh, datang ke dokter syaraf atau paru. Lah, kami datang kesana kan ga tau sakitnya apa. Kalo langsung ke spesialis berarti kami sudah tau dong sakit apa. Ga perlu juga ke dokter umum. Masalahnya ekspektasi kami, kalo kesana itu dirujuk buat tes apaa gitu, tes darah kek atau tes apalah, minimal buat mendiagnosis sebenernya sakit apa. Ini kan rumah sakit besar yaa..Tapi yasudahlah, pasien kalah. Kami pulang saja, nebus obat, dan terpaksa minum obat yang sudah diresepkan itu. Sambil berjanji ga akan balik lagi ke rumah sakit itu ~kecewa.

Setelah beberapa saat minum obat, ga da kemajuan sama sekali. Terus saya baru ingat, mama saya juga suka batuk-batuk dan sekalinya batuk lamaaa. Saya telp lah mama saya itu, dari cerita beliau, belakangan ini beliau suka langsung berobat ke Balai Paru di  Magelang. Waktu batuk kemarin, beliau dirujuk untuk diuap, setelah diuap dahaknya keluar semua, batuknya jadi lebih cepat sembuh. Akhirnya saya bilang ke suami, untuk periksa ke spesialis paru aja, siapa tau dirujuk untuk diuap juga. Suami saya setuju. Kami sepakat untuk ke RSPAD (pertimbagannya RS ini dekta kantor dan jelas kami ga mau balik ke RS pertama). Kami langsung mendaftar untuk konsultasi ke spesialis Paru, yang mana sampai sana ternyata harus menyertakan rontgent dulu. Jadilah hari itu suami saya di rontgent, hasilnya bisa langsung diambil hari itu juga untuk dibawa konsul dengan dokter.  Hasilnya, ada kabut di paru-paru suami saya, dokter menduga sakitnya antara Pneumonia atau Tubercullosis (Tb). Kalo Pneumonia pengobatannya cuma 2 minggu, tapi klo positif Tb harus diisolasi dan berobat minimal 6 bulan. Syoklah kami mendengar diagnosa sementara dokter. Itu kan penyakit kronis...Bagaimana bisa...??

Baiklah sebelum dokter mendiagnosis bahwa itu Tb, suami saya masih harus menjalani tes lagi. Kali ini tes dahak, yang mana merupakan prosedur umum untuk mendiagnosis apakah seseorang menderita tb atau tidak. Tes ini dilakukan dengan mengambil dahal di tiga waktu, yaitu dahak sewaktu (dahak saat pengambilan pertama), dahak pertama di pagi hari dan dahak sewaktu (dahak saat pengambilan ketiga). Berarti butuh 2 hari untuk tes dahaknya saja, dan dua hari kemudian baru hasil tesnya keluar. dokter tersebut meminta kami untuk kembali pekan depan. 

Menunggu pekan depan sambil melewati tes ini itu rasanya campur-campur. Ada ketakutan mendalam jika terjadi apa-apa dengan suami saya. Bayangan hal yang buruk-buruk itu sering melintas di benak. Suami saya pun merasakan hal yang sama, tapi dia jauh lebih tabah. Dia tau jika dia kalut, saya pun akan jauh semakin kalut. Saat itu, dia cuma memeluk saya dan berkata, " Sabar ya dek, mas aja sudah ikhlas kok dengan penyakit mas. Semoga sakit ini bisa menjadi penggugur dosa kita. doakan mas cepet sembuh yaa..". Istri mana yang ga menangis dibilang kaya gitu. Dan pada akhirnya saya hanya bisa berdoa dan men-supportnya. 

