Jumat, 26 Januari 2018

Manusia Rata-rata

Sebenarnya sudah sejak lama saya merenungi seorang saya yang seringkali saya deskripsikan sebagai manusia rata-rata. Iya, manusia yang segala sesuatunya serba rata-rata. Tinggi rata-rata, berat badan rata-rata, keahlian rata-rata, kepandaian rata-rata. Ga ada yang menonjol sedikitpun :D Flashback ke kehidupan masa kecil, dulu saya ga pernah merasa diri saya ini rata-rata loh. I always think that i'm number one. Saya ini anak pertama, hampir segala sesuatu menjadi contoh buat adek saya yang seorangan itu. Saya hampir selalu merasa harus menjadi seorang yang sempurna. Bayangkan, hampir setiap penerimaan rapot, orang tua saya selalu tersenyum bahagia melihat nilai rapot saya yang hampir selalu bagus. Paling sering dapat peringkat 1, pernah juga dapat peringkat 2 atau 3, paling jelek seumur hidup saya ada di peringkat 8. Dan itu pun cuma sekali. Untuk mengejar itu semua, setiap malam saya diwajibkan belajar dan mengerjakan PR sekolah. Bagi saya adalah aib besar ketika tidak mengerjakan PR atau tidak sanggup mengikuti pelajaran sekolah. Rasanya sepanjang sekolah saya selalu sibuk dengan belajar, les ini, les itu. sampai akhirnya lulus SMA, saya berhasil diterima di 3 PTN plus 1 perguruan tinggi kedinasan. Luar biasa kan :D Dan untuk melengkapinya menjadi anak sempurna, saya ambil perguruan tinggi kedinasan sesuai keinginan orang tua saya. Dan jadilah saya ini sekarang menjadi  seorang kuli negara dengan gaji yang Alhamdulillah cukup untuk hidup di kota besar. Orang tua saya bangga dan bahagia melihat pencapaian saya yang lumayan ini :)

Tapiii...Nyatanya menjadi peringkat 1 aja, ternyata tidak cukup membuat saya bisa survive dalam menjalani hidup. Ketika saya mulai masuk kerja, saya cuma berprinsip saya ini pintar, tapi saya tidak pernah diajari bagaimana harus menerima arahan, kritik, dan saran atau mengahadapi orang-orang dengan beragam sifat dan karakternya. Ketika saya menikah, saya bahkan tidak bisa memasak. Lalu buat apa pula waktu itu saya selalu mengejar menjadi nomor 1. Gelar peringkat 1 itu saat ini tidak bisa membantu saya sama sekali :D. Ya, baiklah lupakan saja perihal manusia sempurna. Karena di titik ini, ketika saya baru mulai mengasah soft skill-keahlian yang seharusnya sudah saya pelajari dari jaman sekolah-, saya mendapati bahwa saya ini tidak ahli apa-apa. Saya hanya si manusia rata-rata, ingin ini, ingin itu, tapi semuanya serba tanggung. Tak pernah ditekuni dengan serius, Segalanya hanya dilakukan sepotong-sepotong. 

Yup, itu kemarin. Karena mulai hari ini saya harus mulai menekuni salah satu saja. Membuat apa yang yang saya bisa dan apa yang saya suka menjadi bermanfaat, minimal sekali untuk diri saya sendiri. Paling ga, saya bisa merasa berharga dan punya value. Percayalah, saking merasa mindernya menjadi manusia rata-rata, saya suka merasa diri saya tidak berharga :(

Jadilah, setelah merenungi dan nanya-nanya ke paksu perihal apa yang mau saya tekuni, jawaban pertamanya dan yang memang lagi ngendon di otak saya adalah masak :D. Janganpun dibayangkan dulu saya ini rajin masak dan bisa masak segala-gala. Karena di paragraf sebelumnya, sudah saya bilang, awal menikah saya ga bisa masak. Kemampuan memasak saya waktu itu sangat buruk, jauuuh dibawah kemampuan suami saya-yang memang suka masak :D. Manalah namanya memasak sebenrnya setiap ibu juga pasti bisa memasak dan masakannya pasti enak, minimal untuk keluarganya. Jadi kenapa memilih memasak, alasannya yang pertama biar ga malu-malu amat sama suami saya yang suka dan bisa masak. Yang kedua, kalo boleh jujur, sejak saya belajar masak, rasanya saya memang menikmati proses memasak itu sendiri. Saya bahagia ketika saya berhasil mencoba suatu resep masakan, saya bahagia ketika masakan saya dimakan lahap oleh dua konsumen utama saya (suami dan anak). Saya bahagia ketika ga harus jajan di luar ketika pengen makan enak :D Yang ketiga, rasanya memasak bisa jadi menjadi kegiatan yang bisa melibatkan seluruh anggota keluarga kami. Yaa, bisalah jadi quality time untuk keluarga kami. Suami suka masak, anak gadis mulai suka ngubek-ngubek dapur.dan yang jelas dia suka makanan enak. Lidah anak gadis ini cukup lumayan untuk bisa membedakan mana makanan yang enak dan yang ga enak.. :p

