Minggu, 30 Agustus 2020

Aliran Rasa

 Alhamdulillah 4 wahana sudah dilalui..Mulai dari wahana istana pasir, wahana surfing, wahana wake boarding, dan yang terakhir wahana diving..Melalui perjalanan 4 wahana ini, saya mendapat challenge untuk menemukan kembali siapa saya. Rasanya seperti matrikulasi, yang walaupun pernah dilalui, tetapi hasilnya berbeda. Barangkali ini yang disebut seiring berjalan waktu, pemahaman akan bertambah atau berubah. Apapun itu, Ibu Profesional tidak akan berhenti bergerak. Ibu profesional akan senantiasa belajar, berbagi, dan melayani...

Perjalanan Bunda Sayang akan dimulai..Semoga tetap istiqomah.. 




Minggu, 23 Agustus 2020

Diving : Arti Saya dan IIP

 Wahana terakhir dari rangkaian kegiatan pra Bunda Sayang adalah wahana diving. Kami diminta untuk menyelami diri kita masing-masing dan melihat kesamaan dengan IIP.

Sebelum bergabung dengan IIP, saya merasa tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Tersimpan keinginan besar  untuk resign dan fokus bekerja di ranah domestik. Sampai matrikulasi, saya masing merasa harus memperjuangkan resign saya. Dua tahun setelah matrikulasi, saya mendapati bahwa resign tidak semudah mebalikkan telapak tangan. Butuh kesiapan banyak untuk mengambul keputusan besar tersebut. di titik pra bun say ini, kami diminta mengulang kembali tugas-tugas selama matrikulasi. Hasilnya apa yang saya tuliskan saat ini, menjadi berbeda dengan apa yang saya tulis pada waktu matrikulasi. 

Pemahaman akan berjalan seiring waktu. Kali ini saya memutuskan untuk memperjuangkan profesionalitas di kedua ranah, yaitu ranah pblik dan ranah domestik. bekerja di ranah publik, tanpa abai dengan ranah domestik. Memahami betapa pentingnya saya berada di dua ranah tersebut. Mengerjakan keduanya dengan hati yang bahagia dan berbinar-binar. Yang paling penting adalah selalu berusaha meningkatkan kapasitas diri, baik kapasitas di ranah publik maupun domestik. Insya Alloh, biidznillah..


Making a Plan : Intirinary

 Wahana ketiga dalam pra Bunda Sayang adalah wahana wake boarding. Di wahana ini kami diminta menuliskan rute perjalanan tentang ilmu yang dipelajari, ditingkatkan, serta ilmu yang dapat dibagikan. Jika pada matrikulasi lalu, saya menuliskan mendalami ilmu memasak, rasanya setelah 2 tahun berlalu, ga sepenuhnya berubah arah, saya masih ingin mendalami ilmu tersebut. Tapi kali ini saya lebih realistis. pekerjaan saya di ranah publik senampakanya semakin tidak bisa dikesampingkan. Saat matrikulasi lalu, masih ada terpikir untuk resign. Dalam perjalanan waktunya, keputusan resign paling tidak sampai saat ini menjadi tidak realisitis. Jika dulu saya berpikiran, bekerja di dua ranah, pada akhirnya tidak all out di dua ranah tersbeut, kali ini saya merubah pemikiran saya untuk tetap bekerja profesional, all out, baik di ranah domestik dan ranah publik.

Jadi ilmu apa yang ingin saya pelajari? hmm.. barangkali saat ini yang pertama harus saya kuasai adalah ilmu manajemen diri. Saya harus memanage diri, menjadikan diri saya fokus dan profesional baik ketika di ranah domestik maupun publik. di ranah publik, Dengan fokus, di masing-masing ranah saya akan meningkatkan kapasitas diri saya sesuai dengan perannya. Di ranah publik, bidang pekerjaan saya berhubungan dengan finance, khususnya Islamic finance. Karenanya saya akan mendalami ilmu terkait finance sebagai bagian bagian dari peningkatan kapasitas diri saya sebagai pegawai. 