Hasil tes dahak keluar. Hasilnya adalah positif. Ya Alloh suami saya kena Tb. Walaupun sudah bersiap selama seminggu menunggu hasil ini, tapi tetap saja kami syok. Kami konsul lagi ke dokter, bertanya macam-macam, terutama bagaimana bisa suami saya itu kena Tb. dokternya bilang ya bisa saja, bakteri Tb sudah masuk lama di dalam tubuh, dia baru aktif ketika tubuh sedang tidak fit, yang mana saat itu antibodi tubuh sedang tidak bagus. Baiklaah, mendengar penjelasan dokter itu kami mulai bisa menerima, mengingat suami saya sering kecapean apalagi setelah saya melahirkan. Bisa jadi saat itu bakterinya menjadi aktif. Yaa baiklaah..Selanjutnya suami saya akan mulai menjalani pengobatan selama 6 bulan ke depan. Rontgent lagi setelah 2 bulan untuk follow up bakteri yang berkembang di paru-paru.

Sebelum meninggalkan ruangan dokter, dokter tersebut berkata merujuk ke klinik VCT untuk mengetahui apakah suami saya megidap HIV-AIDS atau tidak.. what!! Apa pula ini. dapat penyakit Tb saja sudah cukup bikin syok, apalagi terduga kena HIV. Dokternya cuma bilang cek aja karena sesuai prosedur untuk pasien pengidap Tb yang masih muda dan aktif, perlu diobservasi apakah terkena HIV atau enggak. Lagipula dokternya juga masih heran, badan suami saya yang segede itu kok bisa-bisanya kena Tb.

Yasudahlah kami ke klinik VCT hari itu juga. Suami saya diwawancarai dokternya. Ga tau ditanya apa aja soalnya saya disuruh keluar ga boleh nemenin. Ujungnya sih dirujuk untuk tes rapid HIV. Pengennya hari itu juga kami kelar semuanya, bisa tes HIV dan keluar secepatnya. Rasanya menunggu hasil tes rapid HIV itu jauuh lebih mendebarkan daripada nunggu hasil tes dahak. Kami cuma bisa beristighfar. Hasil tes keluar, Alhamdulillah suami saya negatif  HIV. Alhamdulillaah.. Berarti sekarang tinggal fokus menjalani pengobatan selama 6 bulan. 

Sejak positif menderita Tb, suami saya semakin rajin memakai masker, bahkan waktu tidur sekalipun. Ini juga sementara waktu, kami tidur terpisah. Gelas dan tempat makan juga sementara dipisah. Demi tidak menulari penghuni rumah lainnya. Namun, menjelang bulan kedua, suami saya sudah ga batuk-batuk lagi. Pakai maskernya kalo lagi pergi aja. Secara medis sih, setelah pengobatan 2-3 bulan, penderita tb sudah tidak dapat menularkan bakteri lagi. Tapi ya jaga-jaga aja.

Alhamdulillah suami saya ini orang yang rajin minum obat. Dia pokoknya nurut kalo disuruh minum obat, asal bisa sembuh. Ga kebayang kalo saya yang di posisinya. Dua bulan pertma harus minum obat 12 biji setiap hari. Saya makan sebiji obat saja rasanyaa susaah banget. dia dengan entengnya minun tuh 12 biji. Selanjutnya di bulan ketiga, obatnya mulai berkurang. Hingga menjelang 6 bulan obatnya tinggal 2 macam saja. Selama 6 bulan ini, mullai ada kemajuan dari suami saya. BAtuk-batuknya sudah jauuh berkurang. Hasil rontgent yang kedua kalinya, sudah menunjukkan paru-paru mulai bersih, tapi obatnya belum boleh putus. Lanjut sampai 6 bulan. Sebagai informasi, pengobatan Tb ini memakan waktu minimal 6 bulan. Obat harus diminum setiap hari, ga boleh terlewat satu hari pun. Kalau terlewat satu hari saja, dikhawatirkan bakterinya akan semakain kuat sehingga masa pengobatan Tb dapat semakin panjang. Dan jika pasiennya membandel, Tb ini dapat menyebabkan kematian. Seperti yang telah saya bilang, suami sya ini rajin dan telaten. Hasilnya, alhamdulillah per 17 September kemarin, kontrol terakhir dengan dokter, suami saya dinyatakan bebas Tb. Hmm..sebenernya kesimpulannya belum meyakinkan sih, karena kemarin suami saya ga bisa mengeluarkan dahak untuk memastikan bakterinya sudah tidak ada. Tapi melihat hasil rontgent dan gejala klinis yang terlihat dokter sudah menyimpulkan suami saya bebas Tb. Hanya saya nanti 3 bulan kemudian suami saya diminta kontrol kembali. Alhamdulillah. Semoga suami saya benar-benar sudah bebas Tb. Semoga ga lagi ada penyakit yang aneh-aneh. aamiin..

