Tampilkan postingan dengan label Happy Working. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Happy Working. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2014

Setengah Hati

dari awal memang hanya setengah hati
dalam perjalanannya menjadi sepenuh hati memang tidak mudah
hingga seringkali membohongi diri sendiri

ini hanya tampak seperti kerikil kecil
tapi selalu membuat terjatuh

mungkin bukan sekedar harus move on
tetapi harus move




Rabu, 25 Januari 2012

Upgrade My Self

Upgrade..iya..upgrade...mengupgrade apapun yang bisa di upgrade..Mulai dari.pengetahuan,ketrampilan..dari yang softsampe yang hard..Apapunlah selagi masih bisa di upgrade..Dan hal tersebut memberikan nilai tambah..

Dan bahwa seleksi alam adalah sesuatu yang mutlak terjadi..Jadi jika kau tidak memiliki sesuatu yang bisa menjadi nilai tambah,silakan bersiap keluar dari kompetisi ini..Cepat atau lambat..

Begitu pun kompetisi di kantor. Saya mempelajari bahwa siapapun yang kemudian tidak menambah skill nya ini perlahan akan mulai tergeser jika tidak mau dikatakan 'terbuang'..Saya amati pula bahwa terdapat kecenderungan para pegawai yang sudah sangat senior (baca:sepuh); adalah sulit untuk.melakukan upgrade ini.Makanya tak jarang jika semakin senior sudah semakin tidak produktif. Tidak produktif ini seringkali disebabkan karena ketrampilan dan pengetahuan yang mereka miliki sudah tidak sejalan lagi dengan.perkembangan yang terjadi (sudah ketinggalan jaman);. Coba deh perhatikan..Atau jika memiliki rekan kerja model begitu, terkadang kita yang masih muda ini merasa lamban dan banyak ketidaksesuaian pikiran dengan pegawai sepih tersebut. Yang paling mencolok jelas pada penguasaan teknologi.Ya iya sih,jaman mereka dulu muda dan masih giat bekerja,teknologi yang digunakan kan ga seperti sekarang..Wajar lah, kalo mereka ini belum begitu melek. Jatuhnya kadang yang muda ini yang harus ngajarin yang tua..Dan namanya tiyang sepuh,rewel-rewel dikit itu wajar kok. Jadi yang muda ini harusnya sabar kalo harus menghadapi pegawai demikian (iyaaa..klo saya sih kadang emang kurang sabar..tapi kalo inget emak dan pak di rumah,ya ga jadi kesel lagi. Sudah fitrahnya kok makin tua itu.makin rewel. Dan juga daya ingatnya ga bisa dibandingin dengan yang muda. Jadi..ya ga bokeh ngumil-ngumil..-berbicara pada cermin-). Ga usah jauh-jauh, mama itu kan juga angkatan tua, yang jelas di jamannya komputer pun belum ada. Bagusnya beliau ini, ga terus males belajar, malah makin semangat belajar belajar. Katanya malu lah, masa' ga bisa, nanti di kantor ga bisangerjain apa-apa. Ya, saya sangat appreciate dengan tipikal yang seperti ini. Setidaknya ada kemauan untuk terus belajar. Yang ngajarin kan seneng juga ya.

Namun, tipikal pegawai seperti ini juga ga bnayak. Selalu saja ada alasan untuk pegawi senior itu malas untuk belajar. Banyaklah alasaannya..Yang males lah..yang otaknya udah ga kuat buat mikir berat-berat..Yang udah capek ngejar karier, dan pasrah dengan pencapaian sekarang.. Intinya sih memang sudah ga mau belajar. Ah, saya ga peduli sih dengan segala macam alasan itu. Saya lebih peduli dengan diri saya sendiri. Mumpung masih muda, mumpung masih produktif, mulai banyak bercermin juga. Dari sekarang ini, diluruskan lagi niat awal kerja itu untuk apa. Jika untuk ibadah, tentu harus bekerja sebaik mungkin. Jika untuk ibadah, tentu ga boleh malas untuk selalu belajar. Belajar bukan cuma sekedar untuk naikpangakt, jabatan atau sebangsanya kok. Belajar lebih pada kebutuhan bagi diri sendiri, selain juga kewajiban sebagai seorang muslim. 