Di ranah domestik, saya masih akan tetap mendalami ilmu masak, khususnya baking. Saya pilih baking karena senampaknya kegiatan baking ini merupakan kegiatan yang membuat saya berbinar-binar :D. 

Hati yang bahagia adalah pondasi menjalani peran yang lain, setelah selesai berbahagia dengan diri saya, tak lupa sya menjalani peran saya yang lain, yaitu sebagai istri dan sebagai ibu. Sebagai istri, saya mulai lakukan di matrikulasi lalu. salah satunya dalah tidak berkeluh kesah urusan kantor. Sebelumnya cukup sukses, sampai wfh dimulai. Sejatinya wanita perlu mengelurkan 20 rb kata per hari, ya karena di rumah akhirnya suami yang kena sasaran berkeluh kesah tentang urusan kantor ini. Insya Alloh, suami sudah mengingatkan lagi untuk menahan diri dari berkeluh kesah tentang kantor.

selanjutnya untuk peran sebagai ibu, Alhamdulillah selama wfh ini menajdi salah satu keberkahan sendiri. Dari biasanya ketemu anak-anak hanya pagi dan malam, kali ini bisa sepanjang hari membersamai. Satu hal yang harus saya kerjakan, mebersamai mereka tak cukup hanya fisik, tapi juga hati. Bagian sulit dari wfh ini adalah tetap all out dengan anak-anak, tetapi all out juga dengan pekerjaan. Seringkali jadi abai ke anak. dengan manajemen yang baik, semoga semuanya bisa dikerjakan dengan all out. Bismillah..


Minggu, 09 Agustus 2020

Adab Sebelum Ilmu: Silent Reader

 Pekan ini saya memasuki wahan kedua dalam perjalan di Pulau Cahaya Bunda Sayang. Tugas kali ini adalah menceritakan internalisasi diri dalam berkomunitas berdasarkan prinsip dan CoC Ibu Profesional. Sebelumnya materi disampaikan dengan apik oleh mbak Yani dan mbak Ratna. Sejujurnya ada beberapa poin yang membuat saya tertampar. Diantaranya adalah menjadi pasif. Barangkali ini memang menjadi kelemahan saya, ga hanya berkomunitas di IP tapi hampir di semua komunitas yang saya ikuti. Bahkan dari semasa sekolah dulu, saya termasuk siswa yang pasif. Awalnya saya pikir it's okey menjadi pasif selama saya bersungguh-sungguh belajar, tapi senampaknya setelah materi CoC kemarin saya harus merubah sudut pandang saya. 

Adab sebelum ilmu. Menjawab salam widyaiswara, nampaknya hanya persoalan sepele, tapi ini merupakan salah satu contoh dari adab. Memberikan respon, ini salah lain yang sejujurnya jarang saya lakukan. Bukan karena saya merasa sudah pandai, atau menyepelekan ilmu, tapi ini adalah masalah kebiasaan. seringkali memang saya terlalu menikmati menjadi silent reader. Kebiasaan akan sulit dirubah, tapi insya Alloh saya akan bersungguh-sungguh untuk berubah. Semangat !!




Minggu, 02 Agustus 2020

Building My Best Sand Castle

Bismillahhirrohmaanirrohiim..

Membuka kembali rumah yang sudah berdebu, penuh sarang laba-laba.. Postingan terakhir saya adalah tugas matrikulasi IIP 2 tahun yang lalu, tentang menjadi saya yang profesional. Setelah berjalan 2 tahun apakah saya sudah menjadi profesional seperti yang saya harapkan waktu itu? Hmm..senampaknya tidak, atau belum.. Matrikulasi IIP sepertinya belum membuat saya menemukan saya yang sesungguhnya.. Waktu itu saya bertanya kepada fasilitator saya, kenapa saya belum menemukan saya, masih belum menemukan apa yang ingin saya lakukan dan ingin capai di univeristas kehidupan ini. Jawabannya beliau singkat, "lakukan saja, kerjakan saja dulu, seiring waktu berjalan, pemahaman akan semakin bertambah". 