Akibat suami saya positif kena Tb ini ternyata berdampak ke Nadya. Bagian ini saya ceritakan pada tulisan selanjutnya ya.. Insya Alloh :)

Minggu, 22 April 2012

Bekam

Pekan lalu, saya akhirnya memberanikan diri untuk bekam..Iya, itu teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor. Teknik pengobatan demikian sudah dilakukan oleh Rasul. Kenapa tiba-tiba saya memutuskan untuk berani...??Hmm ya ada beberapa alasan sih..Belakangan saya merasakan ada yang bener-bener ga beres dengan badan saya..Sakit kepala yang ga sembuh-sembuh..Sering tiba-tiba lemes..Haid ga teratur..Sudah ke dokter, dan dokter bilang cuma kecapean,stres, kurang olahraga, trus dikasih obat deh (ini bagian yang paling saya ga suka, minum obat..>.< )..Setelah beberapa waktu dari dokter itu, keluhan belum kunjung membaik..Salah saya juga sih ga menyempatkan diri untuk olahraga..Akhirnya dengan pertimbangan itu, trus dapat info dari teman, akhirnya kenapa ga coba aja bekam..

Fyi, dulu saya serem liat orang yang lagi dibekam..Membayangkan, badan akan ditusuk-tusuk dengan jarum, trus darahnya disedot..hhi..tidaak...sereeem..Secara saya itu takut jarum dan darah...Pernah waktu tes darah kan mesti harus diambil sample darah, dan itu mesti ditusuk kan ya, itu aja kalo ga malu udah jerit-jerit kali..Ga tau deh, pokoknya liat jarus itu udah serem duluan..Nah, makanya pencapaian yang cukup lumayan juga ketika akhirnya memberanikan diri untuk dibekam. Dan ternyata rasanya biasa aja, ga sesakit dan seseram yang dbayangkan.. Dengan catatan saya bilang ke ibu yang membekam, saya ga mau liat darahnya.. :D

Dan saya baru tahu jika ternyata tidak semua orang bisa langsung dibekam. Kalo tekanan darah terlalu rendah, lagi sakit, atau lagi haid, itu ga bisa dibekam. Sebelum bekam dimulai, ibu itu akan cek dulu kondisi  orang yang akan dibekam. Kerennya ibu itu langsung tahu bagian tubuh mana yang bermasalah. Kayaknya sih cuma diliat aja ya, tapi ibu itu sudah langsung tahu saya bermasalah di mana aja. Begitu diperiksa itu, ibunya sudah bilang ini darah kotornya banyak banget..Banyak penyumbatan..Lambung bermasalah.. Masalah klasik anak kos...Minus nambah..kurang olahraga, kurang minum air putih..Terus secara ga sadar banyak yang dipikirin..Itu yang buat sering sakit kepala..hmm..perasaan udah ga banyak yang dipikir Pun jika orang tersebut ga ikhlas dibekam karena itu akan berpengaruh pada darah kotor yang dikeluarkan. Jadi sebelum dibekam itu harus ikhlas dulu supaya tidak ada penolakan dari tubuh untuk mengeluarkan toksin. Dari tiga orang yang akan dibekam, hanya saya yang bisa dibekam hari itu juga..Dan jangan lupa makan dulu sebelum dibekam, paling ga 2 jam sebelum dibekam.