Nah, karena ini mau ditekuni, senampaknya saya mulai harus memanage dengan baik proses belajarnya. Caranya, pertama, skill itu diasah dengan banyak berlatih. Dan kedisiplinan dalam belajar itu adalah sebuah kewajiban.Tapi ga berarti harus masak tiap hari kan ya? :D  Iya, karena sejujurnya pun saya ga sanggup kalao tiap hari disuruh masak. Senin-Jumat rasanya sayang kalau waktu yang seuprrit itu buat ngoprek dapur, saya lebih seneng kruntelan sama para bocah. Jadilah berarti weekend itu jadwal saya masak. Dan untuk men-challenge diri serta menambah khasanah dalam dunia masak, minimal sebulan sekali saya harus nyobain menu baru.

Kedua, dicatat dan didokumentasikan dengan rapi. Secara belajar masaknya masih otodidak ya, jadi kalau mau masak itu lebih seringnya googling resep terus nyobain masak, terus udahan. Besok lagi kalo mau masak makanan yang sama gooling lagi. kadangan suka ga ketemu resep yang sebelumnya :D. Secara si amatiran ini kalo mau masak mesti buka resep dulu. Ga pede rasanya kalo main cemplung-cemplung aja. Apalagi kalo bikin sebangsa roti/cake harus pakem sama resepnya. Mulai hari ini sudah mulai harus dicatat rapi, biar-besok-besok kalo mau masak yang sama ga perlu googling lagi. Dengan didokumentasikan dengan rapi, harapannya biar bisa kelihatan progress skill memasaknya. Misal dulu pas pertama masak, dengan resep begini, hasilnya begini. Setelah masak yang kedua, diperbaiki lagi, misal cara memasak dan resepnya, hasilnya begini. Tentunya juga ga lupa kalo nyobain resep harus dicatat juga sumber resepnya dari mana, apalagi kalau mau di share.

Ketiga, mulai invest peralatan masak. Hmm ya sebenernya peralatan masak udah segambreng. Tapi ya itu, banyaknya itu karena punyanya double-double. Sebangsa wajan, panci, teflon ada beberapa. Dan jangan dikira itu karena kami suka beli peralatan masak. Barang-barang yang sampai double itu karena sebelum nikah mas udah punya beberapa peralatan masak, pas nikah dikadoinnya banyak peralatan masak. Jadinya punyanya double gitu. Tapi peralatan sebangsa mixer gitu malah ga punya :D. Makanya ini lagi diniatin invest peralatan yang belum kami punya. Dalam waktu dekat, insya Alloh pengen beli food processor. Biar bisa giling-giling daging sendiri. Kebayang udah pengen nyobain bikin rolade ..:D

Keempat, pengen banget ikut kursus. Tapi ya, kalo sekarang-sekarang ini masih eman ninggalin para bocah. Senin-Jumat udah ditinggal dari pagi sampai malem, kalo weekend masih harus ditinggal juga rasanya kasian banget. Insya Alloh kalau ada rejeki, semoga bisa kesampaian kursus atau minimal bisa belajar sama ahli :)

Perencanaannya kayaknya sudah oke, tapi apalah perencanaan tanpa dikerjakan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Insya Alloh, atas ijin Alloh semoga niatan hati untuk mengasah skill ini mendapat ridho Alloh. Penting amat ya, nulis pengen masak gini sampe ditulis berpargraf-paragraf. Penting amat pula gitu ya, pengen seiusan masak, yang yakinlah sebagain besar orang juga bisa.. Tak apalah, dengan ditulis begini, kalau suatu saat saya di kemudian hari lupa bahwa hari ini saya pernah berazzam seperti ini, maka saya akan ingat dan semoga kembali lurus di niatin ini. Aamiin.