Setelah lulus matrikulasi, Qodarullah saya belum bisa langsung lanjut ke kelas Bunda Sayang. Proses belajar di IIP sempat terhenti selama 2 tahun. Dan selama 2 tahun itu, saya selow menjalani dan mencari pemahaman tentang apa yang yang akan saya lakukan, apa yang ingin saya capai, untuk tujuan apa saya dilahirkan, bagaimana saya bisa berkontribusi. Dalam perjalannya, ga semudah itu mencari. Ada masa setelah matrikulasi,  banyak ilmu dan pencerahan yang saya dapat, berimplikasi pada banyak yang ingin dikerjakan, banyak yang ingin saya capai sehingga saya menetapkan target-target normatif yang pada akhirnya tetap sulit untuk dikerjakan. Pada akhirnya saya mengatakan pada diri saya, matrikulasi saya belum tuntas. Tapi saya tidak dapat berputar kembali ke titik nol atau bahkan minus, karena pilihan saya adalah maju ke depan., Walaupun dalam perjalannya, saya akan banyak berhenti, saya akan menentukan arah kembali, tapi tidak ada pilihan untuk kembali..

Juli lalu, pendaftaran kelas Bunda Sayang kembali dibuka. Alhamdulilah kali ini saya keangkut masuk. Saya percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena ada yang mengatur, dan  bagiNya ini waktu yang tepat bagi saya untuk memulai kelas Bunda Sayang. Kelas Bunda Sayang dimulai dengan kelas pra Bunda Sayang. Acaranya dikemas menarik seolah-olah peserta sedang tour di Pulau Cahaya Bunda Sayang. Ada 4 wahana selama tour ini berlangsung, yaitu wahana istana pasir, wahana surfing, wahana wake boarding, dan wahana diving. Setiap wahana akan berisi 2 materi dan 1 game. Kali ini saya sedang berada di wahana pertama, yaitu wahana istana pasir dengan game nya adalah membuat istana pasir. Disini peserta diminta untuk membangun istana pasir versi terbaik dari diri kita. Cluenya adalah peta diri, cari makna ibu profesional bagi kita.


source: kindpng.com

Bagi saya yang masih meraba-raba, jelas bingung. hahah..Tapi kembali pada poin, bahwa saya harus bergerak maju- lakukan saja, maka saya harus mulai membuat istana pasir ini dari pertanyaan, 'mengapa saya harus mengikuti perkuliahan di IIP'. Sejujurnya saya merasa skeptis sendiri ketika menjawab, saya ingin menjadi ibu profesional, ibu yang dibanggakan keluarga, menjadi istri terbaik dan menjadi pribadi yang bermanfaat. Dua tahun sejak selesai matrikulasi ini, saya merasa alasan saya menikuti perkuliah di IIP semata-mata bukan hanya untuk mencapai tujuan tersebut. Saya memahami ketika awal bergabung dengan IIP, senampaknya hanya pelarian atas kebosanan menjalani rutinitas pekerjaan. Saya merasa waktu itu, saya butuh mencari kegiatan lain. Selain itu, mungkin juga ada secuil riya' dalam diri saya, yang menginginkan pengakuan dari orang lain bahwa 'saya loh walaupun kerja di ranah publik, tapi saya tetap profesional di rumah'. Barangkali niat dan pencitraan seperti ini yang membuat matrikulasi saya tidak mendapat hasil sebagaimana diharapkan. Dan saat ini, ketika memulai kelas Bunda Sayang, saya berharap tidak akan mengulanginya lagi. 

