Perjalanan Bunda Sayang akan dimulai..Semoga tetap istiqomah..
Minggu, 30 Agustus 2020
Minggu, 23 Agustus 2020
Diving : Arti Saya dan IIP
Wahana terakhir dari rangkaian kegiatan pra Bunda Sayang adalah wahana diving. Kami diminta untuk menyelami diri kita masing-masing dan melihat kesamaan dengan IIP.
Sebelum bergabung dengan IIP, saya merasa tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Tersimpan keinginan besar untuk resign dan fokus bekerja di ranah domestik. Sampai matrikulasi, saya masing merasa harus memperjuangkan resign saya. Dua tahun setelah matrikulasi, saya mendapati bahwa resign tidak semudah mebalikkan telapak tangan. Butuh kesiapan banyak untuk mengambul keputusan besar tersebut. di titik pra bun say ini, kami diminta mengulang kembali tugas-tugas selama matrikulasi. Hasilnya apa yang saya tuliskan saat ini, menjadi berbeda dengan apa yang saya tulis pada waktu matrikulasi.
Pemahaman akan berjalan seiring waktu. Kali ini saya memutuskan untuk memperjuangkan profesionalitas di kedua ranah, yaitu ranah pblik dan ranah domestik. bekerja di ranah publik, tanpa abai dengan ranah domestik. Memahami betapa pentingnya saya berada di dua ranah tersebut. Mengerjakan keduanya dengan hati yang bahagia dan berbinar-binar. Yang paling penting adalah selalu berusaha meningkatkan kapasitas diri, baik kapasitas di ranah publik maupun domestik. Insya Alloh, biidznillah..
Making a Plan : Intirinary
Wahana ketiga dalam pra Bunda Sayang adalah wahana wake boarding. Di wahana ini kami diminta menuliskan rute perjalanan tentang ilmu yang dipelajari, ditingkatkan, serta ilmu yang dapat dibagikan. Jika pada matrikulasi lalu, saya menuliskan mendalami ilmu memasak, rasanya setelah 2 tahun berlalu, ga sepenuhnya berubah arah, saya masih ingin mendalami ilmu tersebut. Tapi kali ini saya lebih realistis. pekerjaan saya di ranah publik senampakanya semakin tidak bisa dikesampingkan. Saat matrikulasi lalu, masih ada terpikir untuk resign. Dalam perjalanan waktunya, keputusan resign paling tidak sampai saat ini menjadi tidak realisitis. Jika dulu saya berpikiran, bekerja di dua ranah, pada akhirnya tidak all out di dua ranah tersbeut, kali ini saya merubah pemikiran saya untuk tetap bekerja profesional, all out, baik di ranah domestik dan ranah publik.
Jadi ilmu apa yang ingin saya pelajari? hmm.. barangkali saat ini yang pertama harus saya kuasai adalah ilmu manajemen diri. Saya harus memanage diri, menjadikan diri saya fokus dan profesional baik ketika di ranah domestik maupun publik. di ranah publik, Dengan fokus, di masing-masing ranah saya akan meningkatkan kapasitas diri saya sesuai dengan perannya. Di ranah publik, bidang pekerjaan saya berhubungan dengan finance, khususnya Islamic finance. Karenanya saya akan mendalami ilmu terkait finance sebagai bagian bagian dari peningkatan kapasitas diri saya sebagai pegawai.
Di ranah domestik, saya masih akan tetap mendalami ilmu masak, khususnya baking. Saya pilih baking karena senampaknya kegiatan baking ini merupakan kegiatan yang membuat saya berbinar-binar :D.
Hati yang bahagia adalah pondasi menjalani peran yang lain, setelah selesai berbahagia dengan diri saya, tak lupa sya menjalani peran saya yang lain, yaitu sebagai istri dan sebagai ibu. Sebagai istri, saya mulai lakukan di matrikulasi lalu. salah satunya dalah tidak berkeluh kesah urusan kantor. Sebelumnya cukup sukses, sampai wfh dimulai. Sejatinya wanita perlu mengelurkan 20 rb kata per hari, ya karena di rumah akhirnya suami yang kena sasaran berkeluh kesah tentang urusan kantor ini. Insya Alloh, suami sudah mengingatkan lagi untuk menahan diri dari berkeluh kesah tentang kantor.
selanjutnya untuk peran sebagai ibu, Alhamdulillah selama wfh ini menajdi salah satu keberkahan sendiri. Dari biasanya ketemu anak-anak hanya pagi dan malam, kali ini bisa sepanjang hari membersamai. Satu hal yang harus saya kerjakan, mebersamai mereka tak cukup hanya fisik, tapi juga hati. Bagian sulit dari wfh ini adalah tetap all out dengan anak-anak, tetapi all out juga dengan pekerjaan. Seringkali jadi abai ke anak. dengan manajemen yang baik, semoga semuanya bisa dikerjakan dengan all out. Bismillah..
Minggu, 09 Agustus 2020
Adab Sebelum Ilmu: Silent Reader
Pekan ini saya memasuki wahan kedua dalam perjalan di Pulau Cahaya Bunda Sayang. Tugas kali ini adalah menceritakan internalisasi diri dalam berkomunitas berdasarkan prinsip dan CoC Ibu Profesional. Sebelumnya materi disampaikan dengan apik oleh mbak Yani dan mbak Ratna. Sejujurnya ada beberapa poin yang membuat saya tertampar. Diantaranya adalah menjadi pasif. Barangkali ini memang menjadi kelemahan saya, ga hanya berkomunitas di IP tapi hampir di semua komunitas yang saya ikuti. Bahkan dari semasa sekolah dulu, saya termasuk siswa yang pasif. Awalnya saya pikir it's okey menjadi pasif selama saya bersungguh-sungguh belajar, tapi senampaknya setelah materi CoC kemarin saya harus merubah sudut pandang saya.