Btw, besok udah weekend. Belum ada rencana buat nyobain resep baru. Baru berencana mengolah stok iga yang ada untuk dibuat iga bakar. Sama udah lama sih rencana pengen buat cinnamon roll. Tapi kalo yang kedua ini, masih diliat waktunya nanti. :P










Senin, 12 Oktober 2015

when life is so simple..;)

Setelah seeekian lama, ga nengok blog ini, tetiba hari ini dapat wangsit buat buka blog ini :D. Seperti biasa kalo buka blog ini, yang diliat di menu dashboard, liat statistik (kaya banyak aja pengunjungnya :D ), liat komentar, liat daftar tulisan baru di blog orang..Nah, waktu liat di menu komentar, ada dong komentar baru, di tulisan saya yang ini. Komentarnya di posting tanggal 8 Oktober 2015, barruu banget kan. Hihih, ketawa juga saya dengan komentarnya. Hmm..jadi tulisan ini sudah dibuat lamaa sekali, tulisan tahun 2012, yang mana sekarang isu dalam tulisan tersebut ga kedengeran lagi. Dan tetiba hari gini, masih ada yang komen soal itu. Mungkin bukan masalah sih ya, si anonim itu komentarnya baru sekrang. Tapi kan saya jadi tergelitik juga, baca lagi tulisan itu, baca lagi komen-komennya. :D

Mungkin diantara kalian pernah membaca tulisan-tulisan lama kalian. dan sering terkejut dengan tulisan tersebut. Kok bisa ya dulu aku nulis itu, kok bisa ya dulu aku mikir kaya gitu, kok bisa ya bla..bla..bla.. Pernah kan kaya gitu.. Dan itu terjadi pada saya untuk kesekian kalinya. :D  Balik ke tulisan saya tahun 2012, jadi ceritanya waktu itu, lagi santer banget isu larangan menikah sesama Kemenkeu. Di tahun itu akhirnya banyak juga pasangan sesama Kemenkeu yang memutuskan untuk segera menikah. Saya salah satunya :D. Mungkin bukan karena isu ini saya buru-buru menikah, tapi memang Alloh mengirimkan jodoh saya di tahun itu, dan masalah tanggal pernikahan, Alhamdulillah berkat adanya isu tersebut, jadi salah satu alasan kuat untuk mendesak kedua orang tua kami (oertu saya sih sebenarnya) untuk tidak menunda terlalu lama pernikahan kami. Ta'aruf dari Mei (kalo ga salah), dan ortu saya masih pengen menyelenggarkan pernikahan kami setelah kami selesai kuliah S1, yang mana mungkin tahun 2013. Kelamaaan TT. dan akhirnya isu itu, jadi salah satu alasan untuk mendesak agar pernikahan kami dipercepat :D Jadi sebenarnya kondisi waktu itu, saya emang lagi cukup galau. Lah gimana kalo beneran, peraturan itu keluar, sementara calon suami saya saat itu jelas-jelas orang Kemenkeu. Berarti kan saya harus siap-siap juga kan ya, semisal saya ga jadi nikah tahun 2012 dan peraturan itu keluar, berarti saya ga bisa nikah sama orang Kemenkeu (kalo saya ga mau keluar dari Kemenkeu). Semisal saya berhasil nikah di tahun 2012, terus peraturan itu keluar, terus salah satu mesti keluar dari Kemenkeu, berarti saya juga harus bersiap. mana lagi di tahun itu, ada beberapa teman Cemputut yang mau menikah juga, kegelisahannya sama juga. Makanya ga heran kalo akhirnya saya nulis itu. Yaa, itung-itung curhat, itung-itung nambah tulisan di blog, dan yang pasti selesai nulis biasanya saya sedikit plong. :D