Belakangan ini, ada pertanyaan yang cukup mengganggu buat saya, apalagi sejak pandemi bulan Mei lalu, saya mulai bekerja dari rumah. Tidak pernah kepikiran sebelumnya, bisa kerja dari rumah seperti ini. Rasanya seperti, barangkali ini jawaban dari doa dan keinginan untuk selalu membersamai anak-anak di rumah. Awalnya menyenangkan, tapi lama kelamaan, saya bisa bilang ini ga mudah, membagi beberapa fokus dalam 1 waktu. Bisanya ketika jam kantor, saya fokus dengan kantor, di rumah saya fokus dengan pekerjaan rumah. Kali ini, ketika di rumah saya harus fokus dengan pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah. hasilnya, seringkali pekerjaan rumah terbengkalai, apalagi membersamai anak-anak. Pekerjaan kantor yang terkadang menyita waktu, membuat anak-anak terkadang harus mengalah demi agar saya dapat menyelesaikan pekerjaan kantor dengan tepat waktu. Sejujurnya, saya ga ingin ada stigma, di rumah = berlibur. Karenanya saya cukup ketat memberlakukan jam kerja saya, sesuatu yang akhirnya dikeluhkan suami saya. Karena bagaimanapun juga, bekerja dari rumah itu akan berbeda dengan bekerja di kantor. Harus ada hal-hal yang dikompromikan, misalnya anak minta dikelonin tidur siang. saya harus ngalah, ngelonin dulu baru melanjutkan kerja. Pertanyaan yang muncul, kalau saya bisa mengusahakan profesional di ranah publik, kenapa justru sulit mengaplikasikan keprofesionalan di ranah domestik. Ketika setiap hari saya punya target pekerjaan kantor yang harus diselesaikan dengan tepat waktu dan sempurna, kenapa justru di ranah domestik saya terkesan asal memasang target.

Pertanyaan tersebut akan menjadi pondasi dalam istana pasir saya. saya juga sudah menyiapkan fasilitas untuk membangun istana pasir saya, yaitu waktu, mental, fisik, hati..menjadi istana seperti apa istana pasir saya, sejujurnya saat ini saya juga belum tahu. Waktu akan memberikan saya pemahaman lebih dalam dan lebih banyak dalam membangun istana pasir saya. Walaupun secara gambaran besar, saya tahu, goalnya adalah membuat saya menjadi profesional baik di ranah domestik maupun ranah publik. Bagi saya, ibu profesional adalah ibu yang dapat menjalankan profesionalisme dan peran terbaiknya,baik di ranah publik, maupun ranah domestik dengan bahagia, tanpa membuat salah satunya tersisihkan, Kedua peran dapat berjalan beriringan dengan baik. IIP akan menjadi wadah saya untuk bermetamorfosis, membenahi dan memperpaiki apa yang sudah saya lakukan, agar saya dapat hidup lebih baik dan lebih profesional. Selayaknya kepompong yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan selama menjadi kepompong, sebelum akhirnya menjadi kupu-kupu yang cantik..



"Ibu Profesional adalah ibu yang dapat menjalankan profesionalisme dan peran terbaiknya,baik di ranah publik, maupun ranah domestik dengan bahagia.."






Minggu, 04 Februari 2018

Saya dan Menjadi Saya yang Profesional

"Jadi apa yang mas harapkan dariku..? "
" mas pengennya kamu bahagia, bukan karena orang lain berubah, apalagi di kantor mu, tetapi karena kamu lebih strong, ikhlas, dan bisa menemukan kebahagiannmu sendiri"


Sepenggal percakapan via wa dengan mas yang sukses membuat saya langsung mewek. Saya berekpektasi bahwa dia mungkin akan menjawab: "aku pengen kamu masakin aku atau aku pengen kamu di rumah dandan ", atau apapunlah yang dia mau. Tidak, dia tidak egois meminta. Dia hanya ingin istrinya bahagia. Mewek lah saya..TT

Bukan tanpa sebab, ketika tiba-tiba saya menanyakan hal tersebut ke suami. Minggu ini adalah minggu kedua saya mengikuti matrikulasi Institut Ibu Profesional. Nice Home Work minggu ini adalah membuat indikator professional sebagai diri sendiri, istri, dan ibu. Indikator yang sekiranya kita bisa menjalaninya. Indikator ini dibuat dengan SMART, yaitu Specific( unik/detail)-Measurable (terukur)-Achievable (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)-Realistic (berhubungan kondisi sehari-hari)-TimeBond (terdapat batas waktu).