Adab sebelum ilmu. Menjawab salam widyaiswara, nampaknya hanya persoalan sepele, tapi ini merupakan salah satu contoh dari adab. Memberikan respon, ini salah lain yang sejujurnya jarang saya lakukan. Bukan karena saya merasa sudah pandai, atau menyepelekan ilmu, tapi ini adalah masalah kebiasaan. seringkali memang saya terlalu menikmati menjadi silent reader. Kebiasaan akan sulit dirubah, tapi insya Alloh saya akan bersungguh-sungguh untuk berubah. Semangat !!
Minggu, 02 Agustus 2020
Building My Best Sand Castle
"Ibu Profesional adalah ibu yang dapat menjalankan profesionalisme dan peran terbaiknya,baik di ranah publik, maupun ranah domestik dengan bahagia.."
![]() |
Minggu, 04 Februari 2018
Saya dan Menjadi Saya yang Profesional
"Jadi apa yang mas harapkan dariku..? "
" mas pengennya kamu bahagia, bukan karena orang lain berubah, apalagi di kantor mu, tetapi karena kamu lebih strong, ikhlas, dan bisa menemukan kebahagiannmu sendiri"
Jumat, 26 Januari 2018
Manusia Rata-rata
Tapiii...Nyatanya menjadi peringkat 1 aja, ternyata tidak cukup membuat saya bisa survive dalam menjalani hidup. Ketika saya mulai masuk kerja, saya cuma berprinsip saya ini pintar, tapi saya tidak pernah diajari bagaimana harus menerima arahan, kritik, dan saran atau mengahadapi orang-orang dengan beragam sifat dan karakternya. Ketika saya menikah, saya bahkan tidak bisa memasak. Lalu buat apa pula waktu itu saya selalu mengejar menjadi nomor 1. Gelar peringkat 1 itu saat ini tidak bisa membantu saya sama sekali :D. Ya, baiklah lupakan saja perihal manusia sempurna. Karena di titik ini, ketika saya baru mulai mengasah soft skill-keahlian yang seharusnya sudah saya pelajari dari jaman sekolah-, saya mendapati bahwa saya ini tidak ahli apa-apa. Saya hanya si manusia rata-rata, ingin ini, ingin itu, tapi semuanya serba tanggung. Tak pernah ditekuni dengan serius, Segalanya hanya dilakukan sepotong-sepotong.
Kedua, dicatat dan didokumentasikan dengan rapi. Secara belajar masaknya masih otodidak ya, jadi kalau mau masak itu lebih seringnya googling resep terus nyobain masak, terus udahan. Besok lagi kalo mau masak makanan yang sama gooling lagi. kadangan suka ga ketemu resep yang sebelumnya :D. Secara si amatiran ini kalo mau masak mesti buka resep dulu. Ga pede rasanya kalo main cemplung-cemplung aja. Apalagi kalo bikin sebangsa roti/cake harus pakem sama resepnya. Mulai hari ini sudah mulai harus dicatat rapi, biar-besok-besok kalo mau masak yang sama ga perlu googling lagi. Dengan didokumentasikan dengan rapi, harapannya biar bisa kelihatan progress skill memasaknya. Misal dulu pas pertama masak, dengan resep begini, hasilnya begini. Setelah masak yang kedua, diperbaiki lagi, misal cara memasak dan resepnya, hasilnya begini. Tentunya juga ga lupa kalo nyobain resep harus dicatat juga sumber resepnya dari mana, apalagi kalau mau di share.
Ketiga, mulai invest peralatan masak. Hmm ya sebenernya peralatan masak udah segambreng. Tapi ya itu, banyaknya itu karena punyanya double-double. Sebangsa wajan, panci, teflon ada beberapa. Dan jangan dikira itu karena kami suka beli peralatan masak. Barang-barang yang sampai double itu karena sebelum nikah mas udah punya beberapa peralatan masak, pas nikah dikadoinnya banyak peralatan masak. Jadinya punyanya double gitu. Tapi peralatan sebangsa mixer gitu malah ga punya :D. Makanya ini lagi diniatin invest peralatan yang belum kami punya. Dalam waktu dekat, insya Alloh pengen beli food processor. Biar bisa giling-giling daging sendiri. Kebayang udah pengen nyobain bikin rolade ..:D
Keempat, pengen banget ikut kursus. Tapi ya, kalo sekarang-sekarang ini masih eman ninggalin para bocah. Senin-Jumat udah ditinggal dari pagi sampai malem, kalo weekend masih harus ditinggal juga rasanya kasian banget. Insya Alloh kalau ada rejeki, semoga bisa kesampaian kursus atau minimal bisa belajar sama ahli :)
Perencanaannya kayaknya sudah oke, tapi apalah perencanaan tanpa dikerjakan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Insya Alloh, atas ijin Alloh semoga niatan hati untuk mengasah skill ini mendapat ridho Alloh. Penting amat ya, nulis pengen masak gini sampe ditulis berpargraf-paragraf. Penting amat pula gitu ya, pengen seiusan masak, yang yakinlah sebagain besar orang juga bisa.. Tak apalah, dengan ditulis begini, kalau suatu saat saya di kemudian hari lupa bahwa hari ini saya pernah berazzam seperti ini, maka saya akan ingat dan semoga kembali lurus di niatin ini. Aamiin.
Btw, besok udah weekend. Belum ada rencana buat nyobain resep baru. Baru berencana mengolah stok iga yang ada untuk dibuat iga bakar. Sama udah lama sih rencana pengen buat cinnamon roll. Tapi kalo yang kedua ini, masih diliat waktunya nanti. :P



