Senin, 24 Mei 2010

Peran Wanita Karir Menurut Sudut Pandang Islam

Jumat kemarin tanggal 21 Mei 2010, kajian perdana muslimah di kantorku. Materinya adalah Peran Wanita dalam Sudut Pandang Islam. Tema yang bagus, ditambah pembicaranya bagus, waktu 1 jam jadi berasa cepet banget. Dan dengan bodohnya pula aku ga bawa catetan waktu itu. Jadi ni hanya ingin menulis kembali apa-apa yang masih tersisa di otak. Biar sisa-sisa itu ga ilang sama sekali, jadi ya sambil ditulis..katanya ilmu itu kan harus diikat..Dan karena sebelumnya aku pernah baca buku tentang muslimah karir, jadi tulisan ini nantinya mungkin ga akan sepenuhnya apa yang disampaikan oleh penceramah. Intinya sih ini hanya ingin menulis kembali apa yang ada di otakku..:p (Oh ya, pengisi materi di kajian kemarin adalah ibu Fatiya Chatib. Beliau adalah anggota DPRD DKI Jakarta dan pengisi kajian rutin di lingkungan Kementerian Keuangan Insya Allah beliau juga akan mengisi kajian rutin di kantor setiap hari Jumat).

Pro kontra mengenai wanita karier terus bergulir. Banyak yang pro,tapi tak sedikit pula yang kontra. Perbedaan kultur mungkin menjadi salah satu sebab. Kultur barat menjunjung tinggi kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa ada batasan. Dampaknya para wanita disana akan bertindak sesuka hati mereka. Sementara kultur timur berpandangan bahwa wanita haruslah tinggal di rumah. jadi tak heran jika disana perniagaan pn hanya dilakuakn leh pria. Para wanitanay cukup tingal saja di rumah. Namun, yang menjadi fokus di tulisan ini bukan tentang pro dan kontra itu, tetapi bagaimana Islam memandang wanita karier karena Islam adalah agama pertengahan, yang tidak datang dari barat ataupun dari timur. Menurut yang disampaikan oleh ibu Fatiya, pada dasarnya Islam membolehkan wanita untuk berkarir (tentunya dengan batasan dan aturan tertentu). Karier ini dimaksudkan untuk menggali potensi yang dimilikinya. Potensi yang dimiliki tiap wanita ini berbeda-beda. Ada yang memiliki potensi masak, jadi dia bisa buka catering sendiri di rumahnya sehingga tidak perlu keluar rumah untuk berkarir. Namun, ada pula yang memiliki potensi mengajar sehingga perlu keluar rumah untuk berkarir. Yang perlu diingat adalah pada dasarnya ada empat syarat utama wanita boleh untuk berkarir.

Yang pertama adalah mendapat izin dari wali. Jika wanita itu belum menikah, walinya adalah orang tuanya. Dan jika wanita itu sudah menikah, walinya adalah suaminya. Izin ini merupakan syarat mutlak diperbolehkannya wanita keluar rumah untuk berkarir. Namun, ada kondisi-kondisi yang menyebabkan tanpa izin suami wanita dapat berkarir. Misalnya kondisi dimana suami tidak dapat mencari nafkah untuk keluarganya. Dalam kondisi demikian, wanita boleh saja keluar untuk bekerja. Bahkan tanpa perlu izin dari suaminya. Alasannya wanita tersebut harus menghidupi dirinya sendiri dan anak-anaknya sementara suaminya benar-benar tidak dapat lagi memberi nafkah. Hal ini berbeda jika suami masih dapat memberi nafkah, hanya nafkah yang diberikan itu kurang mencukupi kebutuhan keluarga sehingga peran istri dibutuhkan untuk menambah income keluarga. Dalam kondisi demikian memang dibutuhkan nego antara suami dan istri apakah sang istri diperbolehkan untuk bekerja atau tidak.
Ada bagian yang menurutku menarik yang disampaikan ibu ini. Beliau pada dasarnya mendukung jika wanita sebaiknya berkarir, alasan beliau adalah agar wanita tersebut bisa menggunakan penghasilan yang dimilikinya sesuai kehendaknya. Maksud dari sesuai kehendak disini tentunya dalam arti wajar, misalnya memberi orang tuanya, menyedekahkan penghasilannya, dan sebagainya. Dalam penggunaan harta yang diperoleh dari penghasilannya sendiri, wanita tidak perlu meminta izin suami dulu. Hal ini tentu berbeda jika harta yang dimiliki istri adalah pemberian suami. Penggunaannya harus mendapat izin suami dan bergantung pada akad antara suami dan istri mengenai penggunaan harta tersebut. Apakah harta yang diberikan suami untuk istri itu boleh digunakan untuk apa saja atau hanya untuk hal-hal tertentu saja. Contohnya, seorang suami memberikan penghasilan kepada istrinya sekian juta rupiah tiap bulan. Si suami bilang ke istri, uang itu hanya boleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu berarti si istri tidak boleh menggunakan uang tersebut diluar pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Jadi untuk memberi kepada orang tua sendiri pun harus izin dulu kepada suami. Bagian itu menurutku jadi menarik soalnya aku kan wanita..hehe..maksudnya aku setuju dengan pandangan ibu itu. Jadi inget kata-kata dosen Pengantar Ilmu Hukum dulu, harta suami adalah harta suami, sedangkan harta istri adalah milik istri…^^b tapi lebih dari itu, kalau menurutku wanita karir sendiri penting juga. Ini juga diakui salah seorang temanku. Dia bilang kelak istrinya sebaiknya memang punya pekerjaan karena kita tidak pernah tau apa yang terjadi di kemudia hari. Mungkin saat ini suami masih bisa memenuhi kebutuhan istri, tapi tidak ada yang menjamin kehidupan yang akan datang. Contoh buruknya tiba-tiba suami meninggal. Saat itu terjadi jika istri memiliki pekerjaan, paling tidak dia masih bisa menghidupi anak-anaknya dengan tidak bergantung pada orang lain.

Syarat yang kedua adalah berpakaian sopan. Pakaian sopan yang paling sopan bagi muslimah tentunya adalah pakaian yang menutup aurat. Masalah kriteria menutup aurat yang baik seperti apa, tidak dijelaskan secara detail sih ma ibunya (yah, mungkin klo dijelasin detail, bisa jadi satu materi sendiri..^^). Ternyata pakaian ini memang berpengaruh pada pandangan orang (baca: pandangan pria). Ini kata ibunya, diakui sendiri oleh desainer Itang Yunaz. Ada seorang yang bertanya kepada desainer tersebut, pakaian apa yang pantas dikenakan untuk ke kantor. Desainer itu menjawab pakailah pakaian yang sopan yang tidak mengganggu mata kami (baca: mata pria). Sebagai karyawati berpakaianlah seperti karyawati, jangan berpakaian seperti model. Maksud berpakaian seperti model disini ya berpakaian yang dalam bahasaku "kekurangan kain"..heheh..ternyata memang pakaian yang minim seperti itu akan mengganggu pandangan pria.

Ada lagi satu cerita menarik, kisah nyata yang dialami ibunya. Suatu saat beliau naik taxi, di dalam taxi sopirnya bertanya pada ibu itu, sejak kapan beliau mengenakan jilbab. Beliau pun menjawab bahwa beliau mengenakan jilbab sejak lulus SMA. Sopir itu pun bertanya lag, apakah ibu itu seorang muslim. Dengan terkejutnya ibu itu pun menjawab apa maksud pertanyaan sang sopir. Sopir taxi itu pun kemudian bercerita bahwa sebelumnya ada penumpang wanita yang berjilbab. Sopir itu bertanya pula kepada penumpang itu sejak kapan wanita itu berjilbab. Wanita itu menjawab dia memang berjilbab, tapi dia bukan muslim. Dia memang memakai jilbab jika bepergian karena merasa nyaman dengan jilbabnya itu. Dia mengakui sejak mengenakan jilbab dia merasa aman dan tidak diganggu orang lagi. Ada satu pernyataan wanita itu yang sangat jujur, "sayang ya, tidak banyak wanita muslim yang mengetahuinya" (maksudnya mengetahui bahwa berjilbab itu nyaman).