Nah, masalahnya ketika saya nulis, karena pure sudut pandang pribadi, dan curhatan aja, saya mana mikir dengan pendapat orang dong. Yang jelas ketika ada yang tidak sependapat, ya silahkan aja ya. Waktu itu, ketika saya dikomentari oleh orang-orang yang kontra, sebenernya agak kesel juga. Yaelah, ngapain sih ngurusin orang, mana waktu itu saya baca komennya kok nyebelin banget. (Mungkin waktu itu karena masih galau, jadinya ketika ada yang kontra, meledak deh..hahah) Dan ketika hari ini saya baca kembali komentar-komentar atas tulisan itu, apalagi yang kontra dengan saya, malah jadi geli. Ah ya sebenernya mereka inipun sedang menyampaikan pikirannya, yang mana memang bertentangan dengan sudut pandang saya. Berusaha meluruskan pikiran saya yang mereka anggap salah..Sah aja sih.. Tapi kalo saya pikir, balik lagi ya, namanya juga curhatan, kalo diajakin debat karena mereka anggap pikiran saya salah, ga akan efektif. Dibilang logika saya ngawur, dibilang saya ga berpikiran luas, ya mau gimana lagi. Namanya curhat, nulisnya pakai hati dan perasaan doang lah. Masa ya saya harus pakai kajian dulu sebelum nulis, kalo gitu momen curhatnya ilang dong..Jadinya nanti artikel ilmiah Hihih..

Baiklah..saya nulis ini, ga lagi marah atau ngomel-ngomel loh ya..Tapi beneran lucu.. Lucu mikir kenapa waktu itu saya tanggepin serius orang yang kontra dengan saya. Harusnya didiemin aja, atau dibecandain aja kan yaa.. di titik ini, kadang saya baru merasa hidup itu memang berproses. Dulu berpikir begitu, sekarang begini. Waktu, lingkungan, pengalaman, orang-orang di sekitar kita bisa membentuk orang menjadi pribadi yang berbeda melalui proses. Ini hanya sebagian kecil contoh saya berproses dari waktu itu. Saya yang dulunya terlalu peduli dengan kata orang, takut dibilang begini begitu, sekarang ini menjadi pribadi yang sangat cuek. Saya ini sekarang, sebodolah dengan kata orang. Toh mereka sebenernya kadang ga berperan apapun dalam hidup saya, cuma nyumbang komentar doang :D. Jadi ya silahkan membicarakan apapun tentang saya, asal saya ga tau, asal saya ga direcokin. Hidup itu ternyata sederhana ya.. :)



nb: betewe, dari sejak bahelua' isu larangan menikah sesama Kemenkeu, sampai detik ini, peraturan itu ga terbitjuga. Alhamdulillah. dan jika pada akhirnya peraturan itu terbit, disyukuri saja. Serahkan saja pada Alloh. Alloh tau mana yang terbaik :)

Senin, 20 April 2015

One Happiness

"Punya anak satu aja bagahianya begini ya, gimana kalo punya anak dua..."
"Iyaa, kalo punya anak dua bahagianya double, tapi menguras emosinya double juga.."
"hahah..iya juga yaaa..."
Anak itu adalah anugerah yang paling indah. Alhamdulillah ga lama setelah menikah, kami langsung diamanahi anugerah indah ini. Ga berasa juga sudah satu setengah tahun dia ada. dan setiap hari kami selalu amaze dengan setiap perkembangannya.
Seperti juga belakangan ini, nampaknya si bocah sudah bisa mengekpresikan emosi dan mulai suka perintah. disinilah kami memulai fase harus memiliki kesabaran seluas samudera. Layaknya seorang bos, apapun yang dia mau harus dituruti, kalo enggak ngambek, nangis, teriak-teriak.. Hufft kadang benar-benar melelahkan dan menjengkelkan..

Disinilah saya,sebagai ibu, harus mengelola emosi marah dan jengkel saya pada titik tengah. Mengelola emosi marah supaya tidak meluap-luap, membuat saya bisa mengkomuniaksikan dengan baik padanya bahwa apa yang dia lakukan itu tidak baik, tapi tidak berarti membuang jauh emosi saya sehingga seolah membuat apa yang dia lakukan adalah kelucuan. Susah..? Bangeeet... Hahah..