Sejujurnya waktu pertama kali baca tugas ini, saya pun mewek. Merasa jauuh diri ini dari kata profesional. bener-bener deh tugas kali ini banyak meweknya. Untuk menyelesaikan tugas ini, diperlukan komunikasi dengan pasangan dan anak supaya kita benar-benar  tau apa sih yang diharapkan pasangan atau anak terhadap kita.  Bagian paling sulit adalah menerjemahkan ekpektasi suami. Itulaah ketika ditanya, jawabannya seperti pada pembuka tulisan ini. Dan setelah beberapa hari merenung dan berdiskusi via wa (suami kebetulan sedang dinas ke luar kota), akhirnya diskusi bisa mengerucut dan menghasilkan beberapa poin ekpektasi suami terhadap saya. Jadi yang saya simpulkan dari perbincangan kami, profesional sebagai istri berarti menjadi sosok istri yang diharapkan suami, yaitu menjadi manusia yang bisa bahagia bukan karena orang lain berubah tapi karena lebih strong, ikhlas, dan bisa menemukan kebahagian sendiri. Menjadi seorang yang berpikiran positif dan selalu meng-upgrade ilmu. Cara untuk mencapainya adalah sebagai berikut.

a. Tidak berkeluh kesah urusan kantor minimal 5 hari dalam seminggu
b. Menjauhi pikiran dari hal - hal negatif. 
c. Membaca buku tema minimal 1 buku setiap bulan


Selanjutnya, profesional sebagai ibu.  Bagi saya, profesional sebagai ibu berarti menjadi ibu yang selalu dibutuhkan dan dirindukan anak- anak. Ini agak sulit ditanya ke anak-anak apa sih ekpektasi mereka terhadap saya sebagai ibunya karena mereka masih balita. Anak gadis 4 tahun mungkin  masih bisa menjawab, tapi jawabannya hari ini apa, besok apa :D Anak bujang 1, Alhamdulillah semua kebutuhannya sudah terpenuhi,  iykwim. Anak bujang 2 usia 2 bulan, butuhnya ASI :D.  Dan semoga saya benar dalam menerjemahkan keinginan mereka. Karena kebutuhan masing-masing anak berbeda, poin-poin untuk mencapainya tergantung pada anak tersebut. Berikut ikhtiar mencapai profesional sebagai seorang ibu:

a.Membacakan buku/cerita sebelum tidur minimal 5x dalam seminggu
b.Masak bersama minimal sebulan 2 kali
c.Tidak pegang gadget sepanjang menyusui bayi
d.Mengobrol dengan bayi sebelum kerja dan pulang kerja minimal 5 menit


Profesional yang terakhir adalah profesional menjadi diri sendiri. Seharusnya profesional ini ada di urutan nomor 1. Tapi tak apalah saya menuliskan justru di bagian akhir. Menjadi profesional, berarti menjadi manusia yang ramah, melayani dan selalu mengupgrade ilmu. Caranya:

a. Tilawah setiap hari minimal 1/2 juz
b. Senyum, sapa, salam setiap hari ke suami, anak, art 
c. Membaca buku tema minimal 1 buku setiap bulan

Sejatinya, menurut saya jika profesional diri sendiri ini adalah pondasi yang jika sudah tercapai, secara otomatis bisa menjalar ke peran yang lain, yaitu sebagai istri dan ibu. Wallahua'lam.