Syarat yang ketiga adalah tidak ber-khalwat. Ber-khalwat maksudnya berdua-duaan dengan lawan jenis di ruangan tertutup sehingga patut untuk dicurigai terjadi ”sesuatu" diantara mereka. Contohnya berduaan di ruang rapat dengan kondisi pintu ruang rapat itu tertutup. Namun tidak bisa dipungkiri, kadang kita tidak bisa menghindari kondisi-kondisi dimana sebenarnya kita tidak menghendaki khalwat itu terjadi. Contohnya rapat lagi ni, orang-orang pesrta rapat yang lain belum datang dan di ruang itu hanya ada kita dan seorang pria sehingga kita harus menunggu peserta rapat lain datang di ruang itu. Dalam kondisi seperti itu, ya diakalin aja. Pintu ruang rapatnya dibuka (jangan ditutup) sehingga tidak menimbulkan kecurigaan orang lain.

Sebenarnya kenapa hingga ber-khalwat ini tidak diperbolehkan adalah karena ada hadits yang menyebutkan bahwa jika kita berdua-duaan, maka yang ketiganya adalah setan. Setan dengan segala tipu dayanya ini menyerang manusia dari segala arah, menipu manusia sehingga meihat seseorang yang di depannya terlihat begitu mempesona. Jadi, sebenarnya apa yang terlihat itu jadi mempesona. Disitulah letak bahaya ber-khalwat. Ada sebuah cerita dari ibunya. Cerita ini adalah kisah nyata teman ibunya yang seorang pria. Suatu saat pria ini sedang berbincang dengan seorang wanita teman kerjanya. Perbincangan ini menyangkut pekerjaan mereka. Entah kenapa dalam perbincangan yag memang hanya berdua itu, tiap kali sang pria melihat kepada sang wanita , dia merasa bahwa wanita itu begitu mempesona di matanya. Semakin dia melihat wanita itu, semakin dia merasa bahwa wanita itu menarik. Dia melihat sosok wanita itu sebagai seorang yang cantik dan energik. Mulailah terjadi dualisme dalam hatinya, membandingkan wanita itu dengan istrinya di rumah. Kemudian sembari meneruskan perbincangan itu, sang pria mulai membaca doa Al-Fatihah dan Ayat Kursi. Lama-lama dia mulai merasa bahwa wanita yang di hadapannya itu semakin biasa saja. Semakin dia membaca doa, wanita di hadapannya semakin terlihat biasa, tidak ada yang lebih dari wanita itu. Justru dia merasa bahwa istrinya jauh lebih cantik dan menarik. Sejak saat itu, sang pria percaya bahwa dalam kondisi berdua-duaan dengan lawan jenis, memang yang ketiganya ada setan.
Intermezzo dikit y, waktu ibunya cerita itu, dalam imajinasiku aku membayangkan, si setan berteriak kepanasan karena dibacain ayat kursi. trus akhirnya pergi..haha.. Pernah ada cerita juga sih. Waktu itu aku dan seorang teman selesai solat di musholla kampus. Ketika kami keluar, di luar musholla ada sepasang cewek dan cowok ngobrol secara intens gitu, ga perlu mikir panjang, kami bisa menyimpulkan kalo mereka itu sepasang kekasih. Temanku yang memang agak keras, mulai jengkel melihat kedua orang itu. Ya masa' sih mau pacaran di depan musholla, ga enak banget diliatnya, katanya waktu itu. Aku sih cuma geli aja. Dan kami masih berpikiran sangat positif, mungkin aja mereka dah nikah (walopun sebenarnya kemungkinannya sangat kecil, soalnya ada peraturan dikampus, belum boleh nikah selama masih kuliah). Temenku itu sebenernya pengen negor, tapi ga enak juga. Akhirnya kami berdiri aja di deket dua orang itu, maksudnya biar mereka risih trus pergi dari situ, tapi ternyata kedua orang itu ga nyadar juga. Dah ditunggu sekian lama ga pergi-pergi juga. Akhirnya temenku itu inisiatif baca Ayat Kursi. Dia baca terus, ga berapa lama, sepasang kekasih itu pergi juga. Habis itu kami ngakak. Jadi mikir ternyata cara paling efektih ngusir orang lagi berduaan, dibacain Ayat Kursi. biar setannya ngabur..:D (intermezzo nya jadi kepanjangan y, balik ke topik lagi d..)
Yang keempat ato yang terakhir adalah niat. Segala sesuatu itu bergantung pada niat. Rasulullah bersabda, " Sesungguhnya semua amal (ditentukan) dengan niat. Dan setiap orang mendapatkan (dari amal perbuatannya) apa yang diniatkan,. Barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul Nya. Dan barang siapa berhijrajh untuk dunia yang akan didapat atau perempuan yang akan dinikahi, maka hijrahnya kepada apa yang dihijrai."(HR Bukhari).
Begitu pula niat seorang wanita yang akan bekerja. Niatnya itu untuk apa. Apakah untuk mencukupi kebutuhan, untuk menggali potensi, atau hanya untuk melepaskan tanggung jawabnya di rumah. Apapun niatnya akan menimbulkan konsekuensi sendiri dan itu adalah pilihan bagi yang menjalaninya.

Sedikit tambahan ni dari buku yang aku baca (judul bukunya Muslimah Karier, ditulis oleh Asyraf Muhammad Dawabah) tentang niat. Disitu ditulis bahwa muslimah karier tidak mendapat sesuatu dari karier dan amal perbuatannya kecuali apa yang diniatkan. Ada wanita karier yang niatnya bekerja adalah untuk memberi manfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakat, atau untuk menjaga dirinya dari hal yang dilarang. Namun, ada juga wanita yang berkarir dengan niat mencintai kehidupan dunia atau menunjukkan reputasinya dan berjalan di belakang slogan-slogan Barat tentang emansipasi. Kedua niat tersebut secara lahiriah adalah sama, tetapi secara susbtansi adalah berbeda. Niat yang pertama amal perbuatan wanita tersebut dapat menjadi sempurna dengan sambutan yang luas, sebab ketaatan dan pendekatan dirinya kepada Allah SWT. Dan pekerjaannya itu akan bernilai ibadah dan jihad di sisi Allah serta berhak mendapat pahala di dunia dan akhirat. Sedangkan untuk niat yang kedua yang disusupi motif duniawi, amal perbuatannya menjadi sia-sia. Jangankan mendapat pahala di akhirat, pahala di dunia pun tak dapat.
Jadi menurutku, niat ini sangat penting. Apa sih mau kita dapet dari bekerja. Sekedar harta duniawi atau pahala dunia akhirat.

Itu tadi keempat syarat wanita diperbilehkan berkarir. Namun, ada poin penting yang juga harus dipahami setiap wanita yang berkarir, yaitu profesionalitas dan proporsionalitas. Ini berhubungan dengan kodratnya wanita yang berperan sebagai ibu rumah tangga. Yang dimaksud profesionalitas disini disini adalah wanita karir harus professional, professional ketika di kantor dan professional ketika di rumah. Ketika di kantor dia adalah karyawati, maka professional lah ketika ada dikantor. Ketika di rumah, dia adalah istri dan ibu, maka harus professional juga menjalani profesi itu. Kemudian proporsionalitas ini juga harus diperhatikan. Membagi waktu antara karir dan keluarga dengan proporsi yang tepat. Jangan sampai lah membawa pekerjaan ke rumah. Karena di rumah adalah waktu untuk keluarga.