Tapi diisnilah seninya punya anak.. Ladang ibadahnya mengasuh anak.. Dinikmati,,? Jelas..Apalagi sesi menguras emosi biasanya ga akan lama.. Si bocah itu lumayan gampang berubah ekpresi, dia bisa merasakan emaknya ini ga suka atau kesel.. dan selalu ada kejutan setelah sesi menguras emosi.. Bayangin aja, selesai saya menjelaskan panjang lebar ke bocah kalo ini ga baik karena bla..la..bla...Saya diemin aja..Ga berapa lama, dia meluk-meluk saya dari belakang, nyiumin saya sambil ketawa maniis banget. Yaelah kalo udah begini, mana masih mau kesel sih..Ada juga meleleh yaaa..yaudahlah keselnya lupa, yuk Nak, kita main-main lagiii.. :D

Gitu juga sama papanya. setalh ngamuk-ngamuk dan nangis ga mau digendong..Akhirnya papanya dirayu dengan jurus maut..Papanya yang lagi bobok diciumin, dipijitin..hihi...Liat mereka mesra begitu kan enak yaa...Hihi..

Ini baruu punya anak satu..Punya anak lebih dari satu, senengnya pasti bakalan tambah banyak..tapi bersiap juga untuk menguras emosi lebih banyak juga..? Siaap..? Saya pikir tidak sekarang ..Tapi Insya Alloh kami ingin punya anka lagi..Kapan..? entah, mungkin paling cepat setelah Nadya lulus ASI..Ah, tapi Alloh lebih tau mana waktu terbaikNya... :)





Jumat, 20 Februari 2015

Rumah Baru,Hidup Baru

Selama Februari, saya belum nulis apapun ya disini..Iya, perhatian saya lagi terpecah, secara saya lagi bangun rumah baru. sudah 98% selesai, 2% nya rasanya masih ada yang kurang, tapi belum tau apa. Sudahlah, ditempati dulu saja. Nanti masih bisa kok renov2..hihi.. 

Bicara tentang rumah baru, ga berarti saya akan meninggalkan rumah saya disini. No no no... Baiklah saya ceritakan tentang rumah baru saya itu. Jadi, mulai akhir Januari lalu, saya resmi punya pekerjaan baru jadi Independent Consultant Oriflame :D Akhirnya, terjun juga ke dunia bisnis. Yes, saya ga mau bilang terjuannya saya di dunia bisnis ini main-main atau iseng aja. Big No. Saya serius kok. Insya Alloh. Karena serius itu, makanya saya bikin rumah baru, khusus untuk bisnis saya ini. Silahkan kalo mau berkunjung. ke rumah baru saya, ini alamatnya http://annisaningrum-yuliastuti.blogspot.com/

 Tentang alasan saya tetiba menerjuni bisnis ini..Yaa, silakan saja berkunjung ke rumah baru saya, baca di postingan pertama saya. Saya ceritakan disitu kenapa saya memilih bisnis Oriflame :)



Jadi sejak punya kerjaan baru, hidup saya jadi sedikit berubah. Ada tambahan kesibukan lain. Capek? Secara fisik ga terlalu, tapi pikiran iya. Habisnya saya masih bener-bener blank di dunia bisnis. Jadi masih banyak belajar, mikir, gimana caranya supaya bisnis saya berkembang. Apa yang bisa dikerjain sekarang, ya dikerjain. Sebangsa saya sukanya nulis jadi deh blog baru. Baru gitu-gitu aja.. Masalah penjualan, ya baru buka lapak, Alhamdulillah sudah tupo. Alhamdulillah bisa lebih, Pengen closing 3% akhir bulan ini.. Aamiin. masalah rekrut,yaa masih belajar.. Ga usah ditanya, berapa orang yang sudah saya rekrut, baca aja di blog satunya..hihi...Pokoknya ish, prinsip saya, biar saya ga bisa, ga bakat, tapi saya mau, pada akhirnya nanti saya juga bisa. Berproses aja.. Iya kan.. ?

Mohon doanya ya teman-teman, semoga bisnis baru saya membawa berkah. Semoga saya selalu diberi kemudahan dalam menjalani bisnis ini. Aamiin.. :)



Selasa, 20 Januari 2015

Bebas Tb

Masih cerita tentang hidup baru di Januari 2015.. Tanggal 13 Januari lalu, Nadya kontrol terakhir terkait pengobatan Tb nya. Alhamdulillah pengobatannya selesai, dan Nadya dinyatakan sehat. Yey, senang sekali akhirnya Nadya sudah tidak minum obat lagi, bajunya sudah ga kena noda-noda merah lagi..hihi..