Jumat, 26 Januari 2018

Manusia Rata-rata

Sebenarnya sudah sejak lama saya merenungi seorang saya yang seringkali saya deskripsikan sebagai manusia rata-rata. Iya, manusia yang segala sesuatunya serba rata-rata. Tinggi rata-rata, berat badan rata-rata, keahlian rata-rata, kepandaian rata-rata. Ga ada yang menonjol sedikitpun :D Flashback ke kehidupan masa kecil, dulu saya ga pernah merasa diri saya ini rata-rata loh. I always think that i'm number one. Saya ini anak pertama, hampir segala sesuatu menjadi contoh buat adek saya yang seorangan itu. Saya hampir selalu merasa harus menjadi seorang yang sempurna. Bayangkan, hampir setiap penerimaan rapot, orang tua saya selalu tersenyum bahagia melihat nilai rapot saya yang hampir selalu bagus. Paling sering dapat peringkat 1, pernah juga dapat peringkat 2 atau 3, paling jelek seumur hidup saya ada di peringkat 8. Dan itu pun cuma sekali. Untuk mengejar itu semua, setiap malam saya diwajibkan belajar dan mengerjakan PR sekolah. Bagi saya adalah aib besar ketika tidak mengerjakan PR atau tidak sanggup mengikuti pelajaran sekolah. Rasanya sepanjang sekolah saya selalu sibuk dengan belajar, les ini, les itu. sampai akhirnya lulus SMA, saya berhasil diterima di 3 PTN plus 1 perguruan tinggi kedinasan. Luar biasa kan :D Dan untuk melengkapinya menjadi anak sempurna, saya ambil perguruan tinggi kedinasan sesuai keinginan orang tua saya. Dan jadilah saya ini sekarang menjadi  seorang kuli negara dengan gaji yang Alhamdulillah cukup untuk hidup di kota besar. Orang tua saya bangga dan bahagia melihat pencapaian saya yang lumayan ini :)

Tapiii...Nyatanya menjadi peringkat 1 aja, ternyata tidak cukup membuat saya bisa survive dalam menjalani hidup. Ketika saya mulai masuk kerja, saya cuma berprinsip saya ini pintar, tapi saya tidak pernah diajari bagaimana harus menerima arahan, kritik, dan saran atau mengahadapi orang-orang dengan beragam sifat dan karakternya. Ketika saya menikah, saya bahkan tidak bisa memasak. Lalu buat apa pula waktu itu saya selalu mengejar menjadi nomor 1. Gelar peringkat 1 itu saat ini tidak bisa membantu saya sama sekali :D. Ya, baiklah lupakan saja perihal manusia sempurna. Karena di titik ini, ketika saya baru mulai mengasah soft skill-keahlian yang seharusnya sudah saya pelajari dari jaman sekolah-, saya mendapati bahwa saya ini tidak ahli apa-apa. Saya hanya si manusia rata-rata, ingin ini, ingin itu, tapi semuanya serba tanggung. Tak pernah ditekuni dengan serius, Segalanya hanya dilakukan sepotong-sepotong. 

Yup, itu kemarin. Karena mulai hari ini saya harus mulai menekuni salah satu saja. Membuat apa yang yang saya bisa dan apa yang saya suka menjadi bermanfaat, minimal sekali untuk diri saya sendiri. Paling ga, saya bisa merasa berharga dan punya value. Percayalah, saking merasa mindernya menjadi manusia rata-rata, saya suka merasa diri saya tidak berharga :(

Jadilah, setelah merenungi dan nanya-nanya ke paksu perihal apa yang mau saya tekuni, jawaban pertamanya dan yang memang lagi ngendon di otak saya adalah masak :D. Janganpun dibayangkan dulu saya ini rajin masak dan bisa masak segala-gala. Karena di paragraf sebelumnya, sudah saya bilang, awal menikah saya ga bisa masak. Kemampuan memasak saya waktu itu sangat buruk, jauuuh dibawah kemampuan suami saya-yang memang suka masak :D. Manalah namanya memasak sebenrnya setiap ibu juga pasti bisa memasak dan masakannya pasti enak, minimal untuk keluarganya. Jadi kenapa memilih memasak, alasannya yang pertama biar ga malu-malu amat sama suami saya yang suka dan bisa masak. Yang kedua, kalo boleh jujur, sejak saya belajar masak, rasanya saya memang menikmati proses memasak itu sendiri. Saya bahagia ketika saya berhasil mencoba suatu resep masakan, saya bahagia ketika masakan saya dimakan lahap oleh dua konsumen utama saya (suami dan anak). Saya bahagia ketika ga harus jajan di luar ketika pengen makan enak :D Yang ketiga, rasanya memasak bisa jadi menjadi kegiatan yang bisa melibatkan seluruh anggota keluarga kami. Yaa, bisalah jadi quality time untuk keluarga kami. Suami suka masak, anak gadis mulai suka ngubek-ngubek dapur.dan yang jelas dia suka makanan enak. Lidah anak gadis ini cukup lumayan untuk bisa membedakan mana makanan yang enak dan yang ga enak.. :p