Mau sedikit cerita ni, ga jauh-jauh, tentang keluargaku. Mama adalah seorang wanita karir. Menurut pandangan kakaknya mama (budeku), mama ini adalah wanita karir yang sukses. Ketika di kantor, beliau bekerja dengan sebaik-baiknya, tetapi ketika di rumah, beliau pun akan berperan sebagai istri dan ibu yang baik, ketika aku dan adek masih kecil, kami punya pembantu. Jadi ketika mama dan papa pergi kerja ada mbak yang jagain kami (walaupun kami juga dititipin di tempat eyang). Pagi sebelum berangkat kantor, mama udah mandiin dan nyuapin kami makan. Mama berangkat kantor, kami dah beres. Pulang kantor, yang ngurus kami ya mama. Mbak itu cuma jagain kami aja selama mama kerja. Selama mama di rumah, urusan rumah ya urusan mama. Jadi tugas mbak itu ya bener-bener cuma membantu aja. Sekarang kami dah gede, kami dah ga punya pembantu. tugas-tugas rumah dibagi berempat. Tapi itu juga sebelum kami keluar rumah. Sekarang di rumah tinggal berdua, mama dan papa, tugas rumah ya dibagi berdua. Aku pikir itu kerja sama yang bagus antara suami dan istri. Selama ini orang kadang salah berpikir (ini kata ibunya juga) kalau pekerjaan rumah tangga hanyalah kewajiban istri. Padahal sebenernya pekerjaan runah tangga itu ya kerjaan bersama. Jadi inget kata mbak mentor waktu kasih materi tentang munakahat. Yang dimaksud memberi nafkah adalah mencukupi segala kebutuhan istri. Kebutuhan itu kan termasuk kebutuhan makan dan mencuci pakaian. Kalo merujuk pada arti memberi nafkah itu berarti seharusnya suami itu berkewajiban juga memberi makan buat istrinya (dengan kata lain masakin juga buat istrinya..:p). kesimpulannya, menurut pandanganku, memang mama ini wanita karir yang sukses. Di kantor beliau sukses, di rumah juga sukses (semoga kelak aku bisa sesukses mamaku ini ^^).

Anyway, ni tulisan kok jadi panjang y..sebenarnya masih banyak hal yang menarik yang disampaikan ibu itu..Tapi intinya sih ya empat syarat itu..dan karena ini pengajian ibu-ibu jadi materi yang lain kebanyakan tentang curhat para ibu di rumah tangganya..Belum porsinya klo aku nulis bagian itu.. Jadi bagain itu cukup diketahui dulu dan dijadikan pembelajaran dulu…^^ Dan masih banyak kurangnya di tulisan ini, ga dilengkapi sekalian ma dalil yang mendukung. Ya ini juga karena keterbatasan ilmuku. Insya Allah nanti disempurnakan lagi..^^

Jumat, 14 Mei 2010

Unspoken Love


Cintamu tak lekang oleh waktu..
Hanya aku yang bodoh, tak menyadarinya..
Aku tahu, memang sulit untukmu mengatakan cinta..
Padahal sejak lama aku menanti kata cinta itu..
Aku tak ingat kapan kau pernah mengatakannya..
Yang mungkin saja pernah kau ucapkan..
Dengan bahasamu..
Yang aku pun tak menyadarinya..

Begitu bodoh diriku ini..

Tapi sudahlah, lupakan saja kebodohanku ini..
Dan biarkan aku mulai merangkai puzzle cintamu..
Yang tentu tak sama dengan yang lain..
Karena memang begitulah caramu mencintaiku..

Dan kini, tak perlu lagi kau ucapkan kata cinta..
Kedewasaan membuatku mampu melihat lebih..
Dan aku bisa melihat cinta itu di matamu..
Dari caramu menatap..
Dari caramu membelai…
Dari caramu berbicara.
Bahkan di balik sikap kerasmu itu..
Tak pernah tak terselip rasa cintamu untukku..

Rasa sesal kadang ada..
Karena ternyata aku baru bisa melihat cinta itu..
Justru setelah aku tak di dekatmu..
Aku ingat saat-saat menjelang kepergianku..
Mudah untukku menteskan air mata meluapkan sedih..
Tapi tentu sulit untukmu..
Dan kau pun hanya menyimpan rasa sedihmu itu..
Kau hanya bisa luapkan padaNYa..
Dalam setiap untaian doa untukku..

Sejak itu aku selalu menikmati momen bersama denganmu..
Aku masih beruntung..
Karena sejak kepergianku..
Aku masih diberi kesempatan melewati waktu bersama denganmu..
Seperti saat aku menemanimu bernostalgia ke sutau tempat..
Sepanjang jalan kita banyak diam..
Memang selalu seperti itu..
Tak pernah terlalu banyak cakap diantara kita..
Kadang terbersit pikiran..
Kita tidak seperti yang lain..
Memang itulah persamaan kita..
Tak pandai bicara..
Tapi aku menikmati perjalanan itu..
Bahkan aku menjadikan tempat itu..
Sebagai tempat nostalgia kita..

Momen bersama itu sebenarnya adalah waktu tepat..
Mengungkapkan cintaku untukmu..
Tapi ku rasa apa yang ku beri tak cukup..
Atau memang tak pernah bisa aku membalas cintamu..
Aku pun tak pandai mengatakan cinta..
Aku hanya ingin mengungkapkanya..
Yang mungkin dengan caraku..

Rabb, aku titipkan ia padaMu..
Jagalah ia untukku..
Limpahkanlah padanya keberkahan..
Jangan biarkan ia bersedih..

Satu hal yang mungkin baru kusadari..
Kepergianku adalah kehilangan baginya..
Karena sejak aku pergi mungkin aku tak kembali lagi..
Dan jika pun aku kembali..
Aku mungkin sudah tidak dapat menjadi miliknya seutuhnya..

Tapi..
Sampai kapanpun..sejauh apapun..
Aku pergi..
Aku akan tetap menjadi putri kecilmu..

Allah..
Sampaikan rasa cinta, sayang, dan rinduku untuknya..
Beri aku cukup waktu dan kesempatan..
Untuk membalas cintanya..
Dan sayangilah ia seperti Engkau menyayangiku...






12 Mei 2010

Senin, 19 April 2010

Kepada Saudariku, Para Muslimah: Kami Iri Pada Kalian

Joana Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon saat negara itu diserang oleh Israel dalam perang tahun 2006 lalu.

Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah dimanapun untuk bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.

Karena di luar sana, banyak kaum perempuan lain yang iri melihat kehidupan dan kepribadian para perempuan Muslim yang masih teguh memegang ajaran-ajaran agamanya. Inilah ungkapan kekaguman Francis sekaligus pesan yang disampaikannya untuk perempuan-perempuan Muslim dalam tulisannya bertajuk "Kepada Saudariku Para Muslimah";

Ditengah serangan Israel ke Libanon dan "perang melawan teror" yang dipropagandakan Zionis, dunia Islam kini menjadi pusat perhatian di setiap rumah di AS.

Aku menyaksikan pembantaian, kematian dan kehancuran yang menimpa rakyat Libanon, tapi aku juga melihat sesuatu yang lain; Aku melihat kalian (para muslimah). Aku menyaksikan perempuan-perempuan yang membawa bayi atau anak-anak yang mengelilingin mereka. Aku menyaksikan bahwa meski mereka mengenakan pakaian yang sederhana, kecantikan mereka tetap terpancar dan kecantikan itu bukan sekedar kecantikan fisik semata.

Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku; aku merasa iri. Aku merasa gundah melihat kengerian dan kejahatan perang yang dialami rakyat Libanon, mereka menjadi target musuh bersama kita. Tapi aku tidak bisa memungkiri kekagumanku melihat ketegaran, kecantikan, kesopanan dan yang paling penting kebahagian yang tetap terpancar dari wajah kalian.