Hmm..to be honest, tulisan ini dibuat karena ketakutan saya kalo nanti sudah tua, trus sudah males kerja, jadi bagian dari orang-orang yang tidak produktif, yang sudah malas belajar. Ah tidaaak..membayangkan saja sulit. Makanya selagi masih punya idealisme ini, segera ditulis, supaya nanti-nanti ketika semangat sudah mulai luntur, baca tulisan ini, jadi semangat lagi :D
Ya Rabb...
Jadikanlah pekerjaan ini sebagai bagian dari ibadah kepadaMu..
Bukan sekedar dunia yang dicari..
tetapi rahmat Mu...



Published with Blogger-droid v2.0.2

Selasa, 13 Desember 2011

d i s o r i e n t e d

Hari ini saya banyak sekali tertawa..Kata bapak di sebelah, "awas loh..besok kamu nangis.."..hmm iya sih bisa jadi..namanya senang dan sedih kan satu paket..Eh, tapi saya tertawa kan tidak berarti lagi seneng. Saya ketawa udah saking pusingnya..Nah loh gejala tidak baik..Akumulasi dari kemarin-kemarin mungkin ya..Oke biar ga ketaa terus saya mau nulis agak serius, semoga ga jadi mellow..

Jadi belakangan ini saya sedang merasa disoriented..Eh, ini maksudnya hanya sebagian kecil dari hidup saya. Bahwa ada lingkaran kecil dalam hidup saya yang tiba-tiba kehilangan arah. Masalahnya lingakran kecil ini terkait dengan lingkaran besar di luar diri saya.Bahasanya muter-muter ya. Gini deh kalo bisa dianalogikan.. Kamu berada dalam suatu rombongan berencana mau pergi ke suatu tempat, katakanlah tempat tersebut X. Dalam rombongan tersebut biasanya ada dong ketua rombongan dan orang-orang yang bertanggung jawab dalam hal tertentu, misalnya bertanggung jawab mengakomodasi transpor, menyiapkan makanan, menjadi navigator,dan sebagainya..Iya kan..Nah ketika mau pergi ke tempat X itu, ternyata tidak ada yang tau jalan menuju tempat tersebut. Ketua rombongan percaya bahwa orang-orang yang bertanggung jawab di bidangnya ini dapat menyelesaikan segala sesuatunya terkait perjalanan tersebut. Nah masing-masing orang ini akhirnya bekerja sendiri-sendiri sesuai apa yang menjadi tanggung jawabnya saja. Padahal namanya satu rombongan, paling tidak harus ada koordinasi dong ya supaya bisa berjalan bersama-sama. Biar dalam perjalanan lancar, ga ada misskom, dan selamat sampai tujuan. Kira-kira kalo jadi peserta dalam rombongan yang seperti itu, gimana coba rasanya. Kalo saya sih bigung, ini jalan ga tau mau kemana..Katanya mau ke X, tapi kok ya mau lewatnya muter-muter ga jelas..
gambar dari sini


Ya, seperti itulah yang saya rasakan belakangan ini. Ga tau mau ke jalan yang mana. Untungnya masih tau tujuannya mau kemana walaupun masih ragu sih apakah tujuan tersebut benar. Dan lebih tidak bisa membayangkan kalo sama sekali ga tau tujuannya mau kemana. hufh..Bisa tersesat makin jauh tampaknya... *berdoa saja semoga dalam perjalanan ini tidak sampai tersesat..

Iya, jika saya berpikir bahwa saya tidak tahu jalan, seharusnya salah sih..Saya kan orang muslim ya..Jadi seharusnya tahu kemana saya harus melangkah, dan tujuannya apa. Ga perlu takut tersesat kan jika sudah diberi peta (baca: Al Quran)..Tapi seorang Annisa masih butuh banyak sekali berproses hingga bisa membaca peta tersebut dan mengimpelementasikannya dengan benar. Namanya menggalu gara-gara disoriented ini ga baik jika terlalu lama bersarang di hati. Bisa-bisa mengotori hati..dan saya lebih khawatir jika kegalauan ini menajdi pintu masuk untuk menjadi pegawi tipe x. Apa itu pegawai tipe x..? Kata seorang senior, pegawai tipe x adalah pegawai yang males-malesan, yang ga mau mikir, yang terserah bapak aja, yang Asalkan Bapak Senang..Oh no..saya ga mau jadi pegawai model begitu oke deh, sejak menggalau sudah mulai ada indikasi ke arah situ deh..