Nah, karena ini mau ditekuni, senampaknya saya mulai harus memanage dengan baik proses belajarnya. Caranya, pertama, skill itu diasah dengan banyak berlatih. Dan kedisiplinan dalam belajar itu adalah sebuah kewajiban.Tapi ga berarti harus masak tiap hari kan ya? :D  Iya, karena sejujurnya pun saya ga sanggup kalao tiap hari disuruh masak. Senin-Jumat rasanya sayang kalau waktu yang seuprrit itu buat ngoprek dapur, saya lebih seneng kruntelan sama para bocah. Jadilah berarti weekend itu jadwal saya masak. Dan untuk men-challenge diri serta menambah khasanah dalam dunia masak, minimal sebulan sekali saya harus nyobain menu baru.

Kedua, dicatat dan didokumentasikan dengan rapi. Secara belajar masaknya masih otodidak ya, jadi kalau mau masak itu lebih seringnya googling resep terus nyobain masak, terus udahan. Besok lagi kalo mau masak makanan yang sama gooling lagi. kadangan suka ga ketemu resep yang sebelumnya :D. Secara si amatiran ini kalo mau masak mesti buka resep dulu. Ga pede rasanya kalo main cemplung-cemplung aja. Apalagi kalo bikin sebangsa roti/cake harus pakem sama resepnya. Mulai hari ini sudah mulai harus dicatat rapi, biar-besok-besok kalo mau masak yang sama ga perlu googling lagi. Dengan didokumentasikan dengan rapi, harapannya biar bisa kelihatan progress skill memasaknya. Misal dulu pas pertama masak, dengan resep begini, hasilnya begini. Setelah masak yang kedua, diperbaiki lagi, misal cara memasak dan resepnya, hasilnya begini. Tentunya juga ga lupa kalo nyobain resep harus dicatat juga sumber resepnya dari mana, apalagi kalau mau di share.

Ketiga, mulai invest peralatan masak. Hmm ya sebenernya peralatan masak udah segambreng. Tapi ya itu, banyaknya itu karena punyanya double-double. Sebangsa wajan, panci, teflon ada beberapa. Dan jangan dikira itu karena kami suka beli peralatan masak. Barang-barang yang sampai double itu karena sebelum nikah mas udah punya beberapa peralatan masak, pas nikah dikadoinnya banyak peralatan masak. Jadinya punyanya double gitu. Tapi peralatan sebangsa mixer gitu malah ga punya :D. Makanya ini lagi diniatin invest peralatan yang belum kami punya. Dalam waktu dekat, insya Alloh pengen beli food processor. Biar bisa giling-giling daging sendiri. Kebayang udah pengen nyobain bikin rolade ..:D

Keempat, pengen banget ikut kursus. Tapi ya, kalo sekarang-sekarang ini masih eman ninggalin para bocah. Senin-Jumat udah ditinggal dari pagi sampai malem, kalo weekend masih harus ditinggal juga rasanya kasian banget. Insya Alloh kalau ada rejeki, semoga bisa kesampaian kursus atau minimal bisa belajar sama ahli :)

Perencanaannya kayaknya sudah oke, tapi apalah perencanaan tanpa dikerjakan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Insya Alloh, atas ijin Alloh semoga niatan hati untuk mengasah skill ini mendapat ridho Alloh. Penting amat ya, nulis pengen masak gini sampe ditulis berpargraf-paragraf. Penting amat pula gitu ya, pengen seiusan masak, yang yakinlah sebagain besar orang juga bisa.. Tak apalah, dengan ditulis begini, kalau suatu saat saya di kemudian hari lupa bahwa hari ini saya pernah berazzam seperti ini, maka saya akan ingat dan semoga kembali lurus di niatin ini. Aamiin.

Btw, besok udah weekend. Belum ada rencana buat nyobain resep baru. Baru berencana mengolah stok iga yang ada untuk dibuat iga bakar. Sama udah lama sih rencana pengen buat cinnamon roll. Tapi kalo yang kedua ini, masih diliat waktunya nanti. :P