Kelihatannya aneh, tapi itulah yang terjadi padaku, bahkan di tengah serangan bom yang terus menerus, kalian tetap terlihat lebih bahagia dari kami ( perempuan AS) di sini karena kalian menjalani kehidupan yang alamiah sebagai perempuan. Di Barat, kaum perempuan juga menjalami kehidupan seperti itu sampai era tahun 1960-an, lalu kami juga dibombardir dengan musuh yang sama. Hanya saja, kami tidak dibombardir dengan amunisi, tapi oleh tipu muslihat dan korupsi moral.

Perangkap Setan

Mereka membombardir kami, rakyat Amerika dari Hollywood dan bukan dari jet-jet tempur atau tank-tank buatan Amerika.

Mereka juga ingin membombardir kalian dengan cara yang sama, setelah mereka menghancurkan infrastruktur negara kalian. Aku tidak ingin ini terjadi pada kalian. Kalian akan direndahkan seperti yang kami alami. Kalian dapat menghinda dari bombardir semacam itu jika kalian mau mendengarkan sebagian dari kami yang telah menjadi korban serius dari pengaruh jahat mereka.

Apa yang kalian lihat dan keluar dari Hollywood adalah sebuah paket kebohongan dan penyimpangan realitas. Hollywood menampilkan seks bebas sebagai sebuah bentuk rekreasi yang tidak berbahaya karena tujuan mereka sebenarnya adalah menghancurkan nilai-nilai moral di masyarakat melalui program-program beracun mereka. Aku mohon kalian untuk tidak minum racun mereka.

Karena begitu kalian mengkonsumsi racun-racun itu, tidak ada obat penawarnya. Kalian mungkin bisa sembuh sebagian, tapi kalian tidak akan pernah menjadi orang yang sama. Jadi, lebih baik kalian menghindarinya sama sekali daripada nanti harus menyembuhkan kerusakan yang diakibatkan oleh racun-racun itu.

Mereka akan menggoda kalian dengan film dan video-video musik yang merangsang, memberi gambaran palsu bahwa kaum perempuan di AS senang, puas dan bangga berpakaian seperti pelacur serta nyaman hidup tanpa keluarga. Percayalah, sebagian besar dari kami tidak bahagia.

Jutaan kaum perempuan Barat bergantung pada obat-obatan anti-depresi, membenci pekerjaan mereka dan menangis sepanjang malam karena perilaku kaum lelaki yang mengungkapkan cinta, tapi kemudian dengan rakus memanfaatkan mereka lalu pergi begitu saja. Orang-orang seperti di Hollywood hanya ingin menghancurkan keluarga dan meyakinkan kaum perempuan agar mau tidak punya banyak anak.

Mereka mempengaruhi dengan cara menampilkan perkawinan sebagai bentuk perbudakan, menjadi seorang ibu adalah sebuah kutukan, menjalani kehidupan yang fitri dan sederhana adalah sesuatu yang usang. Orang-orang seperti itu menginginkan kalian merendahkan diri kalian sendiri dan kehilangan imam. Ibarat ular yang menggoda Adam dan Hawa agar memakan buah terlarang. Mereka tidak menggigit tapi mempengaruhi pikiran kalian.

Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas murni dan mutiara yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum perempuan di Barat yang telah tertipu.

Model pakaian yang dibuat para perancang Barat dibuat untuk mencoba meyakinkan kalian bahwa asset kalian yang paling berharga adalah seksualitas. Tapi gaun dan kerudung yang dikenakan para perempuan Muslim lebih "seksi" daripada model pakaian Barat, karena busana itu menyelubungi kalian sehingga terlihat seperti sebuah "misteri" dan menunjukkan harga diri serta kepercayaan diri para muslimah.

Seksualiatas seorang perempuan harus dijaga dari mata orang-orang yang tidak layak, karena hal itu hanya akan diberikan pada laki-laki yang mencintai dan menghormati perempuan, dan cukup pantas untuk menikah dengan kalian. Dan karena lelaki di kalangan Muslim adalah lelaki yang bersikap jantan, mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari kaum perempuannya.

Tidak seperti lelaki kami di Barat, mereka tidak kenal nilai sebuah mutiara yang berharga, mereka lebih memilih kilau berlian imitasi sebagai gantinya dan pada akhirnya bertujuan untuk membuangnya juga.

Modal yang paling berharga dari para muslimah adalah kecantikan batin kalian, keluguan dan segala sesuatu yang membentuk diri kalian. Tapi saya perhatikan banyak juga muslimah yang mencoba mendobrak batas dan berusaha menjadi seperti kaum perempuan di Barat, meski mereka mengenakan kerudung.

Mengapa kalian ingin meniru perempuan-perempuan yang telah menyesal atau akan menyesal, yang telah kehilangan hal-hal paling berharga dalam hidupnya? Tidak ada kompensasi atas kehilangan itu. Perempuan-perempuan Muslim adalah berlian tanpa cacat. Jangan biarkan hal demikian menipu kalian, untuk menjadi berlian imitasi. Karena semua yang kalian lihat di majalah mode dan televisi Barat adalah dusta, perangkap setan, emas palsu.

Kami Butuh Kalian, Wahai Para Muslimah !

Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian masih penasaran; bahwa seks sebelum menikah sama sekali tidak ada hebatnya.

Kami menyerahkan tubuh kami pada orang kami cintai, percaya bahwa itu adalah cara untuk membuat orang itu mencintai kami dan akan menikah dengan kami, seperti yang sering kalian lihat di televisi. Tapi sesungguhnya hal itu sangat tidak menyenangkan, karena tidak ada jaminan akan adanya perkawinan atau orang itu akan selalu bersama kita.

Itu adalah sebuah Ironi! Sampah dan hanya akan membuat kita menyesal. Karena hanya perempuan yang mampu memahami hati perempuan. Sesungguhnya perempuan dimana saja sama, tidak peduli apa latar belakang ras, kebangsaan atau agamanya.

Perasaan seorang perempuan dimana-mana sama. Ingin memiliki sebuah keluarga dan memberikan kenyamanan serta kekuatan pada orang-orang yang mereka cintai. Tapi kami, perempuan Amerika, sudah tertipu dan percaya bahwa kebahagiaan itu ketika kami memiliki karir dalam pekerjaan, memiliki rumah sendiri dan hidup sendirian, bebas bercinta dengan siapa saja yang disukai.

Sejatinya, itu bukanlah kebebasan, bukan cinta. Hanya dalam sebuah ikatan perkawinan yang bahagialah, hati dan tubuh seorang perempuan merasa aman untuk mencintai.

Dosa tidak akan memberikan kenikmatan, tapi akan selalu menipu kalian. Meski saya sudah memulihkan kehormatan saya, tetap tidak tergantikan seperti kehormatan saya semula.

Kami, perempuan di Barat telah dicuci otak dan masuk dalam pemikiran bahwa kalian, perempuan Muslim adalah kaum perempuan yang tertindas. Padahal kamilah yang benar-benar tertindas, menjadi budak mode yang merendahkan diri kami, terlalu resah dengan berat badan kami, mengemis cinta dari orang-orang yang tidak bersikap dewasa.

Jauh di dalam lubuk hati kami, kami sadar telah tertipu dan diam-diam kami mengagumi para perempuan Muslim meski sebagaian dari kami tidak mau mengakuinya. Tolong, jangan memandang rendah kami atau berpikir bahwa kami menyukai semua itu. Karena hal itu tidak sepenuhnya kesalahan kami.

Sebagian besar anak-anak di Barat, hidup tanpa orang tua atau hanya satu punya orang tua saja ketika mereka masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang. Keuarga-keluarga di Barat banyak yang hancur dan kalian tahu siapa dibalik semua kehancuran ini. Oleh sebab itu, jangan sampai tertipu saudari muslimahku, jangan biarkan budaya semacam itu mempengaruhi kalian.