Jadi....saya ga boleh galau lagi...Inget,,saya ini seorang muslim..seorang yang harus amanah dengan tanggung jawab di pundaknya. Seorang yang bekerja hanya untuk Allah..Seorang yang tahu pasti untuk apa dia hidup...Seseorang yang harus menajdi manfaat bagi lingkungannya..Well,,jika demikian ga perlu apa peduli dengan sekitar (eh, ini harus peduli ding, tapi jangan terpengaruh sekali, apalagi untuk pengaruh yang tidak baik untuk hati)..karena saya harus tahu bagaimana dan kemana saya akan melangkah..

no more disoriented!!
Allah Ghayatuna..

gambar dari isni




Seperti ikan di laut, yang walaupun air laut asin, ia tidak serta merta menjadi asin karena berterusan hidup di dalamnya

Jika engkau merasa bahwa segala yang di sekitarmu gelap dan pekat, tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah yang dikirim Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka? berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan.maka berkilaulah._Salim A Fillah_

Jumat, 04 November 2011

Happy Working

Belakangan ini ada hal yang membuat saya galau berpikir (eh, galau pertanda hati sedang tak sehat ya). Iya nih, saya memang lagi banyak merasa bersalah. Dalam tulisan terdahulu saya, saya pernah menulis tentang bagian tersulit dari bekerja. Ah ya, selama hampir dua tahun ini sudah terbukti. Iya, pekerjaan saya ini masih jauh lebih mudah dihadapi daripda mengahdi orang-orang yang berada di sekitarnya. Yang salah jelas bukan orang-orang tersebut, tapi saya yang tidak bisa menghadapinya. Ya, saya katakan saya telah kalah..

gambar disini


Dalam perbincangan di beberapa forum, saya menemui bahwa teman-teman saya mengalami hal yang hampir serupa. Dalam hampir setiap sesi sharing kami, kebanyakan yang mereka keluhkan, saya juga sih, adalah  bagaimana berhadapan dengan human nya, bisa dengan rekan kerjanya, bisa dengan atasannya, atau dengan orang-orang lain yang berhubungan dengan pekerjaanya. (Bisa dibilang ghibah ga ya, sharing macam begini..) Tapi paling tidak dengan bercerita saya jadi tau keadaan di tempat lain seperti apa, dan terkadang bisa dapat solusi atas apa yang saya hadapi (Ya Allah, maafkan saya, jika pernyataan ini adalah pembenaran dari kesalahan saya). selain itu saya jadi tahu bagaiman masing-masing teman saya itu mengahdapi permasalahan human di kantor mereka masing-masing.

Yang jelas sih, saya katakan kalo saya masih harus banyak belajar untuk ini. Saya yang masih sering emosi dan ngambek, sepertinay harus pelan-pelan diubah. Bagaimanapun juga, kenyamanan itu dimulainya dari kita sendiri ya. Percuma deh, saat ini ga nyaman dengan suasana kerja, minta dipindah ke tempat lain, tapi kalo saya nya sendiri tidak merubahnya, ya ga akan pernah ketemu nyaman dalam bekerja. sepertinya poin masalahnya adalah disitu. 