Ternyataaa...ketika dibekam itu ga langsung ditusuk-tusuk pake jarum..Bodohnya saya ga pernah cari informasi beginian..taunya serem aja liat ornag yang lagi dibekam.. Hal pertama yang dilakukan ibu itu adalah melakukan totok dulu, kaya dipijet sih. Selain untuk membuat badan lebih rileks, totok diperlukan untuk menentukan titik-titik mana yang akan dibekam. Dari totok itu, ibunya tahu lebih bayak masalah di tubuh, dari bagian tubuh yang sering berasa kenceng dan sakit, alergiku, paru-paruku yang bermasalah. Aku bilang sih keren banget, dia bisa tahu sedetail itu.. Masalah paru-paru itu, sebenernya baru nyadar sih, ternyata efek sakit flek dari jaman kecil dulu masih berasa sampe sekarang. Terakhir kali rontgent
 memang terlihat paru-parunya hitam. Bukan jai masalah besar sih, tapi berasanya kadang memang kalo bernapas ga lega..Kaya hampir sesak nafas, tapi ga bisa dibilang sesak nafas sampe ga bisa nafas gitu. Pokoknya berasa ga lega aja kalo bernafas.. well, setelah sekian lama kok ya baru nyadar disitu masalahnya..Bukan sakit sih kata ibunya, tapi ibarat mesin hanya perlu di tune up aja. Oke..baiklaah,,berarti tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi, menurut informasi dari ibunya kalo kena fleknya dari kecil, waktu itu umur saya 4 atau 5 tahun gitu deh, bisa jadi paru-parunya sudah bermasalah sejak janin. Hal itu bisa jadi akibat dari ibuku dulu hidup di lingkungan perokok. Dengan kata lain terpaksa jadi perokok pasif,.Kalo itu entahlah, yang jelas papa kan ga merokok. Tapi sedih deh, hanya gara-gara terpaksa menghirup asap rokok, sebuah janin bisa terganggu paru-parunya.. Makin benci dengan rokok..>.<

Baiklah, lanjut..setelah ditotok, proses selanjutnya adalah cupping atau pengekopan. Kata ibunya itu dilakukan untuk membendung bakteri di area yang di kop tersebut. Ketika pengekopan ada gas berwana putih di cope nya.berarti bagian tubuh tersebut sedang beramsalah. Indikator lainya adalah permukaan kulit yang di cope itu akan berwarna merah.Selanjutnya cope dibuka, baru deh ditusuk-tusuk pake jarum, trus disedot darah kotornya. Tapi beneran, ternyata waktu ditusuk jarum itu ga sakit..Rasanya kaya digigit semut tok.. emang ga ada yang bilang sakit kali,,,sayanya aja yang parno duluan.. Ga sampai 5 menit disedot, cope dibuka untuk ambil darahnya..Trus disedot lagi, untuk semua titik..Ga sampai 2 jam, udah selesai seluruh proses bekam.

Efeknya selesai bekam itu ngantuk.. Ini karena pembuluh darah udah dibuka semua..Terus agak pusing, gliyeng gitu.. Efek habis diambil darahnya kali ya..Pokoknya selesai bekam itu harus langsung minum teh manis hangat, kalo ada madu tambah minum madu 2 sendok. Dan seharian itu dianjurkan untuk istirahat aja, jangan kerja fisik yang berat-berat. 

Bagi saya, setelah bekam kemarin itu dan tahu masalah apa aja yang ada di tubuh, rasanya memang jadi lebih menghargai tubuh. Berusaha sedikit lebih care dengan tubuh. Sepekan ini sih Alhamdulillah, badan sudah jauh lebih enak. Sudah ga sering sakit kepala kaya sebelumnya. Hmm ya berusaha juga untuk melepas beban-beban yang jadi pikiran..halah..mikirin apa sih, Nduk.. Hasilnya sepekan ini sudah jauh lebih ringan.. Mungkin memang ga boleh banyak pikiran.Masalah kalo cuma dipikirin tok juga ga akan selesai..berkata pada diri sendiri.

Setelah sekali ini dibekam, sepertinya saya jadi ketagihan untuk dibekam lagi deh. Paling ga saya jadi lebih tahu kesehatan saya sendiri seperti apa, dan jadi lebih care dengan kesehatan.. :D

Dari Ibnu Abbas r.a. Rasulullah bersabda : "Kesembuhan (obat) itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas." (Hadist Bukhari)