Tetaplah menjaga kesucian dan kemurnian. Kami kaum perempuan Kristiani perlu melihat bagaimana kehidupan seorang perempuan seharusnya. Kami membutuhkan kalian, para Muslimah, sebagai contoh bagi kehidupan kami, karena kami telah tersesat. Berpegang teguhlah pada kemurnian kalian sebagai Muslimah dan berhati-hatilah !




copas dari www.eramuslim.com

Selasa, 13 April 2010

PERAN KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI AKUNTAN PUBLIK DALAM AUDIT LAPORAN KEUANGAN

Peran akuntan publik dewasa ini menunjukkan perkembangan pesat. Pengaruh globalisasi menyebabkan kaburnya batas-batas antar Negara. Dampaknya, semakin jauh jarak pembuat dan pengguna informasi yang akhirnya menyebabkan bias pada informasi tersebut. Selain itu, terdapat pula perbedaan kepentingan antara pembuat laporan dan pengguna laporan. Untuk itu diperlukan suatu opini dari pihak ketiga yang independen untuk menilai informasi tersebut. Pihak ketiga yang dimaksud dalam hal penilaian informasi yang terkait dengan keuangan tersebut adalah akuntan publik. Disini akuntan publik bertugas memberikan opini terhadap laporan keuangan suatu perusahaan. Opini tersebut nantinya akan digunakan oleh pengguna laporan keuangan seperti pemegang saham, kreditor, atau pemerintah, sebagai dasar pengambilan keputusan. Dengan demikian, opini yang dibuat akuntan publik akan sangat berpengaruh pada kegiatan perusahaan tersebut di masa yang akan datang.
Kualitas akuntan publik untuk mengeluarkan opini atas laporan keuangan yang diauditnya tidak lepas dari pengaruh kompetensi dan independensi yang dimillikinya. Kompetensi mengacu pada keahlian dan ketrampilan yang dimiliki oleh akuntan publik. Sementara independensi merupakan etika akuntan publik dalam menjalankan tugasnya, yang berarti merupakan kesadaran dari akuntan tersebut untuk bekerja sesuai kode etik yang telah ditetapkan.
Kompetensi diperoleh melalui pendidikan formal, peningkatan ketrampilan dan jam terbang akuntan tersebut. Hal ini juga tidak lepas dari pengaruh input saat memasuki perguruan tinggi. Dengan kata lain, jika sejak awal input yang dimiliki sudah bagus, kompetensi yang dimiliki akuntan akan cenderung bagus pula. Selain itu, untuk peningkatan kompetensi, akuntan publik juga diwajibkan untuk mengikuti pendidikan berkelanjutan. Secara garis besar, kompetensi profesionsal dibagi menjadi dua fase terpisah:
1. Pencapaian kompetensi profesional
Pencapaian ini diperoleh melalui pendidikan tinggi, kemudian diikuti pendidikan khusus, pelatihan, dan ujian professional dalam subjek-subjek yang relevan, dan pengalaman kerja.
2. Pemeliharaan kompetensi profesional
Pemeliharaan kompetensi dilakukan melalui pendidikan yang berkelanjutan, seorang akuntan publik harus memiliki komitmen untuk belajar dan melakukan peningkatan berkesinambungan dalam kehidupan profesionalnya.
Selain itu, standar audit laporan keuangan, yaitu standar lapangan nomor satu menyatakan bahwa staf pun juga harus diberi asistensi agar kompetensi yang mereka miliki mencukupi. Staf tersebut harus meningkatkan pengalaman profesionalnya, baik melalui pengalaman auditnya maupun melalui staf yang lebih senior agar kompetensi yang dimilikinya meningkat.
Independensi akuntan publik mencakup independensi in appeareance dan independensi in fact. Independensi in appeareance mengacu pada apa yang dilihat oleh publik terhadap independensi seorang akuntan publik. Independensi ini akan dinilai oleh publik. Sementara independensi in fact mengacu pada fakta yang dilakukan akuntan dalam melaksanakan tugasnya. Independensi ini tidak akan terlihat oleh publik. Kedua jenis independensi ini harus dimiliki oleh seorang akuntan publik sebagai acuan dalam pelaksanaan tugas. Beberapa hal yang mempengaruhi independensi auditor, diantaranya adalah kepemilikan kepentingan terhadap klien, baik secara material ataupun tidak. Misal auditor atau staf memiliki saham di perusahaan milik klien. Selain itu, hubungan keungan dengan klien juga akan mempengaruhi independensi auditor. Hubungan keuangan ini diatur dalam kode etik profesi auditor, yaitu dalam persyaratan peraturan no 302 yang melarang adanya contingent fee (fee kontijen). Fee kontijen adalah fee yang diberikan oleh klien bila auditor memberikan opini tertentu. Sebagai ilustrasi, klien akan memberikan fee sebesar Rp 50.000.000,00 bila auditor mengeluarkan opini wajar tanpa pengecualian. Namun, klien hanya akan memberikan fee sebesar Rp 25.000.000,00 bila auditor memberkan opini wajar dengan pengecualian. Praktik demikian dilarang karena dikahawatirkan akan mengganggu independensi auditor. Praktik demikian menyebabkan auditor dapat memiliki kecenderungan untuk memberi opini sesuai permintaan klien untuk mendapatkan fee besar.
Selain itu, kode etik profesi juga mengatur masalah kelanjutan hubungan dengan klien. Dalam kode etik tersebut ditulis bahwa auditor tidak boleh memeriksa klien untuk tahun selanjutnya apabila fee tahun sebelumnya belum dibayar oleh klien. Yang demikian itu juga akan mempengaruhi independensi auditor. Auditor bisa saja mendapat tekanan dari klien selama penugasan dengan ancaman fee tidak dibayar apabila tidak melaksanakan hal-hal yang diminta klien.
Banyak kasus terjadi dalam proses audit laporan keuangan yang melibatkan akuntan publik, terutama terkait dengan kompetensi dan independensi ini. Kesalahan mengeluarkan opini memang bisa saja terjadi. Ini disebabkan karena auditor tidak mampu mendeteksi kesalahan material. Hal ini yang disebut kegagalan audit (audit failure), yaitu auditor tidak mampu mendeteksi kesalahan material dalam laporan keuangan sehingga salah memberikan opini dalam kondisi dimana pelaksanaan audit dibawah standar. Pada umumnya kegagalan audit ini disebabkan karena auditor tidak memiliki kompetensi dan independensi selama proses audit. Kesalahan memberikan opini tentunya akan berpengaruh besar pada perusahaan yang diaudit. Dalam hal ini, auditor dapat saja dituntut secara hukum, apalagi bila kesalahan tersebut diakibatkan kesalahan auditor. Salah satu contoh kasus yang terkait dengan independensi adalah kasus Enron yang melibatkan kantor akuntan publik Arthur Anderson. Perusahaan Enron bangkrut, harga sahamnya merosot drastis setelah diketahui bahwa laba yang diperoleh selama ini hanya manipulatif. Kantor akuntan publik Arthur Anderson adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. KAP tersebut tidak mampu menjaga independensi yang dimilikinya. Dalam kasus tersebut, selain menjalankan tugas sebagai auditor, KAP juga bertugas memberikan jasa akuntansi. Disini dapat terlihat bahwa independensi KAP terganggu akibat ada hubungan keuangan yang signifikan terhadap terhadap perusahaan. Akibat perbuatan tersebut, tidak hanya Enron yang mengalami kebangkrutan, tetapi KAP Arthur Anderson juga ditutup.
Dengan demikian, komptensi dan independensi merupakan hal yang penting dimiliki oleh akuntan publik. Bila seorang akuntan sudah tidak mampu lagi menjaga independensi dan kompetensinya, hal ini mengakibatkan kepercayaan publik akan berkurang. Tidak hanya pada akuntan itu saja, tetapi juga terhadap seluruh akuntan public. Akibatnya, profesi akuntan publik akan mengalami kemunduran.