Saya sempat takjub nih dengan seorang teman saya. Dia cerita kalo dia sedikit banyak ding bermasalah dengan atasannya. Kalo saya amati sih memang si atasan ini memang sedikit banyak juga sih di luar kewajaran kalo memberi perintah (cerita bagian ininya off the record aja). Walaupun ga satu kantor sih, dan ceritanya subjektif sekali, tapi saya mengambil kesimpulan nya di luar kewajaran deh. Bagian yang mebuat say takjub dan terharu adalah ketika teman saya itu mengatakan statement (dengan edit seperlunya) seperti ini

aku lg diberi hukum karma, karna biyen, aku skolah + kuliah cengengesan, gak srius, jd saiki kerjo hrs srius, dgn keadaan begini, aku ga  iso cengengesanaku postive thinking, aku lg diuji dg beban kerja yg "mungkin " lebih berat dr yg laen, karna Allah ingin menyiapkan aku untuk duduk di posisi pempimpin

Terharu banget teman saya itu bisa bilang seperti itu. Selalu ada cara Allah untuk mengajarkan hambaNya( takjubnya bener-bener ga nyangka teman saya ini bsia bicara seperti itu). Dan selalu yang diberikan Allah itu yang terbaik untuk kita. Ketika kita bermasalah dengan atasan, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita (atau mungkin mempersiapkan kita) untuk bisa kelak menjadi atasan yang baik. Ketika kita sedang bermasalah dengan rekan kerja, Allah sedang memberikan pelajaran tentang habluminannas, bagaimana bermuamalah dengan baik, termasuk sebagai bawahan adalah menjalankan muamalah dengan baik kepada atasannya (kalo yang ini, saya masih sangat sangat harus belajar. Maaf ya bapak-bapak bos, kalo saya masih sangat sering jutek dan bersikap tidak baik). sudah banyak yang tau teori muamalah yang baik, tapi sedikit yang bsia mempraktikannya (sepertinya saya masih masuk dalam bagian yang banyak itu, semoga Allah memberi kemudahan untuk menjadikan saya bagian yang sedikit itu). Kuncinya adalah positive thingking, khusnudzon kepada Allah..Selain itu juga menyadari bahwa segala yang kita temui itu kembali pada refleksi atas sabar dan syukur.

Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Eh, ingat hadits ini, ingat lagi dengan seorang teman yang punya jargon "sing sabar". Setiap dia bicara, paa ujung kalimat hampir selalu ditambahi "sing sabar" Pada praktiknya, teman tersebut memang menjadi seorang yang sabar menghadapi apapun (sejauh pengamatan saya sih). Segala sesuatu ditanggapi dengan senyum (aih, kapan coba saya bisa kaya gini). Kata teman saya itu, dia mendengungkan jargon tersebut sebagai implikasi dari surat Al Ashr (monggo dibuka mushafnya), dan juga agar bisa disebarkan ke orang-orang sekitarnya mengingat beban kerja di kantor membuat orang stres dan kurang bersabar (kaya saya kali ya :D ). Cara seperti itu cukup efektif juga, paling tidak orang-orang di sekitarnya jadi selalu inget untuk selalu bersabar, terutama ketika stres dan emosi melanda.

Ada juga solusi lain selain sabar. Dari majalah Tarbawi (edisinya lupa kapan) mengenai orang-orang yang namanya lupa tersebut dalam doa kita. Disitu ditulis bahwa doa merupakan kunci dan kekuatan Rasul dan para sahabatnya. Dan merupakan kebiasaan para sahabat untuk mendoakan kebaikan bagi sahabat yang lain. Fenomena sekarang ini, seringkali kita lupa mendoakan orang-orang di sekitar kita. Jangankan pemimpin kita, orang-orang dekat kita seperti sahabat, teman kos, teman kantor kadang terlupa disebut dalam doa. Untuk pemimpin sendiri, dalam majalah itu dibahasa, bagaiman seorang rakyat hendaknya mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya karena di tangan pemimpin inilah kesejahteraan rakyat berada. Bisa jadi kegagalan para pemimpin disebabkan karena rakyatnya kurang mendoakan pemimpinnya. dan bahwa Allah akan memberikan pemimpim paa suatu kaum sesui dengankaum itu. Jadi ga ada salahnya dari sekrang mulai mendoakan para pemimpin kita baik yang di level atas sana (baca; pemimpin negara), maupun pemimpin kita disini. Mendoakan juga temen-teman kita dan orang -orang yang berhubunagn dengan kita supaya berkah dan keberkahannya dapat dirasakan bersama.

Kesimpulannya masih banyak pe er saya, yang paling utama adalah mengelola emosi saya. Selain itu, pe er juga mencari barang-barang lain berwarna pink dan ungu untuk ditaruh di meja kerja (ga penting banget sih). Ini penting kok, warna kesukaan itu bisa membuat mood membaik :D. 