Sebelum kontrol terakhir kemarin, Nadya dirujuk untuk melaksanakan rontgent dan tes darah. Berdasarkan catatan hasil rontgent dari bagian radiasi, dinyatakan masih ada infiltrat di paru-paru Nadya.  Menurut analisa dokter, infiltrat tersebut sudah berkurang dibanding infiltrat hasil rontgent paru-paru yang pertama. Infiltrat itu kalo bahasa awamnya, ada flek gitu deh (itu kenapa kalo sakit Tb sering dibilang flek). Sebenarnya kami agak khawatir, karena infiltrat ini belum hilang sepenuhnya. Khawatir kalo pengobatan dinyatakan gagal dan harus menambah atau bahkan mengulanng pengobatan. Menurut pernyataan  dokter, dia sendiri sebenarrnya tidak terlalu yakin dengan hasil rontgent. Alasannya hasil rontgent kadang tidak terlalu jelas, seperti hasil rontgent Nadya yang terakhir ini, kebetulan hasil fotonya memang agak burem, ga sebening hasil rontgent paru-paru pertama (yang pertama rontgent di RSPAD). Tapi berdasarkan analisanya, Nadya sudah dinaytakan sehat dan selesai berobat. Alasannya, selama masa pengobatan berat badan Nadya tergolong bagus, tiap bulan naik, walaupun sedikit. Alasan kedua, selama pengobatan ini, Nadya tidak pernah sakit serius, sebangsa batuk pilek berkepanjangan. Selain itu berdasarkan hasuil tes darah, yang dilihat dari laju endap darah, hasilnya cukup bagus. Jadilah hari itu Nadya dinyatakan bebas Tb. Alhamdulillah...

Sedikit flash back ke Oktober lalu. Jadi bulan Oktober itu, hari terakhir Mas. Yang berdasarkan hasil rontgent dinyatakans ehat, paru-parunya bersih. Harusnya ada tes  dahak lagi, tapi waktu itu dahaknya sudah bener-bener ga bisa keluar. Hihi..Yasudahlah, lihat rontgent saja, sudah bersih dan sehat. Alhamdulillah..

Kalo dilihat dari pemeirksanaan terakhir antara Nadya dan Mas, memang sedikit berbeda. Kalo orang dewasa, hasil rontgent paru-paru bisa akurat. Tapi entahlah kenapa hasil rontgent paru-paru pada anak sulit diinterpretasi. Terkait masih adanya infiltrat di paru-paru Nadya, kata dokternya sih ga masalah. Sepanjang beberapa bulan ke depan, Nadya baik-baik saja, berarti bakterinya memang sudah tidak aktif. Yaa semoga saja begitu.

Sebagai tambahan informasi, kemarin saya menanyakan ke dokter terkait efektivitas imunisasi BCG. Secara imunisasi tersebut kan termasuk imunisasi wajib dan berfungsi mencegah penyakit Tb. Pada dasarnya, imunisasi ini, dan semua jenis imunisasi sih, tidak bisa 100% mencegah penyakit, tetapi hanya bisa mengurangi dampak dari penyakit tersebut. Contohnya Tb ini. Nadya dan Mas kan sudah pernah imunsisasi, jadi kemungkinan bakterinya hanya hidup di paru-paru. Bisa jadi jika belum imunisasi, bakteri bisa menyebar ke seluruh tubuh yang mengakibatkan Tb jenis lain seperti Tb otak, Tb tulang, dan sebagainya. Tb jenis lain ini yang lebih membahayakan, karena gejalanya bisa bermacam-macam. 

Begitulah, ujian kami di 2014. Alhamdulillah berakhir di 2015. Semoga Alloh selalu memberi kesehatan dan keberkahan untuk keluarga kami.. Aamiin..




*betewe, baru-baru ini teman kantor saya positif Tb. Beliau setiap hari memang naik KRL, tapi sudah selalu pakai masker. Sepertinay Tb sudah mulai mewabah lagi..Aware yaa.. :)


Jumat, 16 Januari 2015

Lembaran Baru 2015: Preschool and Daycare

Lembaran baru di 2015..

Saya bilang lembaran baru,karena bukan sekedar ada pergantian tahun. Tapi per Januari 2015 ini akhirnya kami mengambil sebuah keputusan penting untuk Nadya. Keputusan ini diambil setelah pemikiran dan pertimbangan yang cukup panjang. Akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan Nadya ke sekolah, lebih tepatnya pre school and daycare. Yang berarti sepanjang hari dia akan berada di tempat itu bersama guru dan suster disana. Loh, emang kemana pengasuh Nadya sebelumnya? Ada kok, di rumah. Loh emang kenapa, ga rugi bayar double? Rugi sih, jadi bayar double, tapi uang masih bisa dicari, tapi ketenangan jiwa ga bisa dibeli dengan uang. Loh, enak dong pengasuhnya di rumah, ga ngapa-ngapain? Ngapa-ngapainlah, kan udah ga pegang anak, konsekuensinya ya pegang kerjaan rumah semuanya. Loh, emang ga kasian anak kecil begitu udah disekolahin, ga capek gitu? Kasian sih, tapi kan sekolahnya isinya main-main doang, insya Alloh ke depannya lebih baik kalo Nadya ditaruh di sekolah.

Yaa..begitulah, setiap mengambil suatu keputusan, selalu ada orang-orang yang pro dan kontra. Bukan saya menyalahkan orang-orang yang kontra  ini, bukankah orang-orang ini justru perhatian ya sama saya. Terima kasih untuk orang-raong yang sudah mendukung keputusan saya. :))

Jadi, sebenernya sudah agak lama, saya mikir buat taruh Nadya di daycare. Alasannya, yang paling utama sih saya mulai ga tenang sehari-harinya Nadya berduaan saja sama pengasuhnya. Kenapa..?Ah, sepertinya tidak perlu diceritakan disini :)   Waktu itu, belum mikir sih bakal dimasukin ke pre school. Secara umurnya baru setahun, rata-rata pre school baru terima kelas toddler mulai 1,5 tahun. Dari bulan September lalu, kami sudah survey ke beberapa daycare. Pengennya yang dekat kantor. Tapi penuh semua. Survey juga ke beberapa tempat yang sekiranya rutenya sejalan dengan kantor.. Maksudnya biar ga repot antar jemputnya. Hasilnya ada yang budgetnya masuk, tapi cuma terima anak yang sudah bisa jalan (waktu itu Nadya belum bisa jalan). Ada yang bisa terima tapi budgetnya ga masuk.  Jadi keinginan masukin ke daycare mengendap. Sampai Desember lalu, saya dikirimin email oleh kepala sekolah sebuah pre school yang pernah saya survey, yang isinya ada promo uang pangkal untuk pendaftaran Desember. Namanya emak-emak itu seneng lah dapat promo. Lumayan pula :D. Secara namanya baru coba-coba sekolah ya, kalo sudah dibebani uang pangkal gede-gede, tapi akhirnya di tengah jalan anaknya ogah-ogahan rugi..hihi.. Langsunglah mejelang berakhirnya bulan Desember, kami cap cus menuju pre school tersebut buat daftar :D 

Nama sekolahnya adalah Chike Pre school and Daycare. Sampai sana Alhamdulillah diterima dengan baik oleh kepala sekolahnya, Miss Yani. Alhamdulillah biar kelas toddler mulai 1,5 tahun, Nadya yang baru 14 bulan dibolehin masuk. Sekolah ini baru buka Agustus 2014 lalu, jadi muridnya belum terlalu banyak. Mungkin atas pertimbangan itu, masih ada tempat untuk Nadya. Alhamdulillah, rejekinya Nadya buat sekolah. Sekolahnya sendiri sebenarnya ga terlalu luas, karena sebenarnya sekolahnay adalah rumah yang disulap jadi sekolah. Tapi dengan kapasitas anak yang ga terlalu banyak, cukuplah menurut saya. Lantai 1, ruang jemput orang tua, ruang makan, ruang bermain, dapur,toilet, dan kamar ganti. Lantai atas, kamar tidur, ruang audio visual, dan tempat bermain dan belajar. Garasi disulap jadi play ground. Untuk jamnya, jam 08.00-11.00 jam belajar, yang ini anak-anak masuk ke kelas sesuai usia. Pakai seragam lo..jadi beneran sekolah dan diajar oleh teacher..hihi..Tapi namanya toddler, yang diajarkan adalah hal-hal yang merangsang motorik aja, kaya coret-coret, buka buku, mindahin mainan. Setelah jam 11.00 sampai sore anak baru masuk ke daycare, yang jaga ada suster dan mbak-mbak. Perbandingan anak;pengasuh nya 1:2.  Enaknya nih, walaupun jam sekolah baru mulai jam 08.00, tapi anak boleh diantar mulai jam 06.30. dijemput paling lama jam 18.00. Dengan waktu segitu, ga terlalu repot buat antar jemput. Jadi pagi kami antar Nadya, terus berangkat kantor. Pulangnya jemput dulu. Alhamdulillah masih keburu. 