SEKILAS TENTANG AKUNTANSI DAN AUDITING

Banyak orang, terutama orang awam, masih sering salah kaprah dalam mendefinisikan akuntansi dan auditing. Secara sederhana, orang akan mendefinisikan akuntansi sebagai pembukuan dan auditing sebagai pemeriksaan, yaitu pemeriksaan atas pembukuan yang telah dibuat. Pendefinisian berhenti sampai disitu karena selanjutnya orang akan rancu sendiri atas perbedaan lingkup kerja keduanya. Hal ini disebabkan kedua kegiatan tersebut memang sama-sama berkaitan dengan informasi akuntansi. Disamping itu, pelaku dari keduanya adalah orang-orang yang sama-sama mengerti mengerti akuntansi. Yang perlu dicermati adalah kedua kegiatan tersebut ternyata memiliki lingkup kerja yang berbeda.
Dalam bukunya, Kieso dan Weygandt mendefinisikan akuntansi dalam tiga sudut pandang, yaitu sebagai aktivitas jasa, analisis kedisiplinan, dan sistem informasi. Sebagai aktivitas jasa, akuntansi menyediakan informasi keuangan bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk membantu mereka dalam mengambil keputusan tentang penyebaran dan penggunaan sumber-sumber daya dalam entitas bisnis maupun entitas nonbisnis. Sebagai analisis kedisiplinan, akuntansi akan mengidentifikasi kejadian-kejadian ekonomi dan transaksi-transaksi yang terjadi melalui pengukuran, pengklasifikasian, dan pengikhtisaran. Ketika hal-hal tersebut disatukan dan dilaporkan dengan baik, laporan yang menunjukkan kondisi keuangan akan terbentuk. Sedangkan sebagai sistem informasi, akuntansi mengumpulkan dan mengkomunikasikan informasi ekonomi suatu perusahaan kepada pihak-pihak berkepentingan yang keputusannya akan berpengaruh pada kegiatan ekonomi perusahaan tersebut. Ketiga definisi tersebut bila digabungkan akan membentuk suatu definisi singkat, yaitu akuntansi merupakan kegiatan pengidentifikasian, pengukuran, dan pengkomunikasian informasi keuangan suatu entitas ekonomi kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Ada tiga karakteristik utama yang harus dicermati dalam definisi tersebut, yaitu (1) pengidentifikasian, pengukuran, dan pengkomunikasian, (2) entitas ekonomi, dan (3) pihak-pihak yang berkepentingan. Bila ketiga karakteristik utama tersebut tidak tercermin dalam suatu kegiatan, maka kegiatan tersebut belum dapat dikatakan sebagai kegiatan akuntansi.
Jenis-jenis akuntansi sendiri ada beberapa macam, yaitu:
1 Akuntansi keuangan
2 Akuntansi biaya
3 Akuntansi manajemen
4 Akuntansi proyek
5 Akuntansi pemerintah
Orang-orang yang melakukan kegiatan akuntansi disebut akuntan
Sementara itu, definisi auditing, menurut Arens dan Loebbecke:
“proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan”.

Ada tiga poin penting yang dapat diperoleh dari definisi tersebut, yaitu (1) pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti, (2) dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen, dan (3) kesesuaian informasi atas kriteria yang telah ditetapkan. Dengan demikian, audit tidak dapat diartikan sebagai pemeriksaaan semata. Mengenai kriteria yang telah ditetapkan, hal ini tergantung pada jenis audit yang dilakukan. Jenis-jenis audit sendiri terdiri dari:
1. Audit laporan keuangan
2. Audit operasional
3. Audit ketaatan
Orang yang melakukan kegiatan audit disebut dengan auditor. Jenis auditor yang umum dikenal adalah (1) akuntan public terdaftar, (2) auditor pemerintah, (3) auditor intern, dan (4) auditor pajak.
Dari definisi diatas, jelaslah bahwa akuntansi dan auditing memiliki ruang lingkup kegiatan yang luas. Walaupun terdapat dalam satu lapangan studi akuntansi, keduanya memiliki lingkup kerja yang berbeda. Namun, terdapat korelasi yang tidak dapat dipisahkan antara akuntansi dan auditing. Menurut PSAK no 1, setiap perusahaan diwajibkan untuk menyusun laporan keuangan tahunan. Laporan keuangan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Pengguna laporan yang dimaksud adalah pihak-pihak, baik intern maupun ekstern, yang berkepentingan dengan perusahaan, terutama terkait dengan pengambilan keputusan yang akan berpengaruh pada kegiatan ekonomi perusahaan. Tugas pembuatan laporan keuangan dilakukan oleh akuntan perusahaan (manajemen perusahaan). Agar suatu laporan memiliki nilai lebih dan kredibilitasnya dapat dipertanggungjawabkan, dibutuhkan audit atas laporan keuangan. Disini auditing akan berperan dalam mengevaluasi laporan keuangan yang telah dibuat oleh manajemen perusahaan apakah sudah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan atau belum. Kriteria yang dimaksud dalam audit laporan keuangan adalah Generally Accepted Accounting Principal (GAAP). Jadi auditor akan mengevaluasi apakah laporan keuangan dan unsur-unsur yang terkait di dalamnya sudah sesuai dengan GAAP. Setelah itu, auditor akan memberikan opininya atas laporan keuangan tersebut. opini auditor dapat berupa: (1) opini wajar tanpa pendapat (unqualified), (2) opini wajar dengan pengecualian (qualified), (3) opini tidak wajar (adverse), dan (4) tidak memberikan opini (disclaimer). Opini yang diberikan oleh auditor ini, akan berpengaruh pada keputusan yang yang diambil oleh pihak-pihak yang berkepentingan tadi. Melalui opini tersebut, pihak-pihak tersebut dapat menilai kinerja dan transparansi suatu perusahaan. Sebagai contoh, seorang auditor memberikan pendapat tidak wajar (adverse) atas laporan keuangan suatu perusahaan. Investor, sebagai pengguna ekstern laporan keuangan tentunya akan berpikir ulang untuk menginvestasikan modalnya di perusahaan tersebut karena opini demikian dapat menandakan adanya ketidakberesan dalam manajemen perusahaan. Untuk selanjutnya perbaikan atas laporan keuangan dan kinerja perusahaan merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan, auditor bertanggung jawab sebatas memberikan opininya saja.
Untuk menjaga objektivitas, audit laporan keuangan dilakukan oleh auditor eksternal yang ditunjuk oleh RUPS, dewan direksi atau komite audit. Auditor eksternal ini dapat berasal dari Kantor Akuntan Publik, baik yang berskala internasional, nasional, maupun local. Jadi, bisa dikatakan bahwa pelaku dari akuntansi dan auditing ini dapat merupakan orang-orang yang sama, yaitu sebagai akuntan maupun auditor. Namun demikian, PSA no 2 menyatakan bahwa seorang auditor harus bekerja secara independen, tidak boleh terkait dengan perusahaan yang akan diaudit. Jadi, jika sebuah perusahaan menyewa jasa akuntansi dari suatu KAP, maka untuk keperluan audit, perusahaan tersebut harus menggunakan KAP yang lain.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa akuntansi dan auditing memilki lingkup kerja yang berbeda, walaupun masih dalam satu lapangan studi yang sama dan dapat dilakukan oleh orang-orang yang sama. Seorang auditor dapat bekerja sebagai akuntan, tetapi seorang akuntan belum tentu dapat bekerja sebagai auditor.