Klo dipikir-pikir, kantor itu tempat kuliah psikologi gratis. dibayar pula. Kantor juga jadi laboratorium muamalah. Tempat praktik muamalah dengan orang lain. Saya sudah memutuskan untuk bekerja. Bonusnya adalah dapat kuliah psikologi, langsung praktik pula. Jadi..nikmati sajaaa.... (sambil berdoa dan berharap semoga Allah memudahkan diriku untuk belajar disini..amiin..allhumma amiin..)

Love my Work
gambar disini

Senin, 03 Januari 2011

Ketika (harus) Keluar dari Zona Nyaman

Penghujung tahun 2010…Ketika akhirnya undangan itu tiba di meja kerjaku. Ups, bukan sekedar undangan tampaknya, ada surat lain yang dikirim bersamaan dengan undangan tersebut. Surat yang akhirnya menjadi akhir dari desas desus yang beredar selama ini. Dan surat yang akhirnya membuatku seolah kehabisan oksigen pagi itu. Dan sepertinya tidak hanya aku yang merasakan hal serupa. Kami yang ada disini merasakan hal yang sama. Itu bukan undangan pernikahan atau surat pribadi lainnya. Yup, itu undangan menghadiri pelantikan pejabat eselon III, sekaligus surat pemanggilan pelantikan. Pemanggilan pelantikan untuk bos kami tentunya.
Pelantikan..?yah, itu sama artinya bos kami akan diganti. Bos lama dimutasi dan diganti dengan bos yang baru. Hal yang sangat wajar terjadi di dunia kerja. Rotasi,mutasi, promosi. Organisasi yang baik memang tidak akan stagnan dalam suatu formasi tertentu, sebaik apapun formasi tersebut. Dan akhirnya setelah beberapa tahun menjabat, bos kami pun harus dimutasi. Bukan,bukan karena tidak baik dalam jabatan yang lain, tetapi ini lah apa yang mereka katakan sebagai penyegaran dalam organisasi.
Baiklah, apalah pelaksana seperti kami ini. Yang memang tidak punya hak seperti orang-orang yang di atas itu. Namun, tetap saja kami ini lah yang merasakan dampak dari perubahan itu. Kami yang selama ini telah terbuai dengan kenyamanan bekerja bersama bos kami itu, akhirnya harus menerima kenyataan harus keluar dari zona nyaman tersebut. Terlebih aku. Aku yang baru setahun bekerja disini, benar-benar merasakan kenyamanan itu, bahkan sejak pertama kali menginjak dunia kerja di sini. Sejak pertama kali beradaptasi dengan lingkungan baru, dan kemudian setahun ini muali merasakan nyamannya. Dan sekarang kenyamanan itu harus diganti dengan hadirnya bos baru. Benar-benar tak terbanyangkan sebelumnya. Apalagi setelah mendengar karakter bos baru ini. Sungguh ini membuat sesak.
Hufh..okey…tapi sekali lagi aku meyakinkan diriku bahwa perubahan itu ga selamanya buruk kok. Aku belajar dari seorang teman. Ketika kita mendapat suatu hal negative, maka berusahalan untuk menuliskan setidaknya sepuluh hal positif tentang hal tersebut. Dan seharian kemarin aku memang melakukannya, aku mencari dan menuliskan sepuluh hal positif atas pergantian bos ini. Hasilnya, cukup amazing. Memang hanya sepuluh yang aku dapat. Tapi selama menulis sepuluh hal itu, aku jadi diingatkan banyak hal. Terutama tentang niat pertama kali aku bekerja. Ini beberapa poin dari sepuluh poin positif yang aku anggap menarik. Pertama, hal positif yang aku dapat dari pergantian bos ini adalah aku diingatkan untuk meluruskan niat, untuk siapa aku bekerja. Jika aku bekerja untuk Allah, maka siapapun bos ku, aku akan bekerja dengan baik dan ikhlas. Itu artinya aku tidak akan terpengaruh siapa dan seperti apa bos ku.
Kedua, dengan bos baru, berarti iklim kerja akan baru juga, itu artinya ada tantangan baru yang harus dihadapi yang sama saja kesempatan untuk belajar lebih banyak. Bukan tidak mungkin dengan bos baru ini, aku jadi bisa menemukan cara kerja yang lebih efektif dari sebelumnya. Intinya adalah kesempatan untuk banyak belajar.
Ketiga, aku jadi lebih bersyukur atas kehilangan. Copas status seorang teman ” Kehilangan itu patut disyukuri, karena kita pernah diberi kesempatan memiliki”. Yup, akhirnya aku pun harus merasa beryukur pernah memiliki, jika tidak seperti ini kadang aku lupa bersyukur atas apa yang aku miliki, termasuk bos yang baik ini.^^
Tiga poin itu sih yang cukup menarik menurutku. Paling tidak setelah menulis sepuluh hal positif itu, aku jadi berpikir semakin positif. Dan merasa lebih siap menhadapi bos baru. Pada akhirnya hanya pikiran kita yang akan membawa suasan hati kita. Karena bukan suasana yang harus diganti, tetapi cara pikir kita lah yang harus diubah.  Yakin saja setelah ini akan memasuki zona nyaman yang baru. Mungkin ada baiknya juga aku menulis lagi lanjutan tulisan yang pernah aku buat dulu, tentang menemukan cinta di kantor. Dan akhirnya tulisan ini ditutup dengan copas status teman lagi, “Senang, sedih, kecewa, bahagia bisa diatur, sebesar apa pengharapan yang dilakukan di awal tentang suatu kejadian“
Semangat menyambut tahun 2011…!!

tulisan ini juga dapat dilihat disini

Sabtu, 17 Juli 2010

Kerja itu Susah ya,,??!!

"Kerja itu yang susah bukan kerjaanya, tapi human nya.."



Itu kata-kata mama waktu jaman jadi pengangguran..sekarang, setelah 6 bulan kerja, dirasa-rasa mang bener seperti itu..kerjaanya itu sebenernya relative ga susah..dipikir, kerjanya Cuma gitu2 aja..kadang malah kerjaanya monoton, jadi ga pake mikir panjang pun dah otomatis ngerti dengan kerjaan itu..:)

Yang susah adalah manusianya..ya manusia dalam konteks diri sendiri, ya manusia dalam konteks orang lain..ini nih, bagian-bagian yang menurutku (yang aku rasain sih..) masih merasakan susahnya kerja..:

1.      Kerjaan yang membosankan
Kadang dapet nih, kerjaan yang ngebosenin. Habisnya kerjaan itu monoton dan rasanya tuh kerjaannya ga slesai-slesai..dah hampir selesai, dateng lagi kerjaan yang sama..wuih..itu bayangin aja dah kliatan sangat menyebalkan ya..apalagi masih fresh graduate gini, idealisme masih tinggi, jadi kadang mikir, ilmuku selama kuliah mau dikemanain  ya..?ga kepake ini..:(
2.      Kerjaan numpuk, dan ga tau mana yang harus diprioritaskan
Buat pegawai baru kaya aku ini, agak susah sih membedakan mana kerjaan yang prioritas dan bukan prioritas. Apalagi kalo harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tampaknya harus diselesaikan dengan segera. Apalagi tugas itu sama-sama merupakan tupoksi.. Bingung tuh..Jadi di kantor, salah satu tupoksiku adalah mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan tata usaha di bagianku. Salah satunya adalah mengurusi persuratan keluar dan masuk. Sebagai pegawai tata usaha, itu artinya aku berada di bawah ketiga kasubbag dan satu kabag (ini kaya jabatan lintas subbagian gitu..). namanya di kantor, komunikasi utama kan lewat persuratan.jadi harus teliti melihat mana surat yang harus segera ditindaklanjuti atau masih bisa ditunda . Tapi, menurut struktiuralnya, aku adalah staf salah di salah satu subbag. Jadi ada tuposi khusus di subbag itu (di luar mengurusi perusuratan). Kadang bingung ketika tugas dari subbag itu butuh untuk cepat, tetapi di luar itu ada persuratan juga yang harus segera ditindaklanjuti. Pusing juga kalo lagi di sikon gitu. Sama-sama harus cepet, sama-sama tupoksi..akhirnya semua kerjaan dikerjain buru-buru biar semua bisa kepegang..atau kadang harus kerja multitasking..dua kerjaan dikerjain bareng..kalo dah gini bisa jadi kaya bola bekel..lari sini lari sana..hhe..efek buruknya kerjaan jadi ga sama-sama beres. Dalam arti ngerjainnya jadi terkesan separo-separo. Kalo ini, jelas aku yang salah. Sepertinya untuk ke depannya harus lebih bisa membagi kerjaan-kerjaan itu dalam skala prioritas.
3.      Susah ketika harus bersinergi dengan teman kerja
Yang namanya kerja itu ga bisa lah kita kerja sendiri. Pasti akan selalu berhubungan dengan orang lain. Minimal berhubungan dengan temen-temen di satu kerjaan. Bagian susahnya adalah mensinergikan otak dari sekian orang untuk bisa kerja sama. Sepertinya di bagian ini yang mungkin kadang akan banyak "makan ati".hehe..
Masalah umur ini juga jadi kesulitan sendiri. Di kantor itu nyampur, orang yang umurnya udah banyak (alias sudah senior) dan orang-orang yang umurnya baru sedikit (alias masih junior). Jaman mereka dan jaman kita adalah beda, jadi pemikiran pun akan beda juga. senioritas jelas akan menjadi factor kesulitan untuk berkomunikasi menyamakan persepsi. Apalagi jika temen kerja itu umurnya sudah jauuh di atas n jauuhh lebih senior.. yang aku rasain sekarang sih gitu, beda pemikiran jadi sedikit susah. apalagi karena seniornya, jadi kadang merasa punya dua atasan langsung. Dan itu bener-bener ga mudah, berada di bawah dua perintah. Apalagi posisiku saat ini adalah junior yan ga ngerti apa2,yang masih harus banyak belajar.. jadi ya, disuruh ini, ya kerjain ini. disuruh itu, ya kerjain itu.…-_-"
Poinnya mungkin itu kali yang kadang buat gemes kalo lagi kerja...hhe....kalo masalah pekerjaannya sendiri, mungkin ga terlalu rumit, atau minimal pekerjaan itu bisa lah dipelajari.. Bener kali, ada yang bilang (lupa, sapa yang bilang), "belajar itu adalah pekerjaan yang paling mudah". Jelas mudah ya, kan klo belajar udah jelas materi yang mau dipelajari apa,, bahannya jelas, ada yang ngajarin. Trus tinggal dipelajari aja. Tapi kalo kerja, kadang kita ga ngerti, materi apa aja yang harus dikuasai. Semuanya dilakukan dengan learning by doing.
Oh ya, ada wejangan lagi ni dari mama, "kerja itu yang semeleh, dibuat santai, ga usah kemrungsung. Toh, kalo di pemerintahan, kerja gini atas nama instansi, jadi bakal kerja bareng, ga kerja sendiri-sendiri".  Yup, suka dengan wejangan ini. kerja itu memang harus dinikmati. Ga boleh dibuat stress. Kalo inget wejangan itu, jadi inget lagi untuk selalu meluruskan niat., untuk apa kita bekerja. Kalo kerja hanya diniatkan untuk mengejar harta atau jabatan, ya bakal capek itu karena sifat dasar manusia yang tidak pernah merasa puas. Kerja diniatkan juga untuk ibadah, biar ada sinergi antara kehidupan dunia dan akhirat (bener kan ya..???!).mungkin baru itu yang bisa jadi solusi. Mungkin baru itu sih,yang  bisa dilakukan buat mengatasi masalah-masalah itu. menikmati saja apa yang ada sekarang. Bekerja dengan baik ikhlas saja..apa-apa yang ga enak disenyumin aja..:)

Hmm..,,ni tulisan jadi curhat lagi ya..haha..tapi ini curhat bukan bermaksud untuk mengeluh, ataupun menjadi tidak bersyukur atas pekerjaan sekarang kok. Cuma pengen mengeluarkan uneg-uneg aja, trus di share..sapa tau bisa dapet pencerahan..:)