Hari ini, tepat 2 minggu Nadya bersekolah. Alhamdulillah kami melihat ada kemajuan dalam diri Nadya. Kemajuannya seperti, lebih bisa diajak komunikasi sebangsa disuruh makan sambil duduk, makan pakai tangan kanan, bisa mematuhi perintah sederhana, mulai berinisiatif untuk membantu. Kalo ini biasanya setiap saya solat Maghrib, Nadya saya bawa ke kamar buat nemenin. Maksudnya biar dia terbiasa juga untuk soalt. Kalo saya bilang mau solat, dia akan ambilin mukena, disuruhnya saya pakai. selama solat sih pecicilan kemana-kemana. hihi. Selesai solat, dia akan ambilin Al Quran dari rak, kasih ke saya, minta saya baca. Akhirnya bacanya cuma sedikit sih, habisnya dia tarik-tarik Al Qurannya, atau tulisannya ditutupi..hihi..Setelah itu, saya lipat mukena, nanti dia akan menaruhnya lagi di tempat mukena. Bisa kaya gitu aja, saya udah takjub. Alhamdulillah. Semoga Alloh melimpahkan kecerdasan untukmu, ya Nak :'). Kemajuan lainnya, belakangan ini dia mulai ga gampang ngambek :D Kemajuan paling pesat sih masalah makan. Takjub saya dengan makannya Nadya sejak sekolah. Sebelumnya satu mangkok kecil aja, seringnya baru habis setelah 2 kali makan. Sekarang, sekali makan langsung habis 3/4 mangkok. Di sekolah, dapat makan siang dan makan malam. Makan malamnya sih jam 16.30. Biasanya sih saya dilapori, makannya habis, atau tinggal sedikit. Tapi ya sampai rumah masih cari-cari makan lagi. Jadi ya begitu pulang ke rumah, sampai waktunya tidur, kerjaan Nadya adalah main sambil ngemil :D

Itu pandangan kami tentang Nadya, terus gimana Nadya menyikapi bahwa dirinya berada dilingkungan baru..? Yah, namanya anak kecil di tempat baru, awalnya pasti susah. Tapi selama 2 minggu ini Nadya sudah mulai beradaptasi. Minggu pertama, setiap kali sampai sekolah, dia nangis, takut ditinggal. Bahkan di hari kedua sekolah, malamnya dia ga bisa tidur pulas. Setiap saya bergerak, berubah posisi sedikit aja, Nadya bangun, minta nenen, atau cuma sekedar dipeluk aja. Alhamdulillah itu cuma semalam aja. Besoknya sudah tidur pulas. Minggu kedua, Nadya mulai ga nangis kalo ditinggal. di sekolah dia sudah mulai mau bermain, atau mengajak main temannya. Sepertinya Nadya sudah mulai enjoy, Alhamdulillah.   Semoga kamu seneng dan tambah pinter disana ya..:-*


Ceria di sekolah



Mainan untuk merangsang motorik

Senyum cantik habis mandi sore

*foto-foto ini dikirim oleh Miss Yani, kepala sekolah Nadya.. Biasanya legaa banget kalo Miss Yani udah kirim foto. Paling ga tau, kalo Nadya di sekolah baik-baik saja.. Love you, Cumil.. :-*

Jumat, 09 Januari 2015

Hanya Titipan

 Bahwasannya mereka ini hanyalah titipan Alloh..
Yang pada akhirnya akan kembali juga kepadaNya.. 


Rabb,  jangan jadikan cintaku pada mereka melebihi cintaku padaMu..
Bimbinglah kami dalam meletakkan cinta kami..
Jangan jadikan cinta kami menjauhkan kami dari Mu..

Kami percaya janjiMu bahwa di surga nanti setiap orang akan bersama dengan yang dicintainya..
Izinkan kami untuk dapat bersama di dunia dan akhirat kelak, ya Rabb..
Aamiin..





Mencintai kalian karena Alloh :-*