Daftar Pustaka:
Loebbecke, dan Arrens. 1996. Auditing, Pendekatan Terpadu. Jakarta: Salemba Empat.
Weygandt, dan Kieso. 1995. Intermediate Accounting-eight edition. Madison: Wiley.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
Pernyataan Standar Auditing
www.wikipedia.org

Hijrahku (sebuah proses yang tiada berakhir)



Berawal di pertengahan tahun 2006, yaitu saat aku lulus SMA. Masa-masa yang bisa dibilang kritis karena pilihan universitas dan jurusan akan sangat menentukan masa depan. Intinya apapun yang dipilih ga akan bisa main-main. Sebelum hari pengumuman kelulusan, sebenarnya aku sudah bisa bernafas lega karena mungkin tidak seperti teman-temanku yang lain, aku sudah diterima di beberapa universitas negeri. Yah, di beberapa , karena aku memang tidak mendaftar di satu universitas saja. Dua universitas negeri di Jawa Tengah aku masuki lewat jalur PMDK, sedangkan satu PTN di Yogyakarta, aku masuk lewat jalur ujian masuk. Di ketiga universitas tersebut aku mengambil jurusan yang sama, yaitu arsitektur, seperti cita-citaku. Saat itu, hampir semua orang yang mengenalku berdecak kagum, bagaimana tidak, sebagian teman-temanku hingga hari kelulusan belum diterima di universitas manapun. Sedangkan aku, tinggal memilih universitas mana yang aku sukai. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, selain karena memang sejak kecil aku ingin sekali kuliah di Yogyakarta, akhirnya aku mengambil kuliah teknik arsitektur di Yogyakarta.

Flash back sedikit, ke tiga tahun sebelumnya, saat Masa Orientasi Siswa(MOS) baru di SMA. Untuk pertama kalinya aku mengikuti program mentoring yang menjadi salah satu acara dalam MOS tersebut. Materi disampaikan oleh kakak-kakak kelas, yang akhwat tentunya. Materi diberikan dalam kelompok-kelompok kecil. Aku ingat sekali materi yang diberikan berkaitan dengan zina. Jujur, aku baru tahu, klo ternyata arti zina itu tidak sesempit yang aku pikirkan selama ini. Cukup shock juga mendengarnya, apalagi klo ingat kegilaan-kegilaan jaman SMP yang bisa dikatakan “liar”. Malu deh rasanya klo inget itu. Selain materi tersebut, mbak-mbak akhwat tersebut juga menyampaikan sesuatu yang membuat aku dan juga teman-temanku saat itu shock setengah mati. Apalagi klo bukan kewajiban berhijab bagi wanita. Jujur lagi, aku katakan bahwa aku juga baru tahu kewajiban itu. Aku jadi berpikir-pikir, sebenarnya apa yang aku ketahui tentang agamaku sendiri? Aku benar-banar ga tahu apa-apa selain solat, mengaji, dan puasa. Gimana ga, jaman di TPA kan Cuma diajari itu. Walaupun cukup shock dan malu, hal tersebut ga lantas membuat rasa keingintahuanku tentang Islam terpenuhi. Ada kepikiran untuk ikut Rohis sekolah, tetapi urung karena malu sendiri, habisnya belum pakai jilbab. Dan untuk memutuskan untuk pakai jilbab pun, aku juga ga berani. Ga berani, karena dalam pikiranku orang berjilbab itu adalah orang yang alim, lembut, pinter agama, de es be. Aku ga siap dengan itu semua. Jadi ku pikir, pake jilbanya ntar-ntar aja klo dah kuliah tahun kedua atau ketiga sampe aku merasa benar-benar siap dan mendapat hidayah ( katanya, jilbab itu hidayah, jadi klo mang belum dapet hidayah, ya jangan dipaksain). Lagipula di keluargaku ga banyak yang pake jilbab, klo pun pake ya Cuma asal pake aja. Maksudnya klo pergi aja baru pake, tapi klo di rumah ya, ga pake). Jadilah selama tiga tahun di SMA ga ada perkembangan pesat, perkembangan dikit sih. Paling ga, dikit-dikit dapet ilmu agama, itu pun klo lagi ga males ikut kajian. Yah, parah banget lah..

Sekarang kembali ke kelulusan SMA. Setelah diterima di tiga universitas itu, aku berpikir bahwa Allah itu sangat baik kepadaku. Allah telah memberi lebih dari apa yang ku minta. Hatiku begejolak lagi, keinginan untuk berjilbab semakin menggebu. Tapi itu tadi, aku belum siap. Bagaimana klo orang tua ga ngijinin? Ditambah lagi, saat-saat itu lagi banyak cerita aliran sesat gitu. Ya sudah, ketidakberanianku mengutarakan keinginan untuk berjilbab memutuskan aku untuk menundanya. Lagi-lagi berdalih, bahwa hidayah itu belum datang.

Ok, sekarang saatnya fase awal kuliah di Yogyakarta. Mulai dari daftar ulang, cari kos, persiapan ospek, macem-macem lah. Jadi harus bolak-balik Jogja-Magelang. Menyenangkan juga. Pada masa-masa itu, ada cerita yang cukup membuatku berani untuk mengambil keputusan. Setiap mahasiswa baru, diwajibkan untuk mendaftar inisiasi kampus (ospek untuk seluruh fakultas) dan ospek jurusan di masing-masing fakultas. Pada waktu yang berdekatan, ada sebuah seminar (tentang apa, aku lupa). Yang mengadakan adalah Ikatan Mahasiswa Muslim dari fakultas teknik. Aku dan temanku yang sama-sama masuk fakultas teknik, memutuskan untuk mengikuti acara tersebut. rencana disusun, kami akan tinggal dua hari di Jogja dan menginap di kos temanku itu. O y, temanku itu adalah seorang akhwat (dalam kamus bahasaku, akhwat adalah jilbaber lebar yang ilmu agamanya ga perlu diragukan lagi). Kami berangkat dari Magelang bersama teman-teman yang lain, dan bisa dibilang dalam rombongan itu cuma aku sendiri yang tidak berjilbab (salut deh, sama teman-temanku yang langsung berjilbab setelah lulus SMA. Hmm… aku kapan y??) perasaan malu itu jelas ada. Tapi ya sudahah..mau diapain lagi, batinku gitu.

Sejak tiba di kampus tu, mulailah aku mengalami hal-hal yang aku bilang "ajaib" (hhe..bahasanya terlalu berlebihan..^^ ). Kejadian pertama, ketika kami, yang saat itu bertiga, sedang istirahat di area kampus setelah lelah antre pendaftaran ulang. Tiba-tiba ada seorang jilbaber menghampiri kami, dia menanyakan sesuatu. Dua orang temanku disalami dan disapa hangat. Sedangkan padaku, dia hanya menatapku dingin. Jangankan disalami, disenyumi aja tidak. Aku sampai berpikir buruk, apa aku ini sedemikian tidak pantesnya untuk disapa hanya karena aku tidak berjilbab!! Kesel banget deh..(sabar..sabar…). Kejadian 'ajaib" selanjutnya, malam hari di kos temanku. Kami solat maghrib berjamaah, seperti biasa pula selesai solat maghrib aku berdoa, klo di rumah mama selalu ingetin untuk baca Al Quran dulu, tapi ya berhubung ga bawa, selesai berdoa aku merapikan peralatan solatku. Namun, tidak dengan temanku itu, ia tetap tinggal, dia mulai membaca Al Quran, menghayati dan memahami isinya. Jujur, malu banget deh.. tapi ada sesuatu yang aku rasakan berbeda..damai banget melihat dia baca Quran gitu. Habisnya klo aku baca Quran, y asal baca aja, ga tau artinya, apalagi isinya.. Fyuh.. aku makin terhenyak saat selesai baca Quran itu, dia bilang klo memang kebisaaan mengaji dari maghrib sampai Isya.. ok, aku no comment lagi ajah..

Keesokan harinya, kami berdua mendatangi seminar itu. Karena Judul seminarnya ada bau-baunya Islam gitu, aku datang pake jilbab. Wuih,,, rasanya adem.. Hehe..sekarang aku inget, yang menyampaikan materi adalah Ustad Fauzil Adhim, yang sering nulis buku tentang pernikahan itu, materi yang disampaikan adalah mengenai perjalanan hidup manusia. Selesai materi, panitia mengelompokkan peserta sesuai jurusannya untuk sesi sharing. Kebetulan dari jurusan Arsitektur dan Planologi, hanya dua orang yang hadir, yaitu aku dan teman baruku dari arsitektur. Kami saling berkenalan, kenalan juga sih sama mbak-mbak akhwat dari jurusan Arsitek dan Planologi yang lain. Dalam sesi sharing itu, kami ditanya kapan mulai berjilbab. Teman baruku yang berasal dari Kalimantan bercerita kalau dia baru aja pakai jilbab. Alasannya untuk menjaga diri. Kemudian ketika mbak itu beralih bertanya kepadaku, aku Cuma bisa senyum malu2, sambil menjawab aku sebenarnya belum pakai jilbab. Tahu ga, apa yang kurasakan saat itu? Serasa ada yang menusuk, dalem banget..

Fyuh.. pengalaman-pengalaman dua hari tersebut, menjadi perenunganku sekembalinya dari Jogja. Satu per satu puzzle itu ku rangkai hingga menjadi gambar yang utuh. Selama SMA, aku selalu bisa menjadi yang terbaik di kelas. Di luar itu, beberapa perlombaan menulis karya tulis dapat ku menangkan. Aku sering juga ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam beberapa perlombaan Matematika. Terakhir, tiga PTN mau menerimaku sebagai mahasiswa tanpa aku harus bersusah payah. Tidak cukup ditegur dengan kenikmatan yang berlimpah seperti itu, aku sampai harus ditegur dengan kejadian di Jogja kemarin untuk melihat besarnya kuasa Allah. Aku malu..terutama mengenai kewajiban jilbab itu sendiri. Aku merasa Allah memberiku petunjuk untuk mempercepat keputusan berjilbab. Akhirnya hari pertama ospek di kampus, aku berjilbab. Belum sepenuhnya berjilbab sih. Aku berjilbab klo lagi di Jogja aja, pulang ke Magelang masih lepas jilbab. Saat itu aku berpikir, pelan-pelan aja lah, sambil kasih pengertian ke ortu. Hanya dua minggu aku merasakan kuliah di Yogyakarta hingga pengumuman itu keluar. Yah, belum cukup dengan 3 PTN, aku masih mencoba kemampuan masuk Sekolah Tinggi Kedinasan di Tangerang. Sebenarnya ini ga lebih karena dorongan ortu. Aku sendiri sudah nyaman dan seneng banget kuliah di Yogya ini, bahkan waktu ujian masuk sekolah tinggi kedinasan tersebut, aku sempat mau jawab asal-asalan biar ga keterima. Tapi, karena akhirnya berpikir sayang dah bayar mahal untuk ujian itu, akhirnya aku kerjain semampuku. Aku juga berdoa memohon agar diberi yang terbaik. Pilihan pertama di sekolah tinggi kedinasan itu aku isi jurusan akuntansi, soalnya yang laen aku ga ngerti jurusan yang lain  apa dan ngapain aja. Jadinya, aku bilang ke mama klo aku mau masuk sekolah tinggi itu asal keterima akuntansi, selain akuntansi aku mau tetep di Yogya aja.

Jalan hidup manusia memang sudah ada yang mengatur, aku keterima di spesialisasi akuntansi sekolah tinggi kedinasan tersebut. Alhasil, walaupun dengan sedikit berat hati, aku meninggalkan Yogya dan pindah ke Tangerang. Sebelumnya, berulang kali mama tanya, keikhlasanku untuk masuk sekolah tinggi itu. Soalnya mama tahu banget aku masih berat melepas cita-cita ku. Aku pikir, aku sendiri harus berkomitmen dengan apa yang aku sudah aku tekadkan. Lagipula, aku menyadari selama proses pendaftaran ujian seklah tinggi itu, aku seolah selalu diberi kemudahan ALLAH. Aku tidak perlu mengantre terlalu lama, cukup selama sekitar satu jam, aku sudah dapat menyelasaikan rangkaian proses pendaftaran ujian. Temanku malah ada yang sampai sehari mengantre, karena tidak selesai dia harus kembali hari berikutnya.

Menjelang keberangkatanku ke Tangerang, mama bertanya tentang jilbabku, mau terus dipake ato ga. Soalnya dulu aku beralasan malu sama temen-temen klo ga pake jilbab. Aku sendiri sebenarnya sudah nadzar klo keterima di Sekolah tinggi itu, aku bakal terus pake jilbab. Akhirnya mama setuju, bahkan mendukung. (Hmm..tau bakal didukung gini, kenapa ga dari dulu aja y..?? dasar, aku memang orangnya terlalu berhati-hati sehingga takut untuk memulai). Mama cuma pesen, klo dah memutuskan pake jilbab, jangan sampai dilepas lagi. Dan jangan ikut yang aneh-aneh, maksudnya yang aliran sesat  gitu. Aku sih iya2 aja..

Setahun memakai jilbab, ga sepenuhnya lurus-lurus aja. Karena masalah jilbab ini sendiri, aku masih mengalami banyak kendala, sampai sekarang mungkin. Kendala itu justru timbul dari rumah. Mama dan papa mungkin belum paham banget masalah ini. Mereka bukannya ga tahu agama, untuk hal-hal kaya gini, memang di jaman mereka informasinya masih minim. Yah, memang harus dimaklumi. Sambil sedikit demi sedikit diberi pengertian. Menurutku, jilbab itu wajib dikenakan wanita sebagai penutup aurat sehingga orang-orang yang bukan muhrim haram untuk melihatnya. Esensi ini yang sepertinya belum bisa dipahami mereka. Mereka pikir klo di rumah, ya ga apa-apa jilbabnya dilepas. Ya ga apa-apa sih, klo lagi ga ada orang lain selain keluarga, tapi kadang kan papa sering manggil tukang buat bersih-bersih atau benerin apa gitu. Risih juga klo ga pake. Trus, dulu kami kan sering banget ngobrol di teras, tapi sejak aku berjilbab, aku sering males. Ini sempat membuat ketegangan sendiri sama mama. Mama tanya kenapa ga mau duduk-duduk di luar lagi. Ya aku bilang aja, malu lah klo keliatan orang lagi ga pake jilbab. Mau pake juga males. Walaupun awalnya sempet tegang, tapi lama-lama hal ini cair juga. Mama mulai bisa memahami. Yang bikin seneng juga, mama sekarang mau nganter minum ke buat tamu. Dulu itu klo ada aku, pasti aku yang disuruh. Sekarang sih, udah paham klo anaknya ini lagi kadang males juga berkostum. Hehe.. keliatannya ribet y, pake jilbab itu. Awalnya mungkin iya. Tapi lama-lama ga juga. Justru aku merasa, sebagai wanita, menjadi semakin terhormat.. Subhanallah, sampai sekarang aku bersyukur masih diberi hidayah untuk berjilbab. Kira-kira setahun lebih setelah aku berjilbab, mama juga akhirnya berjilbab. Alhamdulillah.. seneng banget deh..jadilah sekarang kami sering berburu jilbab bareng..:)

Sebenernya buatku hijrah bukan hanya sekedar pake jilbab aja, lebih dari itu karena hijrah juga berarti perubahan cara berpikir, gaya hidup ke arah yang lebih baik.. dan satu hal yang hingga saat ini aku tanamkan dalam hati, bahwa hanya dengan keimanan, aku yakin kebahagiaan dan ketentraman itu bisa dicapai..dan hijrah itu sendiri ga boleh berhenti sampai pada taraf berjilbab..karena hijrah adalah sebuah proses tiada